Safari Talk; Taman Safari Indonesia Gandeng SMG Kupas Konservasi Orangutan

Kusumawati - Jumat, 23 Oktober 2026 11:20 WIB
Safari Talks membahas konservasi Orangutan (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) — Upaya konservasi menjadi langkah krusial dalam menjaga kelestarian satwa di dunia. Tidak hanya konservasi in situ atau pelestarian flora, fauna, dan ekosistem di habitat aslinya, keberadaan konservasi ex situ di luar habitat alami juga memegang peranan yang sangat penting.

Hal tersebut menjadi bahasan utama dalam forum diskusi Safari Talk bertajuk "Orangutan dan Masa Depan Konservasi" yang digelar Solopos Media Group (SMG) bekerja sama dengan PT Taman Safari Indonesia di Radya Litera Multifunction, Griya Solopos, Kamis (22/10/2026).

Forum ini menjadi ruang belajar bersama mengenai pentingnya edukasi, kolaborasi, dan kepedulian lingkungan dalam pelestarian satwa.

Direktur Utama PT Taman Safari Indonesia, Aswin Sumampau, mengapresiasi masyarakat Kota Solo yang dinilainya memiliki kesadaran dan kedewasaan tinggi terhadap keberadaan satwa, khususnya orangutan.

Ia membeberkan insiden beberapa waktu lalu saat orangutan Solo Safari bernama Didi sempat keluar area dan mendatangi warung makan di sekitar kebun wisata. Warga menyikapi peristiwa itu dengan hangat tanpa menjadikan satwa sebagai ancaman.

“Kejadian tersebut menjadi bahan evaluasi penting bagi tim kurator dan pengelola untuk terus menyelaraskan fasilitas secara dinamis. Mengingat orangutan memiliki tingkat kecerdasan tinggi yang setara anak berusia enam tahun, pengawasan dan fasilitas wajib disesuaikan dengan perilaku satwa.” Ungkap Aswin.

Direktur Utama PT Taman Safari Indonesia, Aswin Sumampau

Ia menegaskan bahwa satwa di lembaga konservasi ex situ berperan sebagai duta spesies (ambassador of the species) untuk mengenalkan satwa secara langsung kepada masyarakat.

Menurut Aswin, belajar melalui penglihatan langsung seperti di Solo Safari akan membuat anak-anak lebih memahami bentuk, ukuran, hingga perilaku satwa, ketimbang sekadar mendengarnya seperti sebuah dongeng. Taman Safari Indonesia yang memegang pilar rekreasi, edukasi, dan konservasi juga terbuka sebagai laboratorium belajar serta pusat riset dan magang bagi masyarakat maupun mahasiswa.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, menyambut baik inisiatif forum diskusi ini. Kehadiran Solo Safari dinilai mendukung arah pariwisata Solo yang berbasis pengalaman dan pengetahuan, sejalan dengan konsep Solo the Center of Knowledge. Pemkot Surakarta melalui Dinas Pendidikan bahkan telah bekerja sama dengan Solo Safari untuk memfasilitasi program out-of-class bagi siswa sekolah.

Astrid menekankan dua nilai utama dalam pariwisata Solo, yaitu edukasi dan kepedulian lingkungan. Ia mengingatkan bahwa membahas orangutan tidak lepas dari menjaga keberadaan hutan dan masa depan lingkungan hidup secara keseluruhan.

“Kami ajak Generasi muda mengambil peran nyata melalui langkah sederhana, mulai dari mengurangi sampah plastik sekali pakai hingga aktif menyebarkan edukasi pelestarian satwa liar.” Imbuh Astrid.

Sesi talkshow turut menghadirkan Kepala Seksi KSDA Wilayah 1 Surakarta, Sudadi; Dosen Ekologi Universitas Sebelas Maret (UNS), Dr. Puguh Karyanto, S.Si., M.Si., Ph.D.; serta Vice President of Life Science Taman Safari Indonesia, drh. Bongot Huaso Mulia.

Dr. Puguh memaparkan persebaran dan struktur genetik orangutan yang memiliki kemiripan hingga 97 persen dengan manusia, sementara Sudadi menegaskan bahwa lembaga konservasi ex situ seperti Solo Safari memiliki legalitas kuat serta terbukti mampu menjadi ruang berkembang biak yang ideal bagi satwa langka.

Mengenai upaya penyelamatan satwa langka seperti orangutan, Puguh menyinggung metode konservasi ex-situ (di luar habitat alami) maupun in-situ (di dalam habitat asli).

"Ex-situ merupakan salah satu cara untuk alternatif konservasi. Tetapi ini opini pribadi saya, in-situ itu merupakan upaya konservasi yang terbaik," ujar Puguh.

Meski secara pribadi ia menilai bahwa konservasi in-situ merupakan upaya terbaik, keberadaan konservasi ex-situ dan pusat rehabilitasi tetap memegang peranan penting untuk menyelamatkan orangutan dari kepunahan.

Salah satu pertimbangan utamanya adalah periode reproduksi orangutan yang tergolong lama di alam liar.

Selain siklus perkembangbiakan yang panjang, ancaman predator hingga perilaku teritorial seperti pejantan yang membunuh anak orangutan menjadi risiko nyata di alam bebas.

Menurut Puguh ancaman-ancaman seperti ini dapat dimitigasi dengan baik melalui intervensi konservasi ex-situ.

Vice President (VP) of Life Science Taman
Safari Indonesia, Bongot Huaso Mulia, menjelaskan pihaknya banyak membantu Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) atau Kementerian Kehutanan dalam upaya konservasi terutama sumber daya. Untuk satwa orangutan pihaknya telah memiliki tenaga mumpuni dibidangnya agar satwa dilindungi tetap lestari.

"Sumber daya yang kami keluarkan bisa dalam sumber daya manusia seperti dokter hewan, keeper dalam hal melakukan repatriasi, rehabilitasi," tandasnya.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS

‌‌‌
‌‌‌
‌‌‌