Homeless Media Sedang Naik Daun, Kenapa Pemerintah Ikut Merangkul?

Kamis, 07 Mei 2026 13:59 WIB

Penulis:Redaksi Daerah

Editor:Redaksi Daerah

Menguak Cara Kerja Homeless Media, Kenapa Pemerintah Merangkul Mereka?
Menguak Cara Kerja Homeless Media, Kenapa Pemerintah Merangkul Mereka?

JAKARTA -  Mungkin kamu tidak familiar dengan istilahnya, tapi besar kemungkinan kamu sudah sering melihat kontennya. Homeless media adalah bentuk media yang hidup sepenuhnya di media sosial tanpa memiliki “rumah” sendiri seperti website atau aplikasi.

Kontennya dibuat dan dikurasi secara mandiri, lalu didistribusikan melalui platform seperti Instagram, TikTok, hingga YouTube. Mereka tidak punya ruang redaksi resmi, kantor, ataupun domain pribadi. Meski begitu, jangkauannya justru mampu menyaingi banyak media konvensional yang sudah lama eksis.

Pada Rabu, 6 Mei 2026, pemerintah Indonesia secara resmi mulai merangkul keberadaan mereka. Istilah homeless media sendiri sebelumnya ramai digunakan di industri media digital untuk menyebut akun-akun kreator yang bekerja layaknya media profesional, tetapi tidak memiliki platform milik sendiri sebagai basis utama.

BACA JUGA: Gaji 10 Juta tapi Justru Merasa Miskin? Cek 3 Pengeluaran Gaib Ini!

Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI Muhammad Qodari menjelaskan istilah homeless media sebelumnya dikenal sebagai new media yang kini sedang bertransformasi menjadi entitas yang lebih terstruktur. 

"Pada kesempatan ini, sebelum masuk kepada materi, kami juga menyambut hangat kehadiran teman-teman dari New Media Forum, mitra baru dari Badan Komunikasi Pemerintah dalam ekosistem media digital di Indonesia," Jelas Qodari dalam konferensi pers di kantor Bakom, Jakarta, Rabu 6 Mei 2026.

Yang membedakan homeless media dari akun media sosial biasa bukan sekadar jumlah followers. Qodari menegaskan bahwa homeless media harus memiliki struktur yang jelas, yaitu redaksi, badan usaha, dan alamat.  Mereka punya tim editorial, meski kecil, punya badan usaha terdaftar, tapi distribusinya murni digital, tanpa website sendiri.

Skala yang Tidak Bisa Diabaikan

Inilah alasan pemerintah mulai bergerak. Qodari menilai, dengan jumlah pengikut media baru (new media) yang sudah sangat besar, yang diklaim bisa mencapai 100 juta followers dengan total views 4–5 miliar per bulan, langkah terbaik bukan lagi mengabaikan, melainkan melakukan engagement agar kualitas ekosistem new media ikut meningkat.

"Dengan realita bahwa New Media sudah punya followers yang cukup besar, mungkin bisa sampai 100 juta dengan views yang bisa mencapai angka miliaran, 4 sampai 6 miliar satu bulan, hemat kami yang terbaik adalah kita bisa engage agar membuat kualitas New Media semakin meningkat," jelas Qadari.

Dalam konteks media, angka tersebut sangat besar. Total 5 miliar views per bulan bahkan melampaui gabungan pembaca sejumlah media nasional terbesar. Artinya, pengaruh new media terhadap pembentukan opini publik, terutama di kalangan generasi muda, sudah tidak bisa dipandang sebelah mata.

Siapa Saja yang Masuk Daftar?

Beberapa homeless media yang digandeng Bakom berasal dari berbagai segmen, mulai dari lifestyle, edukasi, ekonomi, hingga komunitas anak muda digital. Nama-nama yang disebut terlibat antara lain:

  • Folkative
  • Indozone
  • Dagelan
  • Indomusicgram
  • Infipop
  • Narasi
  • Muslimvlog
  • USS Feed
  • Bapak-Bapak ID
  • Menjadi Manusia
  • GNFI
  • Creativox
  • Kok Bisa
  • Taubaters
  • Pandemic Talks
  • Kawan Hawa
  • Folix
  • Ngomongin Uang
  • Big Alpha
  • Good States
  • Hai Dulu
  • Proud Project
  • Vebis
  • Unframe
  • Kumpul Leaders
  • CXO Media
  • Volix Media
  • How To Do Nothing
  • Everless Media
  • Geometry Media
  • Folks Diary
  • Dream
  • Melodi Alam
  • NKTSHI
  • Modestalk
  • Lead Media
  • Nalar TV
  • Mahasiswa dan Jakarta
  • North West
  • Mature Indonesia

Nama-nama tersebut bukan pemain kecil di internet Indonesia. Beberapa kanal seperti Folkative, Dagelan, dan Kok Bisa termasuk yang paling aktif dikonsumsi generasi muda, terutama di Instagram, TikTok, dan YouTube.

Kalau kamu pernah menonton video explainer ekonomi, finansial, atau isu sosial yang dibuat ringan dan mudah dipahami lalu berpikir “oh ternyata begitu”, besar kemungkinan kontennya berasal dari salah satu media tersebut.

Pertanyaan yang Belum Dijawab

Kerja sama ini tidak datang tanpa tanda tanya. Perwakilan Indonesia New Media Forum Timothy Marbun menyebut pertemuan pada 5 Mei 2026 itu tidak menghasilkan komitmen politik apapun. 

Tapi fakta bahwa forum ini bertemu di markas Bakom dan langsung diumumkan sebagai "mitra baru" membuka perdebatan soal di mana batas antara penyebaran informasi publik dan sosialisasi kebijakan pemerintah.

Qodari sendiri mengakui salah satu tantangan utama di ekosistem new media adalah penerapan prinsip keberimbangan informasi atau cover both side yang belum sepenuhnya berjalan. "Kalau misalnya belum memungkinkan, metode apa lagi yang bisa dipakai, misalnya metode verifikasi," kata Qodari.

Pertanyaannya sederhana, apakah media yang mengandalkan pendapatan dari kerja sama dengan pemerintah bisa tetap kritis terhadap pemerintah yang sama? Ini bukan pertanyaan baru di industri media. 

Tapi relevansinya sangat nyata untuk ekosistem yang audiensnya mayoritas Gen Z dan Milenial yang selama ini menganggap kanal-kanal ini sebagai alternatif dari media mainstream.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 07 May 2026 

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 07 Mei 2026