Haul
Sabtu, 31 Oktober 2026 12:33 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Kusumawati

SOLO (Soloaja.co) – Suasana Pendopo Kecamatan Pasarkliwon tampak meriah pada Sabtu (31/10/2026) pagi melalui penyelenggaraan Festival Dolanan Bocah Kecamatan Pasarkliwon. Kegiatan ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengenal, mencoba, sekaligus melestarikan permainan tradisional sebagai bagian dari warisan budaya Nusantara.
Festival dibuka secara simbolis oleh Bunda Literasi Kota Surakarta, Venessa Winastesia, didampingi Camat Pasarkliwon dan Bunda Literasi Kelurahan. Kegiatan ini melibatkan 10 kelurahan di Kecamatan Pasarkliwon, yakni Sangkrah, Kauman, Kampung Baru, Mojo, Joyosuran, Kedung Lumbu, Pasarkliwon, Semanggi, Baluwarti, dan Gajahan.
Masing-masing kelurahan turut memeriahkan kegiatan melalui penampilan yang berlangsung sejak pagi hingga siang hari. Rangkaian acara diawali dengan penampilan dari masing masing Kelurahan. Kemeriahan juga dilengkapi dengan pertunjukan sulap sebagai hiburan bagi para peserta dan pengunjung.
Berbagai dolanan bocah yang dihadirkan tidak sekadar menjadi sarana hiburan, tetapi juga mengandung nilai edukasi bagi anak-anak, mulai dari kerja sama, sportivitas, kreativitas, ketangkasan, hingga kemampuan bersosialisasi. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan tingginya interaksi anak dengan permainan digital, festival ini hadir sebagai upaya memperkenalkan kembali pengalaman bermain yang mengedepankan interaksi langsung dan kebersamaan.
Salah satu kegiatan yang menarik perhatian pengunjung adalah lomba perahu othok-othok. Permainan tradisional tersebut menghadirkan pengalaman tersendiri bagi anak-anak untuk mengenal mainan sederhana yang menjadi kenangan lintas generasi.
Bunda Literasi Kota Surakarta, Venessa Winastesia, menyampaikan bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan anak-anak, salah satunya melalui permainan tradisional. Menurutnya, dolanan bocah memiliki nilai lebih dari sekadar permainan karena memuat pembelajaran mengenai kebersamaan, kreativitas, interaksi sosial, serta pengenalan budaya lokal.
"Melalui kegiatan seperti ini, anak-anak tidak hanya mengenal nama permainan tradisional, tetapi juga bisa merasakan langsung keseruannya. Harapannya, dolanan bocah tetap hidup dan menjadi bagian dari keseharian anak-anak, sehingga budaya yang diwariskan oleh generasi sebelumnya tidak hilang begitu saja," ungkap Venessa.
Selain festival permainan tradisional, kegiatan ini juga dirangkai dengan peluncuran program Widuri ing Pawon (Wedangan eDUkasi literasi ning Kecamatan Pasarkliwon) dan Pengabdi Pawon Ibu. Kedua program tersebut menjadi langkah nyata untuk menghadirkan ruang edukasi dan literasi yang lebih dekat dengan masyarakat, khususnya melalui lingkungan keluarga dan pemberdayaan perempuan.
Camat Pasarkliwon menegaskan bahwa Festival Dolanan Bocah tidak hanya menjadi agenda hiburan anak semata, melainkan wadah untuk memperkuat keterlibatan masyarakat dalam menjaga tradisi sekaligus mengembangkan potensi wilayah.
"Melalui festival ini, kami ingin menghadirkan kegiatan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Pelestarian budaya, penguatan literasi, hingga pemberdayaan ekonomi dapat berjalan bersama. Harapannya, kegiatan ini tidak berhenti sebagai acara seremonial, tetapi dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat Pasarkliwon," terangnya.
Melengkapi rangkaian acara, festival ini turut menghadirkan pameran bursa kerja (job fair) dan bazar produk UMKM lokal. Kehadiran bursa kerja dan UMKM memberi kesempatan bagi warga untuk memperoleh informasi peluang karir sekaligus mendukung pertumbuhan usaha lokal.
Di akhir kegiatan, Venessa Winastesia menyempatkan diri mengunjungi booth Rumah Belajar Pancasila yang menjadi salah satu ruang edukasi masyarakat di Kecamatan Pasarkliwon. Dalam kunjungan tersebut, ia meninjau langsung aktivitas pembelajaran nilai-nilai Pancasila di tengah warga.
Venessa berharap Rumah Belajar Pancasila terus dikembangkan sebagai ruang belajar terbuka bagi anak-anak dan keluarga. Ia juga mengapresiasi berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat lainnya, seperti Posyandu, agar penguatan literasi dan edukasi dapat terus berjalan beriringan dengan pelayanan masyarakat di lingkungan warga.
Bagikan