UMKM
Sabtu, 13 Juni 2026 21:09 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

SOLO (Soloaja.co) – Masalah gizi dan kesehatan anak di Indonesia masih menjadi tantangan besar, mulai dari kerentanan terhadap penyakit, rendahnya nafsu makan, hingga berat badan yang sulit naik. Kondisi tersebut kerap memicu gejala lemas dan kurang fokus pada anak saat mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Menjawab persoalan asupan nutrisi harian ini, inovasi lokal berupa Nutricefit Madu resmi diluncurkan sebagai solusi praktis pemenuhan gizi dasar anak secara menyeluruh.
Formulasi Nutricefit Madu dirancang khusus oleh tenaga kesehatan alumnus University of Technology Sydney, Australia, Ns. Tomy Prasetyo, S.Kep., BN., RN., M.Kep.
Produk ini mengombinasikan bahan-bahan alami seperti madu hutan, albumin ikan gabus, ekstrak kelor, dan temulawak. Kombinasi tersebut berfungsi menjaga stamina anak, mendukung imunitas, serta melancarkan pencernaan.
"Untuk menyesuaikan dengan selera anak-anak, suplemen ini hadir dengan varian rasa stroberi alami yang dikemas dalam bentuk stik saset praktis ukuran 12 gram, serta telah mengantongi sertifikasi BPOM dan Halal." Kata Tomy, ditemui dalam acara bisnis matching yang digelar SOLEC dalam event UMKM vaganza di Red Chili Hotel Solo, Sabtu (13/06).
Menariknya, kehadiran produk herbal yang pernah menyabet *Gold Award* dalam ajang kompetisi produk inovasi skala Asia di Malaysia pada Agustus 2025 lalu ini, juga diproyeksikan untuk mengawal Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah.
Tomy Prasetyo yang merupakan warga Kerten, Solo, sekaligus pernah mendalami ilmu herbal di Prince of Songkla University, Thailand, menyoroti adanya fenomena "kebocoran gizi" di lapangan.
Fenomena ini merujuk pada adanya porsi makanan program MBG di sejumlah sekolah yang tidak habis dikonsumsi oleh anak-anak, sehingga zat gizi yang disiapkan pemerintah terbuang sia-sia.
Nutricefit Madu hadir untuk menjembatani masalah tersebut dari sisi penerima manfaat lewat dua cara utama. Pertama, kandungan temulawak di dalamnya bekerja merangsang nafsu makan sehingga probabilitas anak untuk menghabiskan porsi makanan MBG menjadi lebih tinggi.
Kedua, asupan albumin ikan gabus dan madu hutan membantu menjaga fokus belajar dan pemulihan energi, agar anak tidak cepat merasa bosan atau meninggalkan makanannya akibat kondisi tubuh yang lemas.
Melalui konsumsi satu saset per hari, inovasi ini tidak diplot untuk menggantikan menu utama MBG, melainkan mengoptimalkan penyerapan nutrisi dari makanan yang disediakan oleh negara.
"Nutricefit Madu sudah masuk di beberapa SPPG sebagai asupan gizi tambahan untuk siswa, kami berharap bisa mendukung program. Gizi sehat anak bangsa dengan Nutricefit Madu," Imbuh Tomy.
Sinergi antara program pemenuhan pangan dari pemerintah dan suplemen pendukung ini diharapkan mampu menekan angka sisa makanan di sekolah, sekaligus mendorong pertumbuhan generasi muda Indonesia yang lebih sehat dan siap belajar.
Bagikan