PB XIV Mendalang, Pusaka Kanjeng Kiai Jimat Kembali Dihidupkan
SOLO (Soloaja.co) — Pagelaran Ringgitan Anggara Kasih yang berlangsung di Kagungan Dalem Peringgitan Bangsal Parasdyа, Karaton Surakarta Hadiningrat, Senin malam (19/10/2026), menjadi saksi momen bersejarah. Sri Susuhunan Pakubuwana XIV (PB XIV) tampil langsung memainkan wayang sebagai pembuka pertunjukan, menandai kembalinya tradisi pedalangan sekaligus pusaka wayang bersejarah Kanjeng Kiai Jimat ke ruang pertunjukan.
Setelah pembukaan oleh PB XIV, pagelaran utama diteruskan oleh dalang Dr. KPH Raditya Lintang Sasangka, M.Si., yang juga merupakan cucu Pakubuwono X, dengan membawakan lakon Dewa Ruci. Acara ini turut dihadiri oleh dalang kondang Ki Purbo Asmoro.
- Kopdes Merah Putih Diproyeksikan Jadi Pusat Ekonomi Masyarakat
- Telkom Perkuat Akses Digital dan AI Domestik di BTW 2026
Kembalinya Pusaka Wayang Setelah 33 Tahun
Salah satu daya tarik utama pagelaran ini adalah dimainkannya kembali Kanjeng Kiai Jimat, pusaka wayang peninggalan era Pakubuwono IV. Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta Hadiningrat, GKR Koes Moertiyah Wandansari (Gusti Moeng), menyebutkan bahwa pusaka tersebut memiliki koleksi hampir 700 tokoh wayang.
"Pusaka ini pernah dimainkan pada masa Pakubuwono XII di Sasana Handrawina oleh Ki Anom Suroto, dan diperkirakan terakhir dipentaskan sekitar tahun 1993," jelas Gusti Moeng.
Penggunaan kembali Kanjeng Kiai Jimat pada Oktober 2026 ini menandai jeda sekitar 33 tahun sejak terakhir kali dimainkan di panggung pedalangan.
- Ni Nengah Widiasih Raih Medali Pertama Indonesia APG 2026
- Batik Balontang Kasmaran UNS Tampil di Sragen Batik Heritage 2026
Menghidupkan Tradisi Era Pakubuwono IV
Dr. KPH Raditya Lintang Sasangka, M.Si., menyampaikan bahwa tradisi wayangan ini telah berlangsung sejak era Pakubuwono IV dan kini kembali dihidupkan pada masa pemerintahan PB XIV. Keterlibatan langsung raja serta penggunaan pusaka bersejarah mempertegas komitmen keraton dalam menjaga kesinambungan warisan budaya lintas generasi.
Pilihan lakon Dewa Ruci memperkuat nilai filosofis pagelaran malam tersebut. Mengisahkan perjalanan Bima dalam mencari hakikat pengetahuan dan jati diri, lakon ini menggambarkan pencarian batin manusia yang penuh keteguhan dan makna kehidupan.
Pagelaran Ringgitan Anggara Kasih tidak hanya menjadi ruang pertunjukan seni, tetapi juga simbol penghormatan terhadap pengetahuan, cerita, dan tradisi leluhur yang terus dijaga kelestariannya oleh Karaton Surakarta Hadiningrat.
