Home WISATA & KULINER Puspo Wardoyo Sharin...

Puspo Wardoyo Sharing Inovasi Bisnis Masa Pandemi di Forum IABIE

Kusumawati - Rabu, 14 Oktober 2020 pukul 23.11
Puspo Wardoyo saat tampil dalam forum IABIE talk 2020 Puspo Wardoyo saat tampil dalam forum IABIE talk 2020 (sumber: Soloaja)
 
SOLO .  Pengusaha kuliner Wong Solo Grup, Puspo Wardoyo, berkesempatan berbagi tips usaha kuliner dimasa pandemi, dihadapan ratusan anggota Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE). Dalam ajang IABIE Talk 2020 enterpreuner Series, yang digelar melalui zoom dan disiarkan pada Chanel YouTube, Rabu 14 Oktober 2020.
 
Acara dengan tema Inovasi Bisnis dimasa Pandemi ini digelar secara daring, dipandu oleh Wahyu Sindhu, Waketum IABIE.
 
"Siapa yang tidak kenal dengan restoran Wong Solo. Hampir seluruh kota di Indonesia ada dan laris, kita ajak pemiliknya untuk berbagi tips bisnis aman dimasa pandemi." Kata Sindhu membuka forum.
 
Tanpa ragu, Puspo membagikan kisah suksesnya membangun kerajaan kuliner Wong Solo mulai dari nol. Mulai dari modal 3 ekor ayam, hingga sekarang miliki 287 outlet di seluruh dunia.
 
"Bisnis ini sudah saya tekuni selama 25 tahun, tentu ada pasang surutnya. Kuncinya selalu berinovasi dan membangun brand baru untuk penyegaran dan terus mengembangkan bisnis kuliner." Ungkap Puspo Wardoyo, disaksikan ratusan anggota IABIE yang ada di Indonesia maupun luar negeri.
 
Sejumlah brand kuliner yang dibangun Puspo selain Ayam Bakar Wong Solo, ada Ayam Penyet Suroboyo, Iga Bakar, Ayam KQ 5, masih banyak lagi, dan paling bungsu adalah Meal Ready Eat (MRE) MakanKu. Jenis menu MRE pertama di Indonesia, yang menjadi andalan menu disaat pandemi.
 
"Prosesnya MRE ini panjang, berawal dari keresahan jemaah haji yang susah makan saat beribadah dan kerepotan kalau harus masak sendiri. Setelah 4 tahun riset akhirnya tercipta menu MakanKu. Yakni MRE yang sehat, instan, praktis," imbuhnya.
 
Baru dua bulan di launching, pasar sangat antusias, karena dianggap makanan yang tepat dimasa pandemi yang praktis tapi enak. Sejumlah perusahaan besar sudah mulai memesan untuk karyawannya. Puspo menangkap peluang ini untuk serius menggarapnya. 
 
"Pabrik MakanKu saat ini baru bisa memproduksi 5000 boks perhari, tahun depan sudah mempersiapkan pabrik baru dengan kapasitas produksi 25 ribu boks perhari," imbuhnya.
 
Tidak hanya pasar dalam negeri, MRE MakanKu juga siap go public. Tahun depan akan membuka gerai di London UK, Saudi, Belanda, Amerika dan Malaysia.
 
"Misi kami Wong Solo menjadi rumah besar kuliner Nusantara. Kita gandeng semua kuliner Nusantara dengan misi menjadi kuliner tingkat dunia," tandasnya.
 
Sugiri, Manager MRE MakanKu menambahkan sebagai bentuk komitmen pada konsumen, semua bahan berkualitas dan organik. 
 
"Teknologi makanku tidak pakai pengawet, suhu dan tekanan tinggi, higienis atau steril dari microorganisme atau patogen." Kata Sugiri.
 
Menggunakan beras organik, telur omega3, tidak menggunakan MSG, semua alat foodgrade dan yang utama bersertifikasi halal.

Tidak hanya menu MakanKu yang sehat, namun tempat atau wadah produk makanKu juga bisa dimanfaatkan.
 
"Misalnya untuk produk haji, kami siapkan paket khusus. Tempat masak bisa digunakan berulang kali, aman dan higienis. Bahkan kalau mau dijadikan pot tanaman juga kuat dan tidak mudah rusak.
 
 
Dijelaskan kembali oleh Puspo Wardoyo, pihaknya membuat tiga jenis packRE MakanKu. Yakni dengan wadah boks plastik dengan pemanas langsung. Wadah plastik minimalis untuk microwave dan wadah kardus yang juga praktis untuk dimasak dalam air dengan plastik khusus. Lebih ringan cocok untuk traveling atau operasi militer. 
 
"Ini bukan produk pertama di dunia tapi pertama di Indonesia. Pasti nanti akan muncul pesaing pesaing baru, tidak Masalah. Kuncinya adalah jaga kualitas, kembangkan pemasaran dan terus berinovasi." Tandas Puspo.
 
Terjadi dialog dengan sejumlah tokoh IABIE. Diantaranya Bambang Pujantyo, alumni IABIE yang lama tinggal di Jepang, mengaku bangga dengan produk inovasi MakanKu.
 
"Saya optimis makanKu bisa mendunia, di Jepang banyak resto atau toko yang menyediakan makanan siap saji, saya pikir produk makanku lebih berkualitas. Apalagi dengan cara masak lebih praktis tanpan microwave, menu khas Indonesia yang juga banyak diburu para ekspatriat khususnya Indonesia. Ini pasti juga berlaku di negara negara lain," kata Bambang. 
 
Makmur Solahudin, salah satu anggota IABIE yang mengaku sudah mencicipi menu mengaku kagum dengan produk anak bangsa ini. 
 
"Tidak perlu microwave pakai air biasa sudah matang dan bisa langsung disantap, pas untuk traveling, kedaruratan, makanan anggota TNI atau kegiatan operasi militer," tandasnya.