Home SOLOPOLITAN Hari Jadi Solo ke-27...

Hari Jadi Solo ke-276, Elizabeth Sudira : Pemuda Harus Memiliki Daya Juang yang Tinggi

Kusumawati - Rabu, 17 Februari 2021 pukul 23.40
Elizabeth Sudira Elizabeth Sudira (sumber: Istimewa)

SOLO (Soloaja.co) – Setiap tanggal 17 Februari selalu menjadi momen spesial yang dinantikan oleh warga Kota Solo. Pada tanggal tersebut, selalu diperingati sebagai Hari Jadi Kota Solo semenjak pemindahan Keraton Mataram dari Kartasura ke Desa Sala pada tahun 1745 silam oleh Paku Buwono (PB) II. Menginjak tahun ini, usia Kota Solo genap menjadi 276. Salah satu alumnus Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Elizabeth Sudira telah menyumbang kontribusi pada Kota Surakarta melalui beberapa karya yang telah diciptakannya seperti Rindu Solo dan Semerdu Lokananta.

Alumnus D3 Hubungan Masyarakat (Humas) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UNS ini berkisah masa-masa kuliahnya. Perempuan yang akrab disapa Eliz ini, mulai menyandang status mahasiswa baru di UNS pada tahun 2009 lalu. Ketika berkuliah, ia sudah memulai karirnya dengan menjadi penyiar radio dan penyanyi.

“Ketika kuliah, saya termasuk mahasiswa kupu-kupu, kuliah pulang kuliah pulang karena memang pada saat itu saya kuliah sambil bekerja. Saya sudah menjadi penyiar radio dan juga menyanyi di beberapa restoran. Jadi, saya _nggak_ sempat ikut ekstrakurikuler kuliah tapi saya sangat menikmati masa kuliah saya,” ujar Eliz.

Pada masa-masa awal perkuliahan, Eliz berhasil mengukir prestasi sebagai Putri Solo 2 pada tahun 2010. Tak berhenti sampai situ, pada tahun berikutnya, Eliz dinobatkan sebagai pemenang Duta Bahasa Jawa Tengah. Atas pencapaiannya itu, ia mewakili Jawa Tengah maju ke tingkat nasional. Untuk pertama kalinya, Jawa Tengah yang saat itu diwakili oleh Eliz dan Hanifan Fuadi, mahasiswa Sastra Inggris UNS, berhasil meraih juara pertama Duta Bahasa Nasional.

Setelah lulus dari UNS, ia mulai berkarier sebagai pembawa acara di beberapa acara formal dan festival yang ada di Kota Solo. Hingga kini, ia masih menjalani karir sebagai pembawa acara, bahkan Eliz dilabeli sebagai _Master of Ceremony_ (MC) Presiden, karena ia kerap menjadi pembawa acara ketika Joko Widodo hadir di Kota Solo dan sekitarnya.

“Sampai hari ini, saya masih menjalani karir sebagai pembawa acara. Kalau orang-orang, biasa melabeli saya dengan MC Presiden karena setiap kali Bapak Presiden hadir di daerah Solo dan sekitarnya, saya yang biasanya menjadi MCnya,” jelas Eliz.

Selain itu, Eliz juga sempat berkeliling Indonesia bersama dengan Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf) yang sekarang sudah bersatu dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Kemenparekraf RI). Pada tahun 2019 lalu, ia juga terpilih sebagai maskot Solo International Performing Arts (SIPA). Eliz mengaku, hal tersebut menjadi pengalaman yang sangat menarik baginya.

“Tahun 2019 lalu, saya dipilih menjadi maskot Solo International Performing Arts dan itu adalah pengalaman yang luar biasa menarik karena salah satu alasan yang dipilih adalah karena saya berkarya membuat sebuah lagu bernama Rindu Solo yang dianggap sebagai lagu yang dapat merepresentasikan Kota Solo. Terlebih lagi, secara pribadi saya sebagai Putri Solo yang tidak pernah meninggalkan kota ini. Saya kuliah juga di Solo dan saya bisa menuliskan lagu tersebut, kemudian lagu tersebut dicintai oleh banyak orang,” kata Eliz.

Lagu yang berjudul Rindu Solo ini, kemudian disusul oleh karya Eliz yang lain yakni Semerdu Lokananta yang diciptakan ketika memperingati hari ulang tahun Studio Lokananta. Karya-karya yang dibuat Eliz, mencerminkan rasa kecintaannya pada Kota Solo. Menurutnya, Solo adalah tempat terbaik yang pernah ia tinggali.

“Saya merasa bahwa tempat terbaik yang pernah saya tinggali adalah Kota Solo, yang ingin saya sampaikan lewat lagu-lagu tersebut adalah rasa kebanggaan dan juga rasa cinta saya pada kota ini, tentu saja dengan segala harta benda yang ada di dalamnya, keajaiban-keajaiban, keelokan yang ada di dalamnya. Salah satunya adalah Lokananta,” jelasnya.

Pada usia Kota Solo yang ke-276 ini, Eliz berharap agar para pemuda khususnya mahasiswa UNS dapat menjadi sosok yang berani, tangguh, memiliki daya juang yang tinggi, dan tidak menjadi orang yang cepat puas.

“Pada tahun ini Solo memasuki usia yang ke-276, saya berharap teman-teman muda, terutama teman-teman UNS, adik-adik mahasiswa, saya berharap kalian bisa menjadi mahasiswa yang berani, yang tangguh, yang punya daya juang tinggi. Kalian yang tidak cepat puas, selalu menggali kelebihan kalian masing-masing dan tentu semuanya itu untuk hal yang bermanfaat,” pesan Eliz.

Eliz menambahkan agar ilmu yang telah dipelajari dapat bermanfaat bagi sesama. “Saya berharap sekali, ilmu apapun yang teman-teman pelajari, teman-teman bisa menjadi anak muda yang bermanfaat bagi sesama, bagi kota, dan lebih luar biasanya bagi bangsa ini,” tambahnya.

Pada akhir wawancara, Eliz juga membagikan moto hidupnya bahwa hanya ada 2 kata yang membuatnya cakap yakni mau dan bisa.

“Saya percaya bahwa hanya ada 2 kata yang membuat kita cakap menghadapi setiap hal dan meraih masa depan yang gemilang adalah mau dan bisa. Kalau kalian menghadapi tantangan apa pun, kesempatan apa pun yang ada di depan mata, selalu bilang saya mau, saya bisa karena _magic words_ itu yang akan membuat teman-teman akhirnya bisa melangkah dan mempelajari, kemudian berbuat sesuatu, enggak hanya diam, tapi teman-teman berbuat sesuatu bahkan berbuat banyak,” pungkas Eliz.