Mengenang Sejarah, Bupati Agus Irawan Ikuti Niti Tilas dan Kirab Obor

Jumat, 05 Juni 2026 09:32 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1001742059.jpg
Bupati Boyolali dan wakil Bupati dalam rangkaian acara HUT ke 179 Boyolali (Soloaja)

BOYOLALI (Soloaja.co) – Kabupaten Boyolali, menggelar acara niti tilas dan kirab obor sebagai bagian dari peringatan Hari Jadi ke-179 Kabupaten Boyolali pada Kamis malam (4/6). Kegiatan ini menjadi salah satu ritual tahunan yang sarat akan makna sejarah dan kebudayaan lokal, dipimpin langsung oleh Bupati Boyolali Agus Irawan. 

Prosesi niti tilas dan kirab obor ini dimulai dari Pendhopo Alit Rumah Dinas Bupati menuju Kali Pepe. Rombongan kirab tampil anggun diawali oleh pasukan bregada, disusul visualisasi sosok Ki Ageng Pandanaran, serta 22 camat se-Kabupaten Boyolali yang berjalan beriringan sambil membawa obor menyala. 

Prosesi sakral di Kali Pepe tersebut kemudian ditutup dengan penyulutan obor utama yang diserahkan oleh perwakilan Pemerintah Daerah kepada Bupati Boyolali.

Ditemui usai prosesi, Bupati Agus Irawan menegaskan bahwa agenda ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya merawat ingatan kolektif masyarakat terhadap asal-usul daerah.

"Ini salah satu kegiatan yang selalu kita lakukan dari tahun ke tahun, salah satunya untuk mengenang sejarah nama sekaligus berdirinya Kabupaten Boyolali," ujar Agus Irawan.

Melalui agenda niti tilas ini, ia berharap seluruh elemen masyarakat maupun jajaran pemerintahan dapat terus menghargai jasa para pahlawan dan sesepuh pendahulu.

"Harapannya kita selalu bisa mengenang jasa para pahlawan, para sesepuh kita semuanya dan juga tentunya harapannya agar mendapat berkah, barokah untuk kemajuan serta tentunya yang lebih baik lagi ke depan," imbuhnya.

Sejarah di Balik Nama Boyolali

Berdasarkan catatan sejarah resmi Pemerintah Kabupaten Boyolali, tradisi ini merujuk pada kisah perjalanan spiritual Ki Ageng Pandanaran. Kala itu, beliau diutus untuk melakukan syiar agama Islam menuju wilayah Gunung Jabalakat di Tembayat, Klaten.

Dalam perjalanannya dari Semarang menuju Tembayat, Ki Ageng menemui banyak rintangan dan batu sandungan sebagai ujian. Akibat berjalan cukup jauh, beliau sempat terpisah dan meninggalkan anak serta istrinya di belakang.

Sembari menunggu keluarga mengejar posisinya, Ki Ageng memilih beristirahat di sebuah batu besar yang terletak di tengah sungai. Dalam kesendiriannya itu, Ki Ageng bergumam, "baya wis lali wong iki" yang berarti "sudah lupakah orang ini". Dari frasa Baya Wis Lali itulah, kelak kawasan tersebut dinamai Boyolali.

Simbol Semangat dan Dongkrak Wisata Budaya

Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Boyolali, Budi Prasetyaningsih, menjelaskan bahwa keberadaan obor dalam kirab tersebut memiliki simbolisme mendalam terkait etos kerja masyarakat.
"Makna obor tentunya itu semangat yang luar biasa untuk Boyolali," kata Budi.

Ia juga tidak menampik bahwa agenda budaya seperti ini memiliki daya tarik pariwisata yang kuat dan relevan dengan visi pembangunan daerah saat ini.

"Jelas, ini adalah wisata budaya. Jadi kan di situ ada unsur merawat tradisi, salah satunya adalah niti tilas, yang kemudian memoles potensi sesuai dengan tema dari Hari Jadi ke-179," pungkas Budi Prasetyaningsih.

Melalui kemasan wisata berbasis tradisi ini, Pemerintah Kabupaten Boyolali optimistis dapat memperkuat rasa cinta warga terhadap sejarah daerah, sekaligus memantik kunjungan wisatawan yang berdampak langsung pada perputaran ekonomi masyarakat setempat.