OJK dan UMS Tekankan Integritas Pemimpin Masa Depan

Kusumawati - Sabtu, 30 Mei 2026 20:02 WIB
SPARK CAMP kerjasama OJK dan FEB UMS (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggandeng Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar SPARK CAMP (Saluran Pembelajaran ARK on Campus) di Gedung Ahmad Syafii Maarif UMS, Jumat (22/5). Kegiatan ini mengusung tema *The Guardian of Governance*: "Membangun Integritas Pemimpin Masa Depan".

Wakil Rektor IV UMS, Prof. Dr. dr. Em Sutrisna, M.Kes., menegaskan bahwa seorang pemimpin tidak hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi wajib memiliki tanggung jawab moral dan kejujuran. Merujuk filosofi tokoh Muhammadiyah K.H. Agus Salim, ia mengingatkan ungkapan *Leiden is lijden* yang berarti memimpin itu menderita.

"Jadi kalau diangkat sebagai pemimpin, siap-siaplah untuk menderita," ujarnya. Ia menyayangkan nilai pengorbanan yang mulai pudar karena banyak orang berlomba memperebutkan jabatan. Padahal, budaya di Muhammadiyah selalu mengedepankan amanah dibanding ambisi kekuasaan.

Lebih lanjut, Em Sutrisna mengingatkan mahasiswa agar tidak sekadar mengejar Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Sifat rasul seperti shiddiq, amanah, tabligh, dan fathonah harus menjadi inti integritas dalam kehidupan sehari-hari. "Nilai IPK saja tidak cukup. Setiap kalian adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban," tambahnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Audit OJK, Sophia Wattimena, menyampaikan bahwa tata kelola (*governance*) harus dijalankan melalui proses yang berintegritas, akuntabel, dan transparan. Nilai ini dinilai sangat selaras dengan budaya UMS.

"Kompetensi yang dimiliki harus disertai integritas yang kuat. Jadi tidak cuma pintar saja, tetapi juga punya karakter," ungkap Sophia.
Ia menjelaskan, tata kelola yang baik berdampak langsung pada kualitas *outcome* sebuah sistem, termasuk dalam perkembangan teknologi dan infrastruktur.

Pada kesempatan itu, Sophia juga memaparkan peran OJK dalam mengawasi industri jasa keuangan nasional—mulai dari perbankan, asuransi, dana pensiun, hingga pasar modal—dengan total aset pengawasan mencapai kisaran Rp30.000 triliun.

"Penerapan tata kelola di sektor jasa keuangan menjadi sangat krusial untuk menjaga stabilitas keuangan dan kepercayaan publik," tandasnya.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS