Kebakaran
Jumat, 28 Agustus 2026 18:32 WIB
Penulis:Redaksi Daerah
Editor:Redaksi Daerah

JAKARTA – Jumlah hotspot atau titik panas yang terdeteksi di Kalimantan Timur hingga 19 Agustus 2026 telah mencapai 9.861 titik. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan total hotspot sepanjang Agustus 2015, ketika Indonesia menghadapi fenomena El Nino, yang tercatat sebanyak 9.793 titik.
Peningkatan jumlah titik panas tersebut memicu kewaspadaan terhadap risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kaltim. Menyikapi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur meningkatkan kesiapsiagaan personel dan mempercepat respons di berbagai wilayah yang teridentifikasi memiliki hotspot.
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, mengatakan berdasarkan pemantauan terbaru di lapangan terdapat 24 titik panas yang tersebar di sejumlah kabupaten di Kalimantan Timur.
“Berdasarkan pemantauan hari ini di lapangan, kami mencatat keberadaan 24 titik panas yang tersebar di sejumlah wilayah kabupaten,” ujar Buyung di Samarinda, baru-baru ini.
BACA JUGA: Memprediksi Fundamental BMRI di Tengah Isu Boikot Bank Mandiri
Kabupaten Paser menjadi salah satu daerah dengan konsentrasi titik panas cukup tinggi. Selain itu, BPBD Kaltim juga memberikan perhatian terhadap kondisi di Kabupaten Berau yang dinilai masih membutuhkan respons cepat petugas di lapangan.
Untuk mencegah titik panas berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas, BPBD Kaltim meningkatkan patroli dan kesiapsiagaan hingga ke tingkat tapak.
Setiap regu yang diturunkan sedikitnya diperkuat 10 personel. Mereka mendapat dukungan dari prajurit TNI, aparat kepolisian, serta relawan di tingkat desa.
“Kami terus memperkuat patroli dan menyiagakan minimal 10 personel pada setiap regu yang dibantu langsung oleh prajurit TNI, aparat kepolisian, serta relawan desa,” kata Buyung.
Menurut dia, tingginya jumlah hotspot Kaltim pada 2026 menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah untuk terus memperkuat sistem penanggulangan karhutla.
Kesiapsiagaan posko dan personel di lapangan menjadi bagian penting dalam upaya mendeteksi dan menangani kebakaran sejak dini sebelum meluas.
“Lonjakan kemunculan titik api pada tahun sebelumnya menjadi evaluasi bagi kami untuk terus menyiagakan posko penanggulangan hingga tingkat tapak,” ujarnya.
Dalam penanganan karhutla, petugas di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan akses menuju lokasi titik api.
Kondisi jalan yang sulit membuat kendaraan pemadam kebakaran, termasuk armada pengangkut air, tidak selalu dapat menjangkau lokasi secara langsung.
Situasi tersebut membuat penanganan titik panas membutuhkan koordinasi dan dukungan berbagai pihak, mulai dari BPBD, TNI, Polri, pemerintah daerah hingga relawan di tingkat desa.
Dengan jumlah hotspot Kaltim yang mencapai 9.861 titik hingga 19 Agustus 2026, kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan menjadi semakin penting. Angka tersebut telah melampaui catatan hotspot pada periode El Nino 2015, yang mencapai 9.793 titik sepanjang Agustus.
Tulisan ini telah tayang di ibukotakini.com oleh Hadi Zairin pada 24 Aug 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 28 Agt 2026
Bagikan