finansial
Rabu, 25 Februari 2026 09:52 WIB
Penulis:Redaksi Daerah
Editor:Redaksi Daerah

JAKARTA – Ketertarikan masyarakat terhadap pola makan sehat kian bertambah, termasuk dalam hal mengonsumsi sayuran organik yang tidak terpapar pestisida kimia. Perkembangan ini menghadirkan peluang bisnis baru, terutama bagi anak muda yang ingin terlibat di bidang agribisnis modern dengan pendekatan yang lebih ramah lingkungan.
Mengutip NASA Organic, Kamis, 19 Februari 2026, sebuah studi yang dipublikasikan pada 2016 di Jurnal Penelitian Alam menyatakan bahwa sistem pertanian organik mampu menghasilkan bahan pangan dengan nilai gizi yang sebanding, bahkan pada beberapa aspek dinilai lebih unggul dibandingkan pertanian konvensional.
Selain itu, produk organik disebut memiliki kadar residu pestisida yang jauh lebih rendah atau bahkan tidak terdeteksi sama sekali, serta membawa dampak sosial yang lebih positif. Riset tersebut juga meninjau berbagai indikator keberlanjutan untuk membandingkan praktik pertanian organik dan konvensional.
Temuan ini menunjukkan bahwa pertanian organik dinilai lebih efektif dalam menyeimbangkan empat aspek utama keberlanjutan, yakni produksi, lingkungan, ekonomi, dan sosial, dibandingkan sistem pertanian konvensional.
Selain itu, sayuran organik juga memiliki prospek menjanjikan karena konsumen kini semakin sadar terhadap kualitas pangan dan keamanan produk yang dikonsumsi. Bisnis sayuran organik dapat dimulai dari skala kecil, bahkan dari pekarangan rumah, asalkan dikelola dengan perencanaan yang tepat.
Sebelum memulai, pelaku usaha perlu memahami apa yang dimaksud dengan sayuran organik. Produk organik ditanam tanpa pupuk dan pestisida kimia sintetis. Dalam hal ini, seluruh proses budidaya harus menggunakan bahan alami. Pemahaman ini penting dilakukan agar kualitas produk sesuai ekspektasi pasar dan tidak menimbulkan klaim yang menyesatkan konsumen.
Modal tidak hanya untuk membeli benih, tetapi juga media tanam, pupuk organik, peralatan penyiraman, hingga kemasan. Perencanaan biaya harus rinci agar arus kas usaha tetap sehat. Untuk skala rumahan, kebutuhan modal dapat disesuaikan dengan luas lahan dan jenis tanaman yang dipilih.
Usaha ini bisa dilakukan di lahan tanah langsung maupun dengan sistem hidroponik. Sistem tersebut menjadi pilihan populer bagi anak muda karena memiliki nilai praktis dan cocok untuk lahan yang terbatas. Selain itu, hidroponik juga cenderung bersih dan mudah dikelola.
Bagi pemula, Anda disarankan memilih sayuran berumur pendek seperti bayam, kangkung, selada, atau sawi. Tanaman ini relatif mudah dirawat dan memiliki masa panen yang cepat, sehingga perputaran modal terjadi secara singkat.
Untuk mengusung konsep organik, pupuk yang digunakan sebaiknya berasal dari kompos atau pupuk kandang. Jika memilih jenis hama, Anda dapat menggunakan pestisida alami dari bahan seperti bawang putih atau daun mimba. Cara ini menjaga kualitas tanaman tetap alami sekaligus menekan biaya produksi.
Konsumen sayur organik umumnya lebih selektif dalam memilih bahan baku. Oleh karena itu, kualitas daun, kesegaran, dan kebersihan produk harus dijaga. Proses panen dan penyimpanan perlu dilakukan secara hati-hati agar produk tetap segar saat sampai ke tangan pembeli.
Selain menjual di pasar tradisional maupun fresh market, pemasaran dapat dilakukan melalui media sosial dan marketplace. Strategi ini efektif menjangkau konsumen muda yang terbiasa berbelanja secara online. Anda, dapat membuat kemasan yang rapi dan memberikan informasi produk yang jelas untuk meningkatkan kepercayaan pembeli.
Dengan perencanaan matang dan strategi pemasaran yang tepat, bisnis sayuran organik tidak hanya menjanjikan keuntungan finansial, tetapi juga berkontribusi pada pola konsumsi yang lebih sehat dan berkelanjutan. Bagi generasi muda, sektor ini menjadi peluang usaha yang relevan dengan tren gaya hidup modern sekaligus ramah lingkungan.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Maharani Dwi Puspita Sari pada 23 Feb 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 25 Feb 2026
Bagikan