Peduli Lingkungan, Dai MUI Sosialisasi Daur Ulang via Wayang
SOLO (Soloaja.co) – Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko, menggelar kegiatan sosialisasi pengelolaan sampah berbasis seni budaya pada Rabu (14/10/2026). Menggunakan media Wayang Sak Semen Press (SSP), aksi ini ditujukan untuk mencegah kerusakan lingkungan sesuai dengan panduan Fatwa MUI Nomor 41 Tahun 2014.
Kegiatan bertajuk “Gerakan Kecil untuk Dunia Bebas Sampah Plastik: Sampahku Tanggung Jawabku” ini terselenggara berkat kolaborasi dengan SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta di bawah pimpinan Sri Sayekti, serta didukung oleh budayawan berkemajuan Ki Agung Sudarwanto, S.Sn., M.Sn.
- Targetkan 12 Emas, 187 Atlet Sukoharjo Siap Tempur di Porprov Jateng 2026
- Dilepas dari Solo, 103 Atlet Indonesia Siap Tempur di Asian Para Games 2026
“Terima kasih atas tugas dari panitia Akademi Dakwah Digital 1, Kepala Sekolah Sri Sayekti, dan budayawan Agung Sudarwanto dalam mendukung MUI melalui Fatwa Nomor 41 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Sampah untuk Mencegah Kerusakan Lingkungan,” ujar Ustaz Dwi Jatmiko.
Ia menambahkan, menjaga kebersihan adalah cerminan ajaran Islam sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Baqarah ayat 222, bahwa Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri. Di dalam fatwa MUI tersebut, setiap Muslim diwajibkan menjaga kebersihan lingkungan, memanfaatkan barang bekas demi kemaslahatan, serta menghindari perilaku tabdzir (menyia-nyiakan) dan israf (berlebih-lebihan).
- Gandeng 1.985 KDKMP, BULOG Geber Penyebaran Beras SPHP ke Desa-Desa
- Evolusi Aplikasi MyBluebird, Tawarkan Layanan Mobilitas Konsumen Lebih Personal
Mengenal Wayang SSP: Inovasi Daur Ulang Ramah Lingkungan
Guna menyampaian pesan dakwah yang menarik, Guru PAI dan Bahasa Arab SD Muhammadiyah 1 Solo ini memanfaatkan Wayang SSP (Sak Semen Press), yakni seni kriya wayang alternatif yang menggunakan bahan baku daur ulang dari 8 hingga 12 lembar kantong atau sak semen bekas sebagai pengganti kulit hewan.
Proses pembuatannya diawali dengan membersihkan lembaran kertas semen, melapisinya dengan lem kayu secara bertahap, lalu dipres menggunakan papan kayu dan dikeringkan cukup dengan diangin-anginkan. Setelah itu, dilanjutkan pembuatan sketsa, proses menatah detail karakter, hingga tahap penyunghingan (pewarnaan) layaknya wayang kulit tradisional. Bagian gapit (gagang) memadukan material kayu atau rotan agar wayang dapat berdiri kokoh.
- Akselerasi Streamlining, Telkom Incar Valuasi Rp550 T
- 5 Oleh-oleh Khas Jakarta yang Cocok untuk Keluarga dan Teman
"Keunggulannya menjadi solusi seni yang lebih terjangkau dan ramah lingkungan, dengan tingkat kemiripan tekstur serta kelenturan mencapai 90 persen menyerupai wayang kulit asli," terang Dwi Jatmiko.
Edukasi Budaya dan Estetika Sejak Dini
Sementara itu, budayawan Ki Agung Sudarwanto menyoroti hadirnya Wayang SSP dari sudut pandang estetika dan edukasi budaya lingkungan. Menurutnya, budaya bersih berkaitan erat dengan rasa kepemilikan (sense of belonging) terhadap ruang publik.
“Ketika masyarakat dididik untuk bangga terhadap kebersihan daerahnya, membuang sampah sembarangan akan dianggap sebagai tindakan anti-sosial dan tabu secara budaya. Integrasi kurikulum lingkungan sejak usia dini membentuk budaya sadar sampah yang melekat hingga dewasa,” pungkas Agung.
