Jaga Eksistensi Musik Rock, Komunitas Rock In Halte Gelar Halalbihalal

Kusumawati - Sabtu, 28 Maret 2026 09:10 WIB
Keluarga besar Rock in Halte saat halal bihalal di Pondok Kayu Sunrise Waduk Cengklik (Soloaja)

BOYOLALI (Soloaja.co) – Semangat musik cadas tak pernah padam di Solo Raya. Hal ini terbukti dengan digelarnya acara silaturahmi dan halalbihalal keluarga besar komunitas Rock In Halte (RIH) yang berlangsung hangat di Pondok Kayu Sunrise, kawasan Waduk Cengklik, Boyolali, Sabtu (28/3/2026).

Acara ini menjadi ajang temu kangen bagi para personel band, anggota komunitas, hingga para penggemar fanatik musik rock. Momentum ini sekaligus menjadi perayaan atas eksistensi Rock In Halte yang kini telah menjadi barometer musik rock di tingkat nasional.

Wadah Musisi yang Sempat "Banting Setir"

Manajer Rock In Halte, Marzuki, menceritakan awal mula terbentuknya wadah ini pada 16 Juni 2024. RIH lahir dari kegelisahan melihat banyak musisi Solo Raya yang kehilangan panggung hingga terpaksa banting setir ke profesi lain.

"Dulu banyak band remaja dan senior yang bingung mau main di mana setelah latihan. Akhirnya banyak yang bubar. Dari situ kami menggagas Rock In Halte sebagai wadah. Kami mulai dari perizinan di koridor jalan (Car Free Day) hingga akhirnya sekarang band-band dari Jakarta, Surabaya, Jogja, hingga vokalis Power Slaves, Heydi Ibrahim, pernah merapat ke sini," ungkap Marzuki.

Saat ini, Rock In Halte memiliki dua band homebase utama, yakni No Name (Vokal: Mr. Glen & Anik Satria, Gitar: Rusdi, Bass: Aminata, Drum: Bekti, Keyboard: Yusak) dan Liner (Gitar: Ipung, Bass: Toni, Keyboard: Kris Yulian, Drum: Didit).

Dosen dan pengamat Seni budaya Potan Rambe

Melestarikan Klasik Rock di Era Digital

Marzuki menambahkan bahwa visi utama komunitas beranggotakan sekitar 87 orang ini adalah melestarikan Classic Rock. Meski demikian, mereka tetap terbuka bagi band dengan genre berbeda untuk tampil dengan durasi khusus.

"Tujuan kita melestarikan klasik rock. Dalam waktu dekat, kami berencana menggelar event ulang tahun RIH pada 16 Juni mendatang yang rencananya akan digelar di halaman Balai Kota Surakarta," tambahnya.

Apresiasi dari Pengamat Seni

Dukungan mengalir dari berbagai pihak, salah satunya Potan Rambe, seorang pengamat seni dan managemen radio EBS . Ia mengaku bangga dengan konsistensi Rock In Halte dalam menjaga pesan melalui musik.

"Rock itu liriknya kuat dan pesannya solid. Saya percaya Rock In Halte bisa terus eksis melestarikan musik rock di Indonesia, khususnya dari Solo. Musik adalah pesan terbaik yang mudah tersampaikan," ujar Potan.

Senada dengan hal tersebut, Nanang selaku pemilik Pondok Kayu Sunrise Waduk Cengklik, mengaku bangga tempatnya dijadikan titik kumpul para rockers. "Kami selalu mendukung kegiatan seni budaya dan silaturahmi seperti ini, apalagi saya pribadi memang penyuka musik," pungkasnya.

Acara ditutup dengan sesi jamming santai dan diskusi mengenai perkembangan musik rock di Solo Raya, memperkuat semboyan bahwa semangat rocker tidak akan pernah hilang dimakan zaman.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS