Islam di AS Berkembang, Syamsi Ali Berbagi Pengalaman Dalam Kuliah Umum di UMS
SOLO (Soloaja.co) — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar kuliah umum bersama Imam Besar Islamic Center of New York, Muhammad Syamsi Ali, Lc., M.A., Ph.D., di Masjid Hj Sudalmiyah Rais, Kamis (21/5). Dalam acara tersebut, tokoh asal Indonesia ini membagikan catatan perjalanan dakwahnya selama hampir tiga dekade di pusat Kota New York.
Wakil Rektor III UMS, Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., mengungkapkan rasa syukur atas kehadiran sang imam. Menurutnya, momentum ini merupakan berkah besar bagi civitas akademika untuk menyerap wawasan segar mengenai dinamika Islam di dunia Barat secara langsung dari pelakunya.
- Dies Natalis ke46, UNISRI Ziarah ke TMP Jurug, Pendiri dan Mantan Rektor
- UOB Painting of the Year 2026 Resmi Dibuka, Catat Syarat dan Hadiahnya!
“Kalau selama ini kita mendapatkan informasi dari tulisan, hari ini kita bersama langsung dengan Ustaz Muhammad Syamsi Ali yang memang banyak memberikan warna dan pengaruh perkembangan Islam di Amerika,” tutur Mutohharun.
Di hadapan peserta, Syamsi Ali menceritakan napak tilas hidupnya yang bermula dari Pesantren Muhammadiyah Darul Arqam Gombara, menjadi atlet Tapak Suci, menempuh studi di Pakistan, mengajar di Arab Saudi, hingga akhirnya menetap di Amerika Serikat.
Ia memaparkan bahwa meski Amerika merupakan negara adidaya secara ekonomi dan militer, wilayah tersebut menghadapi tantangan moral yang serius. Di sinilah Islam hadir bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai jalan penyelamatan (salvation). Fenomena ini justru menguat pascatragedi 11 September 2001 (9/11), di mana gelombang warga yang mempelajari dan memeluk Islam justru melonjak drastis.
- Solo Safari Luncurkan 'Safari Vibes', Wisata Malam Estetik
- OCBC Catat Pertumbuhan Pesat Bisnis Wealth Management
Lebih lanjut, Syamsi menekankan pentingnya pendekatan rasional dalam berdakwah. Generasi muda di Barat saat ini merupakan generation of whys yang selalu menuntut alasan logis di balik sebuah ajaran agama.
Selain rasionalitas, kekuatan perilaku (dakwah bil hal) dan keramahan menjadi kunci pemikat yang efektif. Ia mencontohkan kisah seorang mahasiswi Columbia University yang mantap bersyahadat setelah terkesan melihat kehangatan dan keramahan masyarakat Indonesia dalam sebuah acara halal bihalal di New York.
Menutup pemaparannya pada sesi diskusi yang mengupas isu Islamofobia hingga konstelasi politik global, Syamsi Ali mengingatkan pentingnya soliditas internal umat muslim di tengah perbedaan mazhab.
“Hal yang paling menyakitkan bagi umat Islam adalah perpecahan, bukan perbedaan,” pungkasnya.
