Ecopreneurship UNS di SMPN 5 Karanganyar, Ubah Bahan Bekas Jadi Kebun Sayur

Kusumawati - Minggu, 27 September 2026 15:13 WIB
LPKwu LPPM UNS mengedukasi ecopreneurship di SMPN 5 Karanganyar (Soloaja)

KARANGANYAR (Soloaja.co) — Pusat Pengembangan Kewirausahaan (PPKwu) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar program pengabdian masyarakat di SMP Negeri 5 Karanganyar pada 21–24 September 2026.

Mengusung tema “Projek Ecopreneurship: Dari Bahan Bekas Menjadi Kebun Sayur Wirausaha”, kegiatan ini mengajak 260 siswa mengolah limbah plastik menjadi produk bernilai guna dan ekonomi.

Kegiatan diawali dengan sambutan Kepala SMPN 5 Karanganyar, Darmawan Sugiharso, S.Pd., M.Pd., serta penjelasan program oleh Ketua PPKwu LPPM UNS, Dr. Tutik Susilowati, S.Sos., M.Si.

Dosen FSRD UNS, Dr. Dyah Yuni Kurniawati, S.Sn., M.Sn., memberikan pelatihan pembuatan pot dari galon dan botol bekas pada hari pertama. Siswa kemudian mempraktikkan pembuatan pot di hari kedua, disusul pembuatan rak tanaman dari kayu dan bambu bekas di hari ketiga.

Pada hari terakhir, dosen D3 Agribisnis SV UNS, Dimar Hantari, S.P., M.P., mendampingi siswa menanam sayuran pada pot yang telah dibuat.

Ketua PPKwu LPPM UNS, Dr. Tutik Susilowati, S.Sos., M.Si., menegaskan pentingnya membangun mindset kewirausahaan berbasis lingkungan sejak dini.

“Inti dari Projek Ecopreneurship ini adalah membangun pola pikir kewirausahaan sejak dini melalui pembelajaran yang nyata. Kami ingin siswa memahami bahwa kreativitas dapat mengubah bahan bekas menjadi produk bernilai manfaat dan ekonomi. Kebun produktif ini diharapkan menjadi laboratorium pembelajaran yang terus hidup di sekolah,” terangnya.

Dr. Dyah Yuni Kurniawati, S.Sn., M.Sn., menambahkan bahwa pendekatan Green Art yang diterapkan bertujuan membuka cara pandang baru siswa terhadap sampah.

“Galon dan botol plastik bekas sebenarnya memiliki potensi untuk diolah menjadi produk fungsional dan estetis. Melalui semangat Green Art, kami ingin menanamkan pemahaman bahwa seni juga dapat menjadi sarana edukasi dan solusi kreatif terhadap persoalan lingkungan,” jelas Dyah.

Kepala SMPN 5 Karanganyar, Darmawan Sugiharso, S.Pd., M.Pd., mengapresiasi kolaborasi ini karena memberikan pengalaman kontekstual yang relevan bagi peserta didik.

“Kegiatan ini sangat bagus untuk mengubah mindset anak-anak menjadi ecopreneur. Mereka tidak hanya membuat pot, tetapi juga belajar menanam hingga diajarkan cara memasarkan hasilnya. Ini menjadi bekal soft skill dan literasi yang sangat bermanfaat,” ujar Darmawan.

Kebun sayur yang terbentuk direncanakan menjadi sarana belajar interdisipliner—seperti IPA untuk pengamatan biologi, Matematika untuk perhitungan data tumbuh dan panen, serta Bahasa Indonesia untuk literasi. Program ini juga melatih karakter disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian lingkungan.

Salah satu siswa SMPN 5 Karanganyar, Sherly, mengaku antusias mengikuti seluruh rangkaian pelatihan.

“Saya senang sekali diberikan materi dari UNS. Dosen pematerinya keren dan mudah dipahami. Semoga kami bisa menjaga tanaman-tanaman yang sudah ditanam dan bisa menjual hasilnya nanti,” ungkap Sherly.

Melalui sinergi ini, PPKwu LPPM UNS dan SMPN 5 Karanganyar berharap kebun sekolah produktif tersebut dapat terus berkelanjutan dan memicu semangat ecopreneurship muda di Karanganyar.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS

‌‌‌
‌‌‌
‌‌‌