Dosen ISI Solo Inovasi Media Ajar E-book Mapel IPAS di SDN Sabrang Lor

Kusumawati - Minggu, 26 Juli 2026 08:54 WIB
Dosen ISI melakukan pembelajaran ceria dengan E-book mapel IPAS SDN Sabrang Lor (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) — Tim dosen Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menggelar program pengabdian kepada masyarakat bertajuk "Inovasi Media Ajar E-book dan Implementasi terhadap Mata Pelajaran IPAS untuk Siswa di SD Negeri Sabrang Lor Surakarta".

Program berkelanjutan yang telah bergulir sejak Mei 2026 ini berfokus pada peningkatan kualitas pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) melalui pemanfaatan media ajar digital yang interaktif.

Tim pengabdian tersebut diketuai oleh Nurmaria, S.S., M.Hum., bersama anggota Dian Nastiti, S.Pd., M.Pd. Program ini juga melibatkan dua mahasiswa, Fatma Maulidia dan Farrel Wening, serta didukung oleh tim pendamping Mahatma dan Lutfi. Melalui inovasi media ajar berbasis e-book ini, materi pelajaran IPAS dikemas agar lebih akrab dan mudah diakses oleh siswa sekolah dasar.

Nurmaria menjelaskan bahwa pemanfaatan modul digital interaktif diharapkan mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menarik dan relevan di era digital. Langkah ini mendapat sambutan hangat dari pihak sekolah.

Kepala SDN Sabrang Lor, Irma Hari Sasanti, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasinya atas inisiatif akademisi ISI Surakarta yang membawa metode pembelajaran segar bagi peserta didik. Senada dengan hal tersebut, guru kelas SDN Sabrang Lor, Ayuk Nur Sholikhah, S.Pd., menilai kehadiran e-book ini sangat membantu siswa dalam menyerap materi IPAS dengan cara yang lebih menyenangkan.

Tidak hanya berfokus pada literasi digital, kegiatan pendampingan ini dikombinasikan secara unik dengan praktik seni musik tradisional Jawa. Tim pengabdian mengajak para siswa berinteraksi langsung dengan instrumen gamelan, mengenalkan pola ritme dasar, hingga bergantian memainkan alat musik di dalam kelas.

Kolaborasi antara penguatan literasi digital dan edukasi budaya lokal ini menjadikan suasana kelas lebih hidup. Para siswa tidak hanya terasah secara akademis dalam pemahaman materi IPAS, tetapi juga diajak menumbuhkan rasa cinta terhadap warisan seni karawitan sejak dini.

Melalui sinergi ini, perguruan tinggi seni dan sekolah dasar dapat terus berkolaborasi menghadirkan pembelajaran modern yang berakar pada nilai budaya daerah.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS