Sosok Toto Sugiri, ‘Bill Gates’ RI yang Bangun Raksasa Data Center
JAKARTA – Nama Otto Toto Sugiri tidak bisa dipisahkan dari perjalanan industri teknologi dan pusat data di Indonesia. Pengusaha asal Bandung ini telah berkecimpung di sektor teknologi selama lebih dari 40 tahun, jauh sebelum ekonomi digital berkembang menjadi salah satu bidang bisnis penting di Indonesia.
Otto Toto Sugiri dikenal sebagai pendiri sekaligus Presiden Direktur PT DCI Indonesia Tbk (DCII). Di bawah kepemimpinannya, DCI Indonesia berkembang menjadi salah satu perusahaan yang berperan besar dalam industri pusat data di Tanah Air.
Sebelum membangun bisnis data center, Otto lebih dahulu terlibat dalam pengembangan teknologi informasi perbankan, mendirikan perusahaan solusi teknologi Sigma Cipta Caraka, hingga ikut mendirikan Indonet yang dikenal sebagai salah satu pelopor penyedia layanan internet di Indonesia.
Rangkaian perjalanan tersebut membuat Otto kerap disebut sebagai salah satu pionir industri teknologi Indonesia. Forbes bahkan menyebutnya sebagai salah satu entrepreneur teknologi generasi awal Indonesia yang kemudian membangun DCI menjadi salah satu operator data center terbesar di Tanah Air.
Siapa Otto Toto Sugiri?
Otto Toto Sugiri lahir di Bandung pada 23 September 1953. Ia menempuh pendidikan teknik di Jerman dan memperoleh gelar Master of Science in Engineering dari RWTH Aachen University.
Karier profesionalnya dimulai pada 1983 ketika ia bekerja sebagai General Manager IT di Bank Bali. Pengalaman tersebut menjadi pintu masuk Otto ke dunia teknologi informasi sekaligus mempertemukannya dengan kebutuhan industri perbankan terhadap sistem komputerisasi.
Dari dunia perbankan, Otto kemudian mulai membangun perusahaan teknologi sendiri.
Saat ini, Otto merupakan Founder sekaligus President Director DCI Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, DCI berkembang menjadi salah satu perusahaan pusat data terbesar di Indonesia.
Baca juga : Kredit Hijau BBCA Tumbuh 19 Persen, Ditopang Proyek EBT
Perjalanan Otto di industri teknologi dimulai ketika komputerisasi perbankan di Indonesia masih berada pada tahap awal. Pada 1983, Otto bergabung dengan Bank Bali sebagai General Manager IT. Ia terlibat dalam pengembangan perangkat lunak dan sistem teknologi informasi untuk mendukung operasional perbankan.
Pengalaman tersebut membuat Otto melihat bahwa kebutuhan terhadap teknologi informasi tidak hanya berasal dari sektor perbankan, tetapi juga dari berbagai perusahaan yang mulai membutuhkan sistem komputerisasi. Peluang tersebut kemudian mendorong Otto masuk ke bisnis teknologi.
Mendirikan Sigma Cipta Caraka
Pada 1989, Otto bersama sejumlah rekannya mendirikan PT Sigma Cipta Caraka. Perusahaan tersebut bergerak di bidang solusi teknologi informasi dan kemudian berkembang menjadi salah satu perusahaan teknologi penting di Indonesia.
Sigma Cipta Caraka kemudian dikenal luas sebagai perusahaan yang menyediakan solusi teknologi bagi sektor perbankan dan korporasi.
Perusahaan tersebut akhirnya menjadi bagian dari Telkom setelah diakuisisi PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), sigma kemudian dikenal sebagai Telkomsigma. Forbes mencatat Sigma Cipta Caraka didirikan Otto pada 1989 dan kemudian diakuisisi Telkom.
Penjualan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan bisnis Otto. Namun, langkah tersebut bukan akhir dari kariernya di industri teknologi. Justru setelah keluar dari bisnis tersebut, Otto menemukan peluang baru yang kemudian membawanya ke industri pusat data.
Sebelum menjadi pemain besar di industri data center, Otto juga memiliki peran dalam sejarah awal internet Indonesia. Pada 1994, Otto bersama sejumlah rekannya mendirikan PT Indointernet atau Indonet.
Indonet dikenal sebagai salah satu perusahaan yang menjadi pelopor layanan internet komersial di Indonesia. Perusahaan tersebut kemudian berkembang seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat dan bisnis terhadap koneksi internet.
Forbes mencatat Otto ikut mendirikan Indonet pada 1994. Perusahaan tersebut kemudian melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2021 sebelum para pendirinya menjual kepemilikan mereka kepada Digital Edge, perusahaan asal Singapura, pada 2023.
Dengan demikian, kiprah Otto dalam industri teknologi tidak hanya berada pada sisi perangkat lunak, tetapi juga mencakup infrastruktur konektivitas internet.
Baca juga : Menggiurkannya Bisnis Data Center di Indonesia
Dari Internet ke Data Center
Setelah membangun bisnis teknologi dan internet, Otto kemudian melihat peluang yang lebih besar dari meningkatnya penggunaan internet dan kebutuhan penyimpanan data.
Pada awal dekade 2010-an, kebutuhan terhadap pusat data mulai meningkat seiring dengan pertumbuhan layanan digital, perbankan, e-commerce, telekomunikasi, hingga komputasi awan.
Otto kemudian mendirikan DCI Indonesia pada 2011. Perusahaan tersebut selanjutnya berkembang menjadi salah satu pemain utama pusat data di Indonesia. Forbes mencatat DCI didirikan Otto pada 2011 dan kemudian melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2021.
Keputusan masuk ke industri data center pada saat itu menjadi salah satu keputusan bisnis terpenting dalam perjalanan Otto. Pasalnya, kebutuhan terhadap data center terus meningkat seiring dengan semakin besarnya volume data yang dihasilkan masyarakat dan perusahaan.
Salah satu tonggak penting dalam perjalanan DCI Indonesia terjadi pada 2014 ketika fasilitas perusahaan memperoleh sertifikasi Tier IV dari Uptime Institute.
Tier IV merupakan klasifikasi tertinggi dalam standar desain dan fasilitas data center Uptime Institute. Pencapaian tersebut membuat DCI menjadi data center Tier IV pertama di Asia Tenggara. EY juga mencatat DCI sebagai data center Tier IV pertama di kawasan tersebut.
Bagi Otto, pembangunan data center dengan standar tertinggi bukan sekadar persoalan infrastruktur, tetapi juga cara untuk membangun kepercayaan calon pelanggan.
Standar tersebut penting karena pelanggan data center, terutama dari sektor keuangan, telekomunikasi, cloud, dan perusahaan digital, membutuhkan jaminan terhadap ketersediaan layanan.
Kehadiran fasilitas dengan standar tinggi tersebut kemudian membantu DCI menarik perusahaan-perusahaan besar sebagai pelanggan.
Dalam perkembangannya, DCI Indonesia menjadi salah satu operator data center terbesar di Indonesia.
EY mencatat DCI pernah menyediakan lebih dari separuh kapasitas data center lokal Indonesia dan melayani berbagai perusahaan global maupun domestik, termasuk perusahaan cloud, e-commerce, telekomunikasi, serta sektor perbankan dan keuangan.
Perusahaan juga terus memperluas kapasitas untuk memenuhi kebutuhan komputasi yang semakin besar. Pertumbuhan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) ikut menciptakan kebutuhan baru terhadap data center karena teknologi tersebut membutuhkan kapasitas komputasi dan penyimpanan data dalam skala besar.
Kondisi tersebut menjadi peluang bagi DCI maupun operator data center lainnya di Indonesia.
Baca juga : Respons Hype Data Center, PGEO Siap Geber Panas Bumi
Kekayaan Otto Toto Sugiri
Kesuksesan DCI Indonesia ikut membawa Otto Toto Sugiri masuk ke jajaran orang terkaya Indonesia. Forbes mencatat kekayaan bersih Otto mencapai sekitar US$8,3 miliar per 8 September 2026. Sumber kekayaan utamanya berasal dari bisnis data center.
Nilai kekayaan tersebut dapat berubah mengikuti pergerakan harga saham dan kepemilikan aset yang dimiliki. Kekayaan Otto juga menunjukkan bagaimana industri infrastruktur digital telah berkembang menjadi salah satu sumber kekayaan baru di Indonesia.
Jika generasi sebelumnya banyak membangun kekayaan melalui komoditas, manufaktur, properti, atau perbankan, Otto membangun sebagian besar kekayaannya melalui teknologi dan infrastruktur digital.
Otto bahkan dijulluki sebagai “Bill Gates-nya Indonesia”. Julukan tersebut muncul karena perjalanan Otto memiliki sejumlah kemiripan dengan karakter entrepreneur teknologi generasi awal.
Ia masuk ke industri teknologi ketika komputer dan internet belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Otto kemudian membangun bisnis di beberapa lapisan ekosistem digital, mulai dari software dan solusi teknologi melalui Sigma Cipta Caraka, konektivitas internet melalui Indonet, hingga infrastruktur pusat data melalui DCI Indonesia.
Perjalanan tersebut membuat Otto tidak hanya menjadi pengusaha data center, tetapi juga salah satu figur yang mengikuti perkembangan ekosistem digital Indonesia dari tahap awal.
Forbes menyebut Otto sebagai salah satu entrepreneur teknologi paling awal di Indonesia yang kemudian memainkan peran penting dalam perkembangan ekonomi digital melalui DCI.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 10 Sep 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 10 Sep 2026
