Melirik Bisnis Bebek Petelur Organik Barata Raih Omzet Puluhan Juta

Senin, 15 Juni 2026 14:09 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1001779895.jpg
Peternakan Bebek organik Barata di desa Blulukan Colomadu Karanganyar (Soloaja)

KARANGANYAR (Soloaja.co) - Peluang bisnis melalui penguatan ketahanan pangan lokal mulai dilirik oleh generasi milenial. Hal ini dibuktikan oleh Anggit, seorang pemudi warga Blulukan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar. Berbekal modal nekat dan belajar secara otodidak, ia sukses mengembangkan peternakan bebek petelur bernama "Barata" di daerah tempat tinggalnya.

Anggit memilih sektor peternakan bebek petelur dengan konsep bisnis harian karena perputaran modal antara biaya pakan dan hasil produksi telur bisa diakumulasikan setiap hari. Konsep ini dinilai lebih cepat menghasilkan perputaran uang dibanding bisnis bulanan seperti ternak kambing atau budidaya lele.

Usaha yang baru berjalan selama tiga bulan sejak momen bulan puasa lalu ini terus menunjukkan tren positif. Memanfaatkan lahan di tengah sawah, Anggit menyewa sebuah bekas gudang untuk disulap menjadi rumah ternak yang ideal.

"Awalnya di bulan pertama kami belajar dengan 300 ekor bebek. Setelah produktivitas telurnya mencapai 50 persen dan perputaran uangnya stabil, kami tambah lagi 300 ekor. Saat ini total populasi di kandang mencapai 600 ekor," ujar Anggit kepada Jateng Pos, Senin (15/6).

Dalam mengelola operasional, Anggit menerapkan rumus ideal untuk menjaga produktivitas. Setiap sekat kandang berukuran 5x5 meter diisi maksimal 75 ekor bebek, dengan perhitungan kapasitas tiga ekor per meter persegi. Pengaturan ini penting agar kotoran tidak cepat menumpuk, kadar amoniak tetap rendah, dan pakan tidak rusak.

Saat ini, tingkat produktivitas telur berada di angka 75 persen atau menghasilkan sekitar 450 butir per hari, dan ditargetkan mampu menembus angka 80 persen dalam waktu dekat. Berdasarkan laporan pembukuan pada bulan Mei kemarin, Peternakan Bebek Barata berhasil memproduksi hingga 12.000 butir telur.

Anggit sengaja menghindari jalur distribusi ke pengepul besar atau tengkulak. Ia lebih memilih memasok langsung ke perajin telur asin atau konsumen akhir dengan harga Rp1.800 hingga Rp2.000 per butir tergantung ukuran.

Dengan total produksi harian tersebut, omzet yang didapat mencapai kisaran Rp24 juta per bulan. Setelah dikurangi biaya operasional dan pakan sekitar Rp15 juta hingga Rp16 juta, usaha ini sudah menghasilkan keuntungan bersih harian. Anggit memproyeksikan modal awal usahanya akan kembali penuh (break-even point) dalam waktu lima bulan.

Bebek petelur ini memiliki masa produktif selama satu setengah tahun. Setelah masa bertelur habis, bebek akan dijual sebagai bebek pedaging dengan harga kisaran Rp50.000 per ekor sebagai keuntungan tambahan di akhir periode produksi.

"Telur bebek yang kami hasilkan masuk kategori organik karena kami menjaga pakan dan hasil dengan kualitas bagus. Semoga usaha kami juga bisa menginspirasi pemuda lain untuk tidak malu menjadi peternak," tandas Anggit.

Dalam menjalankan operasional harian, Anggit dibantu oleh dua orang pekerja, salah satunya Alyas Pasti Khomeini yang bertindak sebagai pengelola kandang. Alyas yang sebelumnya bekerja merawat burung ternak mengaku pekerjaannya saat ini cukup sederhana dan tidak menguras terlalu banyak tenaga.

Setiap pagi dan sore, Alyas bertugas membersihkan area kandang, memberi makan, serta memastikan ketersediaan air minum. Setelah itu, ia memanen telur, membersihkannya, dan memilah berdasarkan ukuran besar dan kecil. Untuk mengantisipasi telur mentah yang tidak langsung terjual dalam waktu lima hari, Alyas juga mengolahnya menjadi telur asin sebagai alternatif varian produk matang yang siap dipasarkan.