Presiden Prabowo Targetkan Program MBG Zero Defect
BOGOR (Soloaja.co) - Presiden Prabowo Subianto menyatakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah mencatatkan tingkat keberhasilan yang sangat tinggi, mencapai 99,99 persen dalam pelaksanaannya. Meskipun demikian, pemerintah berkomitmen untuk tidak berpuas diri dan terus mendorong peningkatan kualitas layanan hingga mencapai standar zero defect (tanpa kesalahan).
Hal ini disampaikan Presiden Prabowo dalam taklimat awal tahun di agenda retret di kediamannya di Hambalang, Bogor, Selasa (6/1).
Target Zero Defect dalam Pelaksanaan
Presiden Prabowo mengapresiasi kerja keras lintas kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah yang terlibat dalam program nasional ini. Namun, ia menekankan agar capaian tersebut tidak mengendurkan semangat perbaikan.
“Kita bersyukur bahwa kalau kita pelajari dengan objektif statistik, boleh dikatakan bahwa kita 99 persen berhasil. Jadi saudara tentunya kita harapkan zero defect itu yang harus kita capai,” ujar Prabowo.
Presiden mengakui bahwa kekurangan dan penyimpangan mungkin terjadi dalam program berskala besar, namun hal itu tidak boleh menurunkan standar pelayanan. Untuk itu, pemerintah terus memperketat pengawasan, memperkuat tata kelola distribusi, dan meningkatkan kualitas bahan pangan.
- 5 Barang Tak Terpakai yang Bisa Jadi Tambahan Tabungan
- Trafik Naik 15%, Indosat Jamin Jaringan Jateng-DIY Stabil
Jangkauan MBG Lampaui Negara Lain
Program MBG saat ini telah menjangkau sekitar 55 juta penerima manfaat sejak dicanangkan pada 6 Januari 2025. Angka ini dinilai sebagai prestasi besar jika dibandingkan dengan program serupa di negara lain, seperti Brasil yang baru menjangkau 40 juta penerima setelah 11 tahun berjalan.
“Ini menunjukkan bahwa bangsa kita mampu bergerak cepat ketika ada kemauan politik dan keberpihakan yang jelas kepada rakyat,” ungkapnya.
MBG diluncurkan sebagai respons atas masalah gizi anak, di mana sekitar satu dari lima anak Indonesia masih kekurangan gizi dan puluhan juta anak pergi ke sekolah tanpa sarapan—kondisi yang berkontribusi pada stunting dan kualitas SDM.
Mengutip pesan Soekarno, Presiden Prabowo menutup dengan menegaskan urgensi mengatasi kelaparan: "the hungry stomach cannot wait (perut yang lapar tidak bisa menunggu)."
