Konflik Ancam Ekonomi, Pakar UMS Dorong Kemandirian Energi
SOLO (Soloaja.co) – Ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu kekhawatiran akan stabilitas ekonomi global. Guru Besar FEB Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Muhammad Sholahuddin, Ph.D., memperingatkan bahwa Indonesia harus waspada terhadap dampak domino dari konflik di kawasan Timur Tengah tersebut.
Menurut Prof. Sholahuddin, ancaman terbesar terletak pada gangguan di Selat Hormuz, jalur krusial yang dilewati hampir 20 persen pasokan minyak dunia. Jika jalur ini terhambat, lonjakan harga energi global tidak dapat dihindari.
- KAI Daop 6 Buka Layanan Penukaran Uang Baru di Stasiun
- Tak Banyak yang Tahu, Ini 7 Manfaat Susu Saat Sahur
Dampak Langsung bagi Indonesia
Indonesia, yang masih mengandalkan impor untuk memenuhi separuh kebutuhan minyak nasional, sangat rentan terhadap gejolak harga ini. Kenaikan harga minyak dunia dipastikan akan memicu kenaikan biaya logistik, transportasi, hingga harga kebutuhan pokok.
“Gangguan energi global akan meningkatkan biaya logistik dan premi asuransi risiko perang. Dampaknya akan merembet ke pasar keuangan dan harga barang yang pada akhirnya paling terasa bagi masyarakat kelas bawah,” jelas Sholahuddin, Selasa (10/3/2026).
Solusi: Energi Surya dan Hilirisasi Riset
Menghadapi tantangan ini, Sholahuddin menilai Indonesia harus segera memperkuat kemandirian ekonomi melalui dua langkah strategis:
* Akselerasi Energi Alternatif: Memanfaatkan letak geografis Indonesia yang tropis untuk mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) secara masif guna mengurangi ketergantungan pada minyak.
- Terlalu Banyak Berita Perang? Ini 6 Cara Jaga Mental
- 9 Ciri-ciri Anda Terlalu Terobsesi dengan Produktivitas
* Hilirisasi Inovasi Kampus: Perguruan tinggi didorong untuk menghilirkan hasil riset agar dapat digunakan langsung oleh industri, memperkuat produksi dalam negeri, dan mengurangi ketergantungan impor.
Potensi Perang Dunia Ketiga
Terkait isu Perang Dunia Ketiga, Prof. Sholahuddin mengimbau masyarakat untuk tetap tenang. Ia menilai kemungkinan tersebut masih relatif kecil selama konflik tidak meluas ke blok negara lain secara masif.
"Masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana kita memperkuat ekonomi domestik dan memanfaatkan inovasi lokal untuk kemajuan bangsa," pungkasnya.
