Makanan
Rabu, 17 Juni 2026 09:57 WIB
Penulis:Redaksi Daerah
Editor:Redaksi Daerah

JAKARTA —Sebelum bepergian, banyak orang biasanya telah menyiapkan berbagai kebutuhan, mulai dari tiket perjalanan, akomodasi, hingga rencana kegiatan selama liburan. Namun, setelah perjalanan berakhir, tak sedikit yang mendapati pengeluaran mereka ternyata melampaui anggaran yang telah disusun sebelumnya.
Salah satu faktor yang kerap memicu pembengkakan biaya bukanlah transportasi atau penginapan, melainkan pengeluaran untuk makan dan camilan selama perjalanan.
Walaupun nominalnya sering kali terlihat kecil, frekuensi pengeluaran konsumsi yang tinggi dapat membuat pos ini menyerap porsi besar dari total biaya liburan.
BACA JUGA: 5 Kebiasaan Bikin Sepeda Motor Boros Bensin, Stop Sekarang!
Saat berada di rumah, banyak orang memiliki kebiasaan dan rutinitas yang membantu mengontrol pengeluaran sehari-hari. Namun ketika traveling, pola tersebut sering berubah.
Suasana liburan membuat sebagian orang lebih permisif terhadap pengeluaran. Mencoba kuliner lokal, nongkrong di kafe yang sedang viral, membeli camilan khas daerah, atau sekadar menikmati kopi di tempat wisata sering dianggap sebagai bagian dari pengalaman perjalanan.
Karena dilakukan beberapa kali dalam sehari, total pengeluaran yang awalnya terlihat kecil dapat bertambah dengan cepat.
Salah satu daya tarik traveling adalah kesempatan mencicipi makanan yang mungkin tidak tersedia di kota asal.
Mulai dari sarapan khas daerah, makan siang di restoran populer, jajanan kaki lima, dessert viral, hingga kopi sore hari sering masuk dalam daftar aktivitas wisata.
Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Namun ketika setiap destinasi kuliner dianggap wajib dicoba, anggaran makan bisa meningkat jauh di atas perkiraan awal.
Dalam beberapa kasus, biaya makan saat liburan bahkan bisa mendekati atau melebihi biaya penginapan per hari.
Banyak orang fokus menghitung biaya besar sebelum berangkat, tetapi kurang memperhatikan pengeluaran kecil yang terjadi sepanjang perjalanan.
Sebagai contoh:
- Air minum beberapa kali sehari
- Kopi atau minuman dingin
- Camilan selama perjalanan
- Dessert atau makanan penutup
- Oleh-oleh makanan
- Biaya layanan atau pajak restoran
Jika dijumlahkan selama beberapa hari, nominalnya bisa menjadi cukup besar.
Karena itu, pengeluaran konsumsi sering terasa lebih banyak dibanding yang diperkirakan sebelum berangkat.
Media sosial juga ikut memengaruhi pola konsumsi saat liburan. Banyak wisatawan merasa ingin mencoba tempat makan yang sedang ramai dibicarakan atau kuliner yang viral di suatu daerah.
Fenomena ini membuat keputusan pembelian sering dilakukan secara spontan tanpa mempertimbangkan anggaran yang sudah disiapkan sebelumnya.
Akibatnya, dana yang awalnya diperuntukkan untuk kebutuhan lain bisa ikut terpakai untuk aktivitas konsumtif selama perjalanan.
Salah satu cara yang cukup sering dilakukan untuk mengelola pengeluaran saat traveling adalah memisahkan anggaran berdasarkan kategori.
Misalnya:
- Dana transportasi
- Dana penginapan
- Dana makan dan kuliner
- Dana oleh-oleh
- Dana darurat
Dengan cara ini, wisatawan dapat lebih mudah memantau pengeluaran selama perjalanan dan mengurangi risiko menggunakan seluruh dana liburan dalam waktu singkat.
Traveling bukan hanya soal menentukan destinasi, tetapi juga mempersiapkan kebutuhan finansial sejak jauh hari. Dengan menabung secara bertahap, biaya liburan dapat terasa lebih ringan dibanding harus menyiapkan seluruh dana sekaligus menjelang keberangkatan.
Saat ini, semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan tabungan digital untuk membantu memisahkan dana berdasarkan tujuan keuangan tertentu, termasuk dana liburan dan dana kuliner selama perjalanan.
Dengan pengelolaan melalui aplikasi, pengguna dapat memantau saldo dan aktivitas rekening secara lebih praktis saat mempersiapkan berbagai rencana keuangan, termasuk kebutuhan traveling.
Tulisan ini telah tayang di jogjaaja.com oleh Tyo S pada 10 Jun 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 17 Jun 2026
Bagikan