Dalang Muda Ki Gondo Wartoyo Dorong Wayang Kulit Masuk Sekolah di Klaten

Sabtu, 25 Juli 2026 08:15 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1001932173.jpg
Ki Dalang Gondo Wartoyo (kiri) (Soloaja)

KLATEN (Soloaja.co) - Pelestarian seni budaya tradisional dinilai membutuhkan pendekatan baru yang membaur langsung dengan aktivitas harian para pelajar. Dalang muda asal Desa Tegalgiri, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali, Ki Gondo Wartoyo, mengusulkan agar seni wayang kulit diintegrasikan ke lingkungan sekolah sebagai media edukasi karakter berbasis budaya yang dapat diakses siswa setiap hari.

“Harapan kami seni sayang kulit bisa lebih dikenal generasi muda diintegrasikan ke lingkungan sekolah sebagai media edukasi karakter berbasis budaya yang dapat diakses siswa setiap hari, ” Ungkap Ki Gondo Wartoyo. 

Gagasan tersebut dipaparkan Ki Gondo saat menjadi narasumber Workshop Penguatan Pembelajaran Berbasis Kebudayaan yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah melalui Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V di SMAN 1 Karanganom, Kabupaten Klaten, Kamis (23/7/2026). 

Forum tersebut dihadiri Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V Basikun, Kepala Seksi SMA dan SLB Bagus Adiroso, serta Kepala SMAN 1 Karanganom Masjhur Tjahjanto.

Pemilik Sanggar SKWL ini menegaskan bahwa sekolah merupakan ruang paling strategis untuk memupuk kecintaan terhadap warisan Nusantara. Ia memandang seni budaya bukan sekadar warisan yang dipentaskan pada perhelatan berkala, melainkan fondasi pembentukan kepribadian yang memuat nilai-nilai luhur seperti kejujuran, gotong royong, disiplin, dan rasa saling menghormati.

Menurutnya, menghadirkan karakter tokoh-tokoh wayang di area sekolah akan mempermudah siswa mengenali serta memahami filosofi tradisi secara alami. Generasi muda tidak hanya berposisi sebagai pewaris, tetapi juga penentu arah kelestarian budaya yang diberi ruang untuk berinovasi sesuai perkembangan zaman.

Rangkaian workshop diakhiri dengan pertunjukan wayang kulit yang dibawakan oleh dalang cilik Kalimosodo dengan iringan sinden cilik Dira. Pementasan tersebut menjadi bentuk simulasi praktik apresiasi seni tradisi secara langsung guna mendukung penanaman karakter berbasis kebudayaan di lingkungan pendidikan formal.