Festival Re-Write Panji 2026 Siap Digelar Megah di Taman Balekambang Solo

Kusumawati - Kamis, 05 November 2026 19:04 WIB
Kepala dinas pariwisata Surakarta Mareta Dinar Cahyono didampingi CEO Balekambang Dhimas Dwi Pramana Putra, Wejoseno Yuli Nugroho (Festival Director Festival Panji ASEAN), Bagus Baghaskoro Wisnumurti (Produser Festival Panji ASEAN) (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) — Kota Solo bersiap menjadi pusat perhatian dunia kebudayaan internasional. Ajang bergengsi Re-Write Panji 2026 dipastikan akan digelar secara megah di Taman Balekambang, Solo, pada 27–28 November 2026 mendatang.

Kepala Dinas Pariwisata Surakarta, Mareta Dinar Cahyono mengungkapkan bahwa Festival Panji kali ini telah mendunia dan melibatkan partisipasi dari enam negara ASEAN. Terpilihnya Kota Solo sebagai tuan rumah bukanlah tanpa alasan. Menurut Festival Director Re-Write Panji 2026, Wijoseno, Kota Solo dipilih karena di sinilah Kisah Panji menemukan "rumahnya kembali".

Menghidupkan Kembali Warisan Leluhur Abad ke-13

Wejoseno, festival director re-Write Panji 2026 menambahkan, Kisah Panji merupakan warisan sastra dan budaya asli Indonesia yang lahir pada abad ke-13. Kisah roman klasik antara Panji Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji ini telah lama mengakar, berkembang menjadi berbagai bentuk dongeng, mitos, hingga kesenian rakyat yang hidup di tengah masyarakat seperti Reog Ponorogo, jaranan, wayang gedhog, hingga topeng.

“Festival ini tidak sekadar menjadi ruang nostalgia, melainkan upaya merayakan bagaimana Kisah Panji bisa terus hidup dan menghidupkan ekosistem seni budaya.” ungkap Wijoseno.

Produser Festival Panji ASEAN, Bagus Bagaskoro Wisnumurti menambahkan bahwa selain pameran artefak dan naskah kuno, festival ini juga diramaikan dengan pertunjukan kesenian rakyat jaranan dan reog.

Tiga Rangkaian Kegiatan Utama (Re-Forum, Re-Stage, Re-Act)

Re-Write Panji 2026 dikemas dalam tiga pilar kegiatan utama yang komprehensif, yaitu:

  1. Re-Forum: Seminar internasional dan Focus Group Discussion (FGD) yang menghadirkan delegasi, akademisi, serta pemangku kepentingan dari berbagai negara ASEAN (seperti Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Laos, dan Kamboja) guna membahas pemanfaatan Panji sebagai warisan budaya bersama.
  2. Re-Stage: Panggung pertunjukan seni spektakuler yang menampilkan kelompok seni dari berbagai daerah di Indonesia (Malang, Bojonegoro, Cirebon, Banyuwangi, Surakarta) serta penampilan spesial dari perwakilan negara Thailand. Agenda ini juga mencakup penandatanganan akta kesepakatan "Panji Sebagai Common Heritage ASEAN" yang akan diserahkan langsung kepada Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc.
  3. Re-Act: Pameran budaya yang menampilkan beragam objek, artefak, kostum, manuskrip kuno (seperti dari Museum Radyapustaka), hingga pembuatan keris panji penganten secara langsung oleh empu keris asal Solo.

Dalam re-act menyajikan pameran seniman seperti Arjasura Solo, Sanggar Topeng Wayang Jabung Mantraloka Malang, Sanggar Seni Budaya Art Bara Bojonegoro, Seni Janger Wangsa Syailendra Banyuwangi, Basuki Teguh Yuwono Artefak Panji, Keris berdhapur Panji Karanganyar, Pacitan dan Jakarta.

Interpretasi Modern: Panji Milik Dunia

Memasuki penyelenggaraan ketiganya—setelah pertama kali diinisiasi pada 2018 dan sempat vakum sebelum digelar kembali—festival ini membawa nafas baru. Panji dinilai bukan lagi sekadar warisan masa lalu yang terkunci pada bentuk konvensional seperti topeng atau wayang kulit saja.

Panji kini diajak bertransformasi mengikuti zaman, diinterpretasikan kembali oleh anak muda sesuai konteks kekinian—di mana sosok Panji di era modern bisa saja direfleksikan sebagai figur inspiratif masa kini, seperti seorang CEO muda yang dinamis.

Melalui perhelatan akbar ini, ditegaskan kembali sebuah nota kesepahaman bahwa Panji bukan hanya milik Indonesia, melainkan common heritage (warisan budaya bersama) dunia yang mendunia.

Editor: Kusumawati

RELATED NEWS

‌‌‌
‌‌‌
‌‌‌