Sinergi UMKM dan Sekolah Siap Cetak Generasi Tangguh dan Mandiri

Kusumawati - Senin, 29 Juni 2026 09:04 WIB
praktisi pendidikan dan pengamat lokal, Dwi Joko Wibisono, S.Sn. (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) — Sebagai salah satu motor penggerak ekonomi kreatif di Jawa Tengah, Kota Solo tercatat memiliki 17.962 pelaku UMKM yang menyerap hingga 72.555 tenaga kerja pada 2026. Di sisi lain, kota ini juga memiliki modal besar di sektor pendidikan dengan total 821 sekolah dari jenjang TK hingga SMA/SMK serta SLB. Dua potensi besar ini dinilai perlu segera disinergikan lewat sebuah matching platform atau wadah kolaborasi formal.

Gagasan mengawinkan potensi lokal ini mengemuka sebagai solusi atas tingginya angka pengangguran lulusan muda serta fenomena mismatch atau ketidakcocokan keterampilan antara dunia pendidikan dan kebutuhan dunia kerja di era disrupsi kecerdasan buatan (AI).

"Sekolah mengisi kepala murid dengan ilmu, sedangkan UMKM melatih tangan mereka dengan keahlian. Ini adalah jembatan emas yang menghubungkan dunia pendidikan dengan realita ekonomi," ujar praktisi pendidikan sekaligus pengamat lokal, Dwi Joko Wibisono, S.Sn, Senin (29/06).

Melalui penerapan Kurikulum Merdeka yang kini disempurnakan dengan pendekatan deep learning (pembelajaran mendalam), para siswa dituntut untuk memiliki mental pemecah masalah (problem solver). UMKM dinilai menjadi laboratorium nyata paling ideal untuk melatih jiwa kewirausahaan, kreativitas, dan kemandirian finansial sejak dini melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) maupun program magang.

Selama ini, hambatan di lapangan biasanya dipicu oleh keraguan pelaku usaha yang khawatir waktu produktif mereka tersita untuk melatih anak magang. Padahal, generasi muda saat ini sudah sangat akrab dengan dunia digital, pembuatan konten (content creator), serta pemanfaatan media sosial yang justru sangat dibutuhkan oleh UMKM untuk melakukan penetrasi pasar.

Kolaborasi ini diyakini dapat diwujudkan melalui beberapa langkah taktis, di antaranya menjadikan sekolah sebagai pasar fisik bagi produk lokal—seperti kemitraan kantin dan koperasi dengan UMKM kuliner yang higienis serta berizin—hingga menghadirkan pelaku usaha sebagai mentor praktis atau guru tamu di kelas-kelas kewirausahaan.

Untuk merealisasikannya, Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta melalui Dinas Pendidikan serta Dinas Koperasi, UKM, dan Perindustrian diharapkan dapat duduk bersama dengan komite sekolah dan Dewan Pendidikan guna menyusun program fasilitasi resmi 'UMKM Masuk Sekolah'.

Sinergi gotong royong ini diharapkan mampu mencetak generasi yang tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga tangguh dan siap menciptakan lapangan kerja baru.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS