GAGAKU Jepang dan Keraton Surakarta Perkuat Diplomasi

Rabu, 09 September 2026 08:57 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

SOLO (Soloaja.co) — Keraton Surakarta Hadiningrat menjadi saksi bisu penguatan diplomasi kebudayaan internasional melalui pergelaran seni tradisi agung bertajuk GAGAKU: Japanese Heritage to the Future pada Selasa (8/9) malam. 

Pertunjukan musik dan tarian istana kuno Kekaisaran Jepang berusia lebih dari satu milenium ini digelar sebagai bagian dari rangkaian Tur GAGAKU di Indonesia yang berlangsung pada 4–11 September 2026.

PB XIV bersama Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta Hadiningrat, GKR Wandansari dan sejumlah kerabat Karaton Surakarta hadir menyambut rombongan kebudayaan dari Jepang. 

Pergelaran ini menandai babak penting hubungan kebudayaan antara Keraton Surakarta dan Kekaisaran Jepang yang terjalin sejak 1984. Disajikan secara khidmat di Sasana Sewaka Keraton Surakarta Hadiningrat, acara ini menghadirkan harmoni musik instrumen klasik (Kangen) serta tarian sakral istana (Bugaku).

Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta Hadiningrat, GKR Wandansari Koes Murtiyah, menyampaikan bahwa penampil seni dari Jepang tersebut mensakralkan tarian ini karena telah tercipta sejak 1.000 tahun lebih dari pengaruh tradisi Tiongkok dan Korea. 

“Pentas ini menjadi simbol eratnya persahabatan antara Keraton Surakarta dan Kerajaan Jepang.” Ungkap Gusti Moeng. 

Diplomasi budaya kedua pihak memiliki jejak sejarah panjang. Pertukaran misi kesenian rutin dilaksanakan sejak era 1980-an, termasuk dukungan akademis Prof. Tamura (Tenri University/Fukuoka) yang mengantarkan Keraton Surakarta meraih penghargaan Fukuoka Prize dengan disaksikan kerabat Kekaisaran Jepang. 

Sebagai bentuk keberlanjutan tradisi, Keraton Surakarta juga mengirimkan delegasi seniman muda dan perias trah keraton ke Jepang pada November tahun lalu.

Sebagai bentuk penghormatan dan dialog budaya timbal balik, Keraton Surakarta turut menampilkan Tari Beksan Bandayudha (Bondan Yosodo). Tarian klasik garapan Pakubuwana IV yang terinspirasi dari Beksan Lawung Ageng mahakarya Sultan Agung ini menggambarkan ketangkasan serta semangat prajurit istana.

Rangkaian program Gagaku menampilkan pengantar sejarah, musik instrumental Kangen (Hyōjō no chōshi, Etenraku, Bairo, Ōshikichō no netori), serta tarian Bugaku (Ryō-ō).

Acara ini diselenggarakan oleh Asosiasi Pertukaran Internasional Musik Jepang bekerja sama dengan Bumi Purnati Indonesia, Keraton Surakarta Hadiningrat, ISI Surakarta, Pusat Studi Musik Asia ISI Surakarta, dan ISI Yogyakarta, serta didukung oleh KBRI Tokyo, Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, The Japan Foundation, Japan Creator Support Fund, dan pakar pendukung Saptono bersama Fumiko Tamura.