Menteri PU Sidak Proyek Sekolah Rakyat Sukoharjo, Tahun Ajaran Baru Siap Dibuka

Senin, 15 Juni 2026 21:37 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1001778569.jpg
Menteri PU sidak pembangunan Sekolah Rakyat Sukoharjo (Soloaja)

SUKOHARJO (Soloaja.co) — Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, melakukan inspeksi mendadak ke lokasi proyek pembangunan Sekolah Rakyat (SR) di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Minggu (14/6) malam. Sidak ini dilakukan guna memastikan kesiapan infrastruktur pendidikan yang ditargetkan dapat digunakan saat dimulainya Tahun Ajaran Baru 2026-2027 pada pertengahan Juli mendatang.

Di tengah kunjungannya, Menteri Dody menyoroti keberhasilan proyek SR Sukoharjo yang kini telah masuk ke dalam "zona hijau" atau sesuai target perencanaan. Padahal, proyek ini sempat terhambat akibat kerusakan jalan desa yang dilalui kendaraan berat proyek.

"Hampir di semua tempat yang menggunakan akses publik selalu menemui kendala serupa. Jalan desa atau kabupaten biasanya bukan jalan yang layak dilewati alat berat. Oleh karena itu, para penyedia jasa (kontraktor) memang harus mengeluarkan upaya ekstra, semacam CSR, untuk menyiapkan atau memperbaiki jalan kerjanya terlebih dahulu," ujar Dody saat diwawancarai di lokasi proyek.

Menteri Dody memaparkan bahwa secara rata-rata nasional, progres pembangunan Sekolah Rakyat di berbagai wilayah Indonesia telah menyentuh angka 78 persen. Fokus utama Kementerian PU saat ini adalah memastikan gedung-gedung utama, yakni tingkat SD, SMP, dan SMA, bisa fungsional. Khusus untuk pekerjaan di Sukoharjo, Menteri Dody menargetkan kesiapan fisik bisa mencapai lebih dari 90 persen saat target waktu tersebut tiba.

"Kita tetap optimistis. Minimum gedung SD, SMP, dan SMA bisa kita selesaikan dulu agar adik-adik bisa masuk ke sekolah yang baru di tahun ajaran baru pada Juli nanti. Kalaupun ada beberapa tempat yang belum 100 persen tuntas, minimal harus sudah fungsional," tegasnya.

Menariknya, dalam inspeksi tersebut, Menteri Dody memiliki cara tersendiri untuk mengecek kualitas proyek dengan langsung meninjau area belakang bangunan. "Saya biasanya melihat bagian paling akhir untuk mengecek di mana letak masalahnya. Kalau di depan kan tidak kelihatan, di belakang baru ketahuan kondisinya seperti apa," jelasnya.

Saat mengecek area tersebut, para pekerja bangunan langsung berceletuk dan berjanji akan merampungkan proyek tepat waktu. "Kami selesaikan pekerjaan sesuai target," ujar mereka kompak yang langsung direspons Menteri Dody dengan ucapan terima kasih dan acungan jempol.

Lebih lanjut, Dody memetakan perbedaan tantangan di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa. Di Sukoharjo dan wilayah Jawa lainnya, tantangan terbesar berada pada fase arsitektural dan finishing yang membutuhkan detail serta tenaga kerja terampil. Sementara di luar Jawa, kendala utamanya adalah akses jalan logistik dari pelabuhan atau bandara ke titik lokasi.

Pembangunan masif Sekolah Rakyat ini merupakan amanat langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk memutus rantai kemiskinan ekstrem melalui jalur pendidikan. Sekolah Rakyat dirancang dengan sistem boarding school (sekolah berasrama) yang diperuntukkan bagi keluarga prasejahtera.

"Sesuai arahan Pak Presiden, cara paling gampang memutus kemiskinan ekstrem adalah dengan menyekolahkan putra-putri mereka. Bapak ibunya mungkin petani atau buruh, tapi anak-anaknya bisa jadi sarjana dan sukses. Semuanya gratis; asrama, baju, alat tulis, hingga laptop diberikan," papar Menteri Dody.

Sementara itu, Project Manager Sekolah Rakyat 2 Kabupaten Sukoharjo, Mochammad Safirul Kamil, mengungkapkan bahwa per tanggal 14 Juni, progres fisik pembangunan telah menyentuh angka 82,46 persen. Pihaknya optimistis sisa pengerjaan akan tuntas dalam waktu dekat.

"Kami masih optimistis sampai dengan tanggal 20 Juni bisa selesai, dan fungsional pada tanggal 1 Juli agar adik-adik kita bisa segera melakukan kegiatan belajar mengajar di sini," ujar Safirul.

Untuk mengejar sisa target penyelesaian, manajemen proyek mengerahkan sebanyak 800 pekerja yang terdiri dari 300 tenaga kerja lokal dan 500 pekerja non-lokal. Seluruh pekerja tersebut dibagi ke dalam tiga sif setiap harinya untuk mengejar target intervensi fisik hingga pukul 12 malam.