Rabu, 09 September 2026 10:05 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

SOLO (Soloaja.co) — Tim Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menguji keandalan inovasi Needle Crusher Integrated System (NECIS) di sejumlah fasilitas kesehatan (faskes). Alat penghancur limbah jarum suntik berbasis Internet of Things (IoT) ini diuji langsung untuk memastikan kesiapan teknologi dalam menangani limbah medis Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) infeksius di lapangan.
Pengujian komprehensif dilakukan di tiga faskes dengan skala pelayanan berbeda, yakni RS UMS A.R. Fachruddin, Muhammadiyah Medical Center (MMC) UMS, serta Praktik Mandiri Bidan Diah Wahyu Adi, Polokarto. Pemilihan lokasi ini bertujuan memvalidasi kinerja serta efektivitas alat dari skala rumah sakit, klinik utama, hingga praktik mandiri.
Seluruh anggota tim yang terdiri dari Daffa Satria Nugraha, Mahmudah Mufidatul Hasanah, Hengky Boyyanza, Safaila Mefia Zahra, dan Evandra Ardhy Pratama turun langsung memantau proses pengujian. Ketua Tim, Daffa Satria Nugraha, menyampaikan bahwa pengujian lapangan ini merupakan tindak lanjut dari purwarupa yang dikembangkan bersama dosen pembimbing, Ir. Dedi Ary Prasetya, S.T., M.Eng.
"Melalui pengujian langsung, kami mengevaluasi seluruh proses terintegrasi pada NECIS. Mulai dari kecepatan penghancuran (rotary shredder) dalam 30 detik, sterilisasi patogen dengan sinar UV-C, pemisahan otomatis serpihan logam dan plastik, hingga pemantauan kapasitas limbah real-time via dashboard IoT," terang Daffa, Selasa (8/9).
Uji coba di RS UMS A.R. Fachruddin pada Senin (10/8) mendapat respons positif dari dr. Denny Setyawan dan staf Humas, Gulang Candra. Desain NECIS dinilai ringkas untuk diletakkan di atas troli medis, dengan hasil cacahan jarum yang halus serta fitur monitoring yang memudahkan petugas.
Apresiasi senada disampaikan perwakilan MMC UMS, dr. Vita Fauziah Noer Hidayah dan dr. Ida Ayu Esti Widiantari, yang mengunggulkan performa alat dalam menghancurkan jarum secara tuntas serta sifatnya yang portabel. Sementara Bidan Diah Wahyu Adi menilai NECIS sangat cocok dan efektif untuk skala praktik mandiri.
Implementasi NECIS di tiga faskes ini membuktikan potensi besar purwarupa dalam menekan risiko Needle Stick Injury (NSI) atau insiden tertusuk jarum suntik bekas pada tenaga kesehatan. Hasil evaluasi pengujian ini akan menjadi acuan penyempurnaan alat agar siap diimplementasikan secara luas guna mendukung keselamatan tenaga medis dan kelestarian lingkungan.
Bagikan