Keraton Surakarta Gelar Labuhan Adang Tahun Dal di Parangkusumo
YOGYAKARTA (Soloaja.co) — Deru ombak Pantai Parangkusumo menjadi saksi bisu tuntasnya rangkaian ritual delapan tahunan Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Pada Minggu Legi (19/4), Karaton melaksanakan Upacara Adat Labuhan Ubo-rampé Adang Tahun DAL 1959 dengan penuh kekhidmatan.
Prosesi dimulai sejak pagi hari melalui ritual *wilujengan* di Kagungan Dalem Sasono Parasedyo. Di sana, doa-doa dipanjatkan demi keselamatan dan kemuliaan Karaton sebelum rombongan abdi dalem bertolak menuju Bantul, Yogyakarta. Ritual ini bukan sekadar rutinitas, melainkan kewajiban adat yang muncul setiap sewindu sekali dalam penanggalan Jawa.
- Mahasiswa UMS Raih Emas di MTE 2026 Melalui Inovasi PERMATA
- Bekuk Electric PLN, Popsivo Tutup Final Four Semarang dengan Gemilang
Kesinambungan Takhta
Pelaksanaan *hajad dalem* kali ini memiliki bobot historis yang kuat. SISKS Pakoe Boewono XIV secara resmi melanjutkan rangkaian upacara yang diamanatkan oleh Sawarga SISKS Pakoe Boewono XIII.
Dalam tatanan *paugeran*, setelah prosesi *Adang* (menanak nasi) dilakukan pada bulan Mulud, maka seluruh peralatan yang digunakan—disebut *ubo-rampé*—wajib dilarung atau dilabuh ke laut selatan sebagai penutup ritual.
*Ubo-rampé* yang dilabuh mencakup perlengkapan dari Kagungan Dalem Pawon Gondorasan, mulai dari *pawon* (tungku), kipas, hingga peralatan pendukung lainnya.
- Lindungi Guru dan Warga Miskin, Walikota Solo Bentuk Tim Bantuan Hukum
- Napak Tilas Sejarah, Ratusan Advokat KAI Ziarah ke Astana Giribangun
Sinergi Masyarakat
Di bawah arahan KGPH. Adipati Dipokusumo, prosesi pelarungan berlangsung tertib. Menariknya, acara ini juga menunjukkan harmoni sosial dengan keterlibatan aktif berbagai perguruan silat seperti PSHT, IKSPI Kera Sakti, Pagar Nusa, dan PSHW-TM yang membantu pengamanan.
Juru Bicara Sri Susuhunan, KPA Singonagoro, menegaskan bahwa langkah ini adalah bentuk komitmen Sinuwun PB XIV dalam menjaga marwah tradisi.
"Ini bukti bahwa Sinuwun sangat berkomitmen melestarikan adat adiluhung Karaton Surakarta," pungkasnya. Dengan labuhan ini, Karaton kembali menegaskan eksistensinya sebagai penjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
