Pemberdayaan KWT Kopen SAE Ngadirejo: UMS Inisiasi Inovasi Hidroponik

Kusumawati - Kamis, 11 Juni 2026 10:45 WIB
Dosen dan mahasiswa UMS membantu Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngadirojo Kartasura Sukoharjo pola tanam hidroponik (Soloaja)

SUKOHARJO (Soloaja.co) — Tim dosen dan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Penguatan Ekonomi Hijau Kelompok Wanita Tani Kopen SAE melalui Inovasi Produksi dan Pemasaran Sayur Hidroponik di Desa Ngadirejo, Kartasura.”

Langkah nyata ini diambil sebagai bagian dari komitmen berkelanjutan dalam mendukung pemberdayaan masyarakat dan penguatan ketahanan pangan di tingkat keluarga.

Sebagai salah satu implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, program ini berfokus pada peningkatan pengetahuan, keterampilan, serta kemandirian ekonomi warga melalui pemanfaatan teknologi pertanian sederhana.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini berhasil memperoleh dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Republik Indonesia Tahun 2026.

Penggagas program sekaligus dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMS, Dr. Masduki, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa metode budidaya hidroponik dipilih karena sangat ideal diterapkan pada kawasan permukiman yang memiliki keterbatasan lahan.

Melalui media tanam tanpa tanah dan sistem nutrisi terkontrol, metode ini mampu menghasilkan sayuran yang jauh lebih sehat, higienis, serta bernilai ekonomis tinggi.

"Sistem hidroponik relatif mudah diterapkan oleh masyarakat, termasuk ibu rumah tangga yang ingin memanfaatkan pekarangan rumah secara produktif," ujar Masduki, Selasa (9/6/2026).

Pendampingan Teknis dan Penguatan Lembaga

Selama jalannya program, para anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Kopen SAE mendapatkan pembekalan komprehensif. Materi yang diberikan mencakup konsep dasar hidroponik, pengenalan berbagai jenis sistem, teknik penyemaian benih, pengelolaan nutrisi, hingga metode perawatan berkala tanaman hingga memasuki masa panen tiba.

Tidak sekadar memaparkan teori, tim dosen dan mahasiswa UMS juga memberikan pendampingan langsung melalui praktik lapangan. Pendekatan interaktif ini memicu antusiasme tinggi dari para peserta, yang terlihat aktif dalam sesi diskusi maupun simulasi budidaya.

Ketua tim pengabdian UMS menambahkan bahwa program ini memiliki target jangka panjang berupa penguatan kelembagaan KWT sebagai wadah strategis pemberdayaan perempuan di tingkat desa.

Ke depan, KWT diharapkan mampu mengelola usaha sayuran hidroponik ini secara mandiri dan berkelanjutan, baik untuk mencukupi kebutuhan gizi domestik maupun menjadi sumber pendapatan baru bagi kas keluarga.

Di samping dampak ekonomi, inovasi pertanian ramah lingkungan ini sekaligus menjadi stimulan bagi warga sekitar untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya mengonsumsi pangan sehat. Dengan kemudahan memproduksi sayuran segar di pekarangan sendiri, pemenuhan gizi seimbang yang bebas pestisida kini jauh lebih mudah dijangkau oleh masyarakat Desa Ngadirejo.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS