Revitalisasi
Kamis, 30 April 2026 12:50 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

SOLO (Soloaja.co) – Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menegaskan kembali posisinya sebagai episentrum kebudayaan Jawa melalui perhelatan Kraton Art Festival 2026. Digelar di Bangsal Smarakata pada Rabu (29/4) untuk memperingati Hari Tari Dunia, acara ini menjadi panggung perpaduan antara seni adiluhung, diplomasi internasional, dan refleksi intelektual.
Kegiatan ini dihadiri oleh keluarga besar Keraton, abdi dalem, seniman, hingga tamu mancanegara, menandai babak baru relevansi Keraton di tengah dinamika global.
Diplomasi Budaya Indonesia–Chile
Salah satu momen krusial adalah pertemuan hangat di Sasana Handrawina antara Sinuhun Paku Buwana (PB) XIV Hangabehi dengan Duta Besar Chile untuk Indonesia, Mario Ignacio Artaza Loyola.
Pertemuan ini bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk diplomasi budaya untuk memperkuat hubungan bilateral melalui pertukaran cenderamata dan penjajakan kolaborasi seni di masa depan. Keraton Surakarta membuktikan bahwa tradisi dapat menjadi jembatan harmonis antarnegara.
Sajian Tari Bedhaya dan Fragmen Panji
Di Bangsal Smarakata, penonton disuguhi dua karya utama yang sarat makna:
* Tari Bedhaya Sukamulya: Karya GKR Koes Moertiyah Wandansari (Gusti Moeng) ini merupakan persembahan untuk mendiang PB XII. Nama "Sukamulya" melambangkan doa agar keturunan Dinasti Mataram hidup dalam kebahagiaan (*Suko*) yang berlandaskan kemuliaan budi (*Mulyo*).
* Fragmen Tari Topeng Panji Sekartaji: Mengisahkan perjuangan cinta Raden Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji yang legendaris hingga ke Asia Tenggara, membawa pesan universal tentang kesetiaan dan keteguhan hati.
Gusti Moeng menegaskan pentingnya menjaga "pakem" atau aturan baku dalam seni keraton. "Kami mengadakan festival ini di sumbernya agar masyarakat bisa merasakan langsung kekayaan budaya Keraton Surakarta," ujarnya.
Menuju Konservatorium Budaya Jawa
Dalam orasi kebudayaannya, budayawan Sardono W. Kusumo menekankan bahwa Keraton harus bertransformasi menjadi konservatorium seni. Menurutnya, tanpa sistem dan wadah yang tepat, literasi budaya Jawa yang kaya berpotensi memudar.
Sejalan dengan hal tersebut, PB XIV mengungkapkan langkah strategis revitalisasi Keraton. Salah satu poin utamanya adalah pengembangan kerja sama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui pembentukan Lembaga Studi Kebudayaan.
Langkah kolaboratif ini diharapkan mampu menjadikan Keraton Surakarta sebagai "laboratorium hidup" tempat pembelajaran, praktik, dan regenerasi kebudayaan Jawa tetap terjaga bagi generasi mendatang.
Bagikan