Gubernur Lemhannas : Kuasai Geopolitik Global dan Literasi Digital

Kusumawati - Selasa, 11 Agustus 2026 16:26 WIB
Gubernur Lemhanas bersama Rektor UNS saat acara PKKMB UNS (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) — Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI), Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si. menekankan pentingnya penguatan nasionalisme, kemampuan membaca perubahan geopolitik, literasi digital, serta integritas kepada mahasiswa baru Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Hal tersebut disampaikannya saat memberikan pembekalan dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di hadapan 11.237 mahasiswa baru UNS yang bertempat di Auditorium G.P.H. Haryo Mataram UNS, Selasa (11/8).

“Perguruan tinggi harus menjadi ruang untuk membangun kemampuan berpikir kritis, kemampuan membaca, kemampuan melakukan riset, dan kemampuan menganalisis persoalan secara mendalam,” ujar Dr. Ace Hasan Syadzily.

Ia menilai mahasiswa perlu memiliki kemampuan membaca perubahan dunia karena lingkungan strategis global saat ini berkembang sangat cepat dan kompleks. Persaingan antarnegara tidak hanya berlangsung dalam aspek geopolitik, tetapi juga mencakup geoekonomi, teknologi, penguasaan data, keamanan siber, hingga perebutan pengaruh di ruang digital.

Menurutnya, perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Kemudahan memperoleh informasi harus diimbangi dengan kemampuan melakukan verifikasi dan berpikir kritis.

“Jangan sampai kemudahan teknologi justru membuat kedalaman berpikir kita menjadi dangkal. Kita tidak boleh menyerahkan seluruh proses berpikir kita kepada algoritma,” tegasnya.

Selain posisi geografis, Indonesia juga memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Potensi tersebut, menurutnya, harus dikelola sebagai kekuatan nasional yang mampu mendukung pembangunan dan meningkatkan posisi Indonesia dalam persaingan global.

Di hadapan mahasiswa baru UNS, Gubernur Lemhannas RI juga menyoroti momentum bonus demografi yang sedang dialami Indonesia. Menurutnya, generasi muda saat ini merupakan kelompok yang akan memegang peranan penting ketika Indonesia memasuki usia 100 tahun kemerdekaan pada 2045.

“Bonus demografi hanya akan menjadi bonus apabila kita mampu membangun kualitas sumber daya manusia. Jika kita gagal membangun kualitas SDM, bonus demografi justru dapat berubah menjadi beban demografi,” jelasnya.

Selain persoalan demografi, mahasiswa juga diajak memahami tantangan perubahan iklim dan potensi bencana alam. Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire memiliki kerentanan terhadap berbagai bencana sehingga diperlukan kemampuan mitigasi dan penguatan ketahanan nasional.

Ketahanan nasional tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer. Ketahanan nasional juga ditentukan oleh kekuatan ekonomi, teknologi, pendidikan, kesehatan, energi, pangan, budaya, informasi, serta kualitas sumber daya manusia, ungkapnya.

Gubernur Lemhannas RI menegaskan bahwa globalisasi tidak boleh membuat generasi muda kehilangan identitas kebangsaan. Mahasiswa, menurutnya, harus mampu menjadi warga dunia yang memiliki kompetensi global sekaligus tetap memiliki jati diri sebagai bangsa Indonesia.

Ia mengajak mahasiswa UNS untuk memiliki kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, sekaligus meningkatkan kemampuan agar mampu bersaing dan berinteraksi dengan masyarakat dunia. Semangat nasionalisme tersebut, lanjutnya, harus diwujudkan dalam bentuk kontribusi nyata. Generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton atau komentator, tetapi harus berani menjadi pelaku dan penggerak perubahan.

Dalam pembekalannya, Gubernur Lemhannas RI juga mendorong mahasiswa aktif dalam organisasi kemahasiswaan seperti BEM, himpunan mahasiswa, maupun berbagai organisasi lainnya yang dinilai dapat menjadi ruang pembelajaran kepemimpinan.

Melalui organisasi, mahasiswa dapat belajar berinteraksi dengan orang lain, menyelesaikan konflik, mencari solusi, membangun konsensus, dan bekerja sama dengan individu yang memiliki latar belakang berbeda.

Ia juga mengajak generasi muda tidak menjauhi dunia politik. Menurutnya, politik merupakan salah satu ruang penting dalam menentukan arah bangsa dan membutuhkan keterlibatan generasi muda yang berkualitas serta berintegritas.

Menutup pembekalannya, Gubernur Lemhannas RI menyampaikan lima pesan kepada mahasiswa baru UNS. Pertama, menjadikan masa kuliah sebagai masa pembentukan karakter, terutama karakter kebangsaan, sekaligus memperluas wawasan dan jejaring. Kedua, tidak menunggu lulus untuk memberikan kontribusi kepada bangsa. Mahasiswa didorong mulai mengambil peran dan menjadi bagian dari perubahan sejak berada di bangku kuliah.

Ketiga, menjadi pembelajar sepanjang hayat dan tidak pernah merasa puas dengan pengetahuan yang telah dimiliki. Keempat, terus mengembangkan sikap kritis dengan tetap berlandaskan argumentasi, data, etika, dan tanggung jawab. Kelima, menjaga integritas. Kecerdasan, menurutnya, harus berjalan bersama integritas, nasionalisme, dan keberanian moral.

Kecerdasan tanpa integritas dapat menjadi ancaman. Tetapi kecerdasan yang disertai integritas, nasionalisme, dan keberanian moral akan menjadi kekuatan bagi bangsa, tegasnya.

Ia berharap dari UNS lahir generasi pemimpin Indonesia yang cerdas secara intelektual, matang secara emosional, kuat secara karakter, memiliki kesadaran geopolitik dan wawasan kebangsaan, serta memiliki keberanian moral untuk membawa Indonesia menjadi bangsa yang maju, berdaulat, dan bermartabat.

“Indonesia membutuhkan kalian. Masa depan Indonesia ada di tangan generasi muda. Mari kita siapkan diri untuk menyongsong Indonesia Emas 2045,”pungkasnya.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS