Bersih Desa, Genk Purbayan Gelar Wayangan "Wisanggeni Gugat"

Sabtu, 14 Februari 2026 03:30 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1001357964.jpg
Ketua Genk Purbayan Tuntas Subagyo menyerahkan sayang lakon Wisanggeni pada Ki Dalang Jatmiko Anom Suroto (Soloaja)

SUKOHARJO (Soloaja.co) – Nuansa budaya kental terasa di Taman Ratu Maulidya, Purbayan, Baki, Sukoharjo pada Jumat (13/2/2026). Ribuan warga berkumpul menyaksikan pagelaran wayang kulit dalam rangka bersih desa dan ruwat rumah menyambut bulan suci Ramadan. 

Acara ini menghadirkan dalang kondang Ki Jatmiko Anom Suroto dengan lakon filosofis "Wisanggeni Gugat".

Pagelaran ini menjadi istimewa karena mengolaborasikan seni tradisional dengan deretan artis ternama seperti Cak Sodik Pasuruan, Lala Widi, Eliza, hingga pelawak Andi TB.

Simbol Perjuangan Rakyat Kecil

Dalang Ki Jatmiko Anom Suroto menjelaskan bahwa lakon Wisanggeni Gugat dipilih sebagai cerminan kondisi sosial saat ini. Sosok Wisanggeni digambarkan sebagai tokoh yang mampu merangkul kasta terbawah hingga tertinggi.

"Kita melihat banyak ketimpangan sosial. Sudah saatnya 'wong cilik' merebut kedaulatan melalui jalur konstitusi. Wisanggeni adalah simbol kekuatan rakyat bawah yang kita harapkan bisa dipimpin oleh sosok seperti Mas Tuntas di masa depan," ujar Ki Jatmiko.

Membangkitkan Gotong Royong di Era Modern

Tokoh masyarakat sekaligus Ketua Genk Purbayan, Tuntas Subagyo, menegaskan bahwa wayangan ini adalah bagian dari rangkaian Safari Ramadhan. Agenda dimulai dari bersih desa, tradisi Sadranan, pengajian Nuzulul Quran, hingga festival takbir.

"Desa Purbayan ini wilayah transisi di pinggiran kota yang mulai luntur nilai gotong royongnya karena modernisasi. Saya ingin membangkitkan lagi nilai kebersamaan itu. Alhamdulillah, tadi anak muda hingga orang tua semua keluar kerja bakti membersihkan makam dan berdoa bersama. Ini kolaborasi budaya dan agama untuk memupuk kerukunan," jelas Tuntas.

Pesan Regenerasi dari Para Seniman

Musisi nyentrik Cak Sodik menekankan pentingnya memberi wadah bagi anak muda agar bangga dengan budayanya sendiri. Ia menyebut tradisi seperti sedekah bumi adalah bentuk syukur kepada alam.

"Kita harus mengarahkan generasi muda bahwa sedekah bumi itu ucapan syukur atas oksigen dan alam yang bagus. Kalau alam rusak, manusia juga rusak. Saya bahkan punya lagu 'Bangga Jadi Wong Jowo' dan 'Ramalan Joyoboyo' untuk mengingatkan fenomena zaman sekarang, termasuk pasar yang mulai sepi karena pindah ke online," kata Sodik.

Senada dengan Sodik, penyanyi Lala Widi mengajak generasi penerus untuk tidak malu melestarikan warisan leluhur. "Kita sebagai generasi penerus harus meneruskan, menggemari, dan tentunya bangga dengan apa yang kita punya," pungkasnya.

Pagelaran ini ditutup dengan doa bersama, menandai kesiapan batin masyarakat Purbayan memasuki bulan puasa dengan hati yang bersih dan lingkungan yang rukun.