Asah Kreativitas Anak, SD Muhammadiyah PK Hidupkan Dolanan Bocah

Minggu, 23 Agustus 2026 15:46 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1002043550.jpg
Siswa SD Muhamadiyah PK Kottabarat diajari membuat janur (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) — Sebanyak 81 murid kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo diajak kembali mengenal dan memainkan beragam permainan tradisional dalam kegiatan Parents’ Day bertema “Traditional Kids’ Games”, Sabtu (22/8/2026). 

Kegiatan ini menjadi langkah nyata sekolah untuk menghidupkan kembali dolanan bocah yang kian tergerus maraknya penggunaan gawai di kalangan anak-anak.

​Berlangsung meriah di hall lantai 4 sekolah, Parents’ Day kali ini tidak sekadar menghadirkan arena bermain, tetapi juga membuka ruang interaksi hangat antara murid, orang tua, dan pihak sekolah. 

Acara ini dirancang khusus untuk memberikan pengalaman bermain yang aktif sekaligus mempererat tali komunikasi antara sekolah dan paguyuban orang tua murid kelas III.

​Koordinator Tim Kelas III, Lusia Wahyu Purbowati, menegaskan pentingnya nilai permainan tradisional bagi tumbuh kembang anak di era gempuran teknologi digital.

​“Kegiatan ini bertujuan menghadirkan pengalaman belajar yang autentik dan bermakna sekaligus mengenalkan kembali permainan tradisional anak atau dolanan bocah kepada para murid,” ujar Lusia.

​Antusiasme Mencoba Dolanan Lawas

​Dalam melancarkan aksi melestarikan budaya ini, sekolah menggandeng Komunitas Anak Bawang Solo sebagai narasumber dan pendamping permainan. Sebelum beraksi di lapangan, para murid dibekali pengetahuan mengenai sejarah, nilai-nilai moral, hingga tata cara memainkan setiap permainan.

​Suasana riuh canda tawa pecah ketika para murid mulai menjajal beragam dolanan bocah. Didampingi para fasilitator, mereka tampak antusias mencoba:

  • Uji Keseimbangan & Motorik: Egrang, bakiak, dan permainan batok kelapa.
  • Keakraban & Lagu Daerah: Cublak-cublak suweng, jamuran, dan dingklik oglak-aglik.
  • Asah Strategi & Kreativitas: Congklak, gasing, hingga seni merangkai pedang dari janur kelapa.

​Sebagian besar murid mengaku baru pertama kali memainkan permainan tersebut. Selain memberikan kegembiraan, aktivitas ini secara alami mendorong mereka untuk aktif berkomunikasi, bekerja sama dalam tim, mematuhi aturan, serta belajar menerima kemenangan maupun kekalahan secara sportif.

​Lusia menambahkan, aktivitas fisik seperti berlari, melompat, dan melatih koordinasi tubuh sangat efektif mengasah motorik anak. Sementara sifat permainan yang berbasis kelompok menjadi sarana ampuh membina aspek sosial dan emosional mereka.

​Solusi Konkret Alihkan Perhatian dari Layar

​Langkah SD Muhammadiyah PK Kottabarat ini mendapat apresiasi hangat dari kalangan orang tua. Pengurus Paguyuban Orang Tua Murid Kelas III, Irma Nur Hidayati, menilai kegiatan ini memberi jawaban nyata atas kekhawatiran orang tua terhadap ketergantungan anak pada gawai.

​“Kegembiraan bermain permainan tradisional menjadi alternatif konkret bagi orang tua untuk mengalihkan perhatian anak dari layar gawai tanpa harus menggunakan metode komando atau larangan,” ungkap Irma.

​Sebagai kenang-kenangan sekaligus stimulan untuk terus beraktivitas di rumah, acara penutupan Parents’ Day ditandai dengan pembagian souvenir edukatif: congklak untuk seluruh murid perempuan dan gasing untuk seluruh murid laki-laki. Langkah kecil ini diharapkan dapat membawa semangat dolanan bocah ke lingkungan rumah dan tetangga.

​Melalui Parents’ Day, SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo membuktikan bahwa permainan tradisional bukan sekadar fosil warisan budaya, melainkan metode pembelajaran interaktif yang menyatukan aktivitas fisik, interaksi sosial, dan kreativitas anak di tengah era digital.