Menuju IRF 2022, Mugi Dance Gandeng Pengrawit Difabel Nglaras Rasa Bhakti Chandrasa
SUKOHARJO (Soloaja.co) - Menyambut penetapan gamelan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO, Mugi Dance merayakan bersama Nglaras Rasa Bhakti Chandrasa komunitas difabel sensorik netra di Surakarta.
Kelompok Nglaras Rasa Bhakti Chandrasa adalah pangrawit binaan dari Rumah Pelayanan Sosial Difabel Sensorik Netra (RPSDSN) dan merupakan bagian dari Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah.
- Cegah Gelombang Ketiga, Mahasiswa UNS Bentuk Desa Tangguh Bencana Covid-19
- Churros Wortel Antarkan FE Univet Meraih Juara 3 di Business Plan Competition Ecofury 2021 UNJANI
Kelompok seni karawitan ini pula yang akan dibawa dalam ajang Festival Hujan International 2022 (IRF 2022), oleh Mugi Dance.
Mugiyono Kasido, Direktur artistik IRF mengatakan event tahunan IRF masih digelar secara daring, di Studio Mugi Dance, Pucangan, Kartasura, Sukoharjo.
"Sejumlah persiapan sudah dilakukan jauh hari, momennya tepat saat UNESCO menetapkan gamelan sebagai warisan tak benda dunia, kami juga mempersiapkan untuk tampil dalam IRF," ungkap Mugiyono, Minggu (19/12/2021).
- Sambut Hari Ibu, Ikaboga Gandeng STIE Wijaya Mulya Lomba Menu Berbahan Waluh
- Kejuaraan Tenis Meja Silavera Piala Wakil Bupati Karanganyar, Semangat Atlit Veteran
- Dua Mahasiswa DKV ISI Surakarta Lolos Kampus Mengajar MBKM, Siapkan Program Kreatif
Kelompok yang diasuh oleh Sartono, S.Sos itu menampilkan Gending "Udan Mas" dan juga Gending "Ilir Ilir". Semua dibawakan oleh teman difabel sensorik netra, mulai dari vocal hingga penabuh gamelannya. Total melibatkan 20 anak.
IRF 2022 akan digelar secara virtual di channel YouTube @mugi dance pada 22 Januari 2022. Masih melibatkan sejumlah seniman dari dalam dan luar negeri.

"Festival hujan pada 2022 ini akan memasuki usia sewindu dan kami selalu mengusung misi mengajak masyarakat mensyukuri berkah hujan melalui media seni khususnya seni pertunjukan." Imbuh Mugi.
Curahan air dari langit dapat menjadi bencana manakala kita tidak siap menerimanya. Dalam setiap festival selalu disisipi workshop tentang pengelolaan lingkungan hidup seperti membuat biopori, membuat air alkali, penanganan ular dan lain- lain.