UMS Tuan Rumah Munas Aslama PTMA, Fokus Perkuat Kaderisasi

Kusumawati - Jumat, 30 Januari 2026 20:00 WIB
Munas Aslama PTMA di UMS (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) resmi menjadi pusat perhatian pengelola asrama mahasiswa se-Indonesia.

Kampus ini dipercaya menjadi tuan rumah Musyawarah Nasional (Munas) Asosiasi Pengelolaan Asrama (Aslama) Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) yang berlangsung mulai Kamis hingga Sabtu, 29-31 Januari 2026.

Forum bergengsi yang diinisiasi oleh Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah ini bertujuan untuk memperkuat peran asrama sebagai "kawah candradimuka" bagi kader-kader persyarikatan.

Inovasi Pesma UMS Jadi Rujukan Nasional

Ketua Panitia sekaligus Kepala Pesantren Mahasiswa (Pesma) UMS, Dra. Muamaroh, M.Hum., Ph.D., menyambut hangat kehadiran perwakilan 47 PTMA dari total 56 institusi yang memiliki fasilitas asrama. Menariknya, perubahan nomenklatur dari "Asrama" menjadi "Pesma" (Pesantren Mahasiswa) merupakan gagasan yang diawali oleh UMS.

"Pesma UMS didirikan pada 2008 dengan rebranding baru. Hal itu memicu kampus-kampus PTMA lain mengikuti inovasi yang digagas oleh UMS," ungkap Muamaroh, Kamis (29/1).

Luncurkan Buku Panduan Pengelolaan Asrama
Dalam pembukaan Munas ini, Ketua Aslama PTMA, Dr. Wawan Kusnawan, S.S., M.Pd.I., meluncurkan Buku Panduan Pengelolaan Asrama Mahasiswa Berbasis Pendidikan Karakter Berkemajuan. Buku ini akan menjadi kompas bagi pengelola asrama dalam membentuk mahasantri yang kompeten.

"Ilmu bukan hanya untuk ilmu, tetapi untuk ibadah dan kehidupan sosial. Mahasantri inilah yang akan menjadi aktor perwujudan cita-cita Muhammadiyah," tegas Wawan.

Tantangan Generasi Z dan Kemandirian Teknologi

Di tengah antusiasme tersebut, Wakil Rektor III UMS, Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., menyoroti tantangan berat yakni menurunnya minat mahasiswa tinggal di asrama. Menurutnya, karakteristik Generasi Z yang cenderung menyukai privasi dan hidup sendiri menjadi hambatan tersendiri.

"Harapannya, Munas ini mampu merumuskan gagasan yang memicu daya tarik mahasiswa agar minat mereka kembali meningkat demi mewujudkan kader ideologis," tutur Jinan.

Senada dengan hal itu, Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Bambang Setiaji, M.Si., menekankan pentingnya integrasi teknologi dalam kurikulum asrama. Ia berharap mahasantri tidak hanya kuat secara agama, tetapi juga kompeten di bidang teknologi.

"Kurikulum kemandirian harus ditekankan. Bagaimana membentuk mahasiswa tarbiyah yang juga paham teknologi, sehingga ada integrasi keilmuan dan mereka tidak bergantung pada pihak lain," paparnya.

Acara pembukaan diakhiri dengan penandatanganan simbolis peluncuran buku panduan oleh Prof. Bambang Setiaji, Dr. Mutohharun Jinan, dan Dr. Wawan Kusnawan. Munas ini diharapkan menjadi titik balik transformasi asrama mahasiswa PTMA menjadi institusi pendidikan karakter yang lebih modern dan relevan dengan tantangan zaman.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS