Dosen FAI UMS Kaji Makna Filosofis Perubahan Kiblat

Kusumawati - Rabu, 25 Februari 2026 14:24 WIB
Ilustrasi Ka'bah. Sumber istockphoto.com (Sumber istockphoto.com)

SOLO (Soloaja.co) – Sejarah perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka'bah bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan sebuah deklarasi teologis tentang kedaulatan Allah SWT.

Hal tersebut dipaparkan oleh Dosen Ilmu Quran dan Tafsir (IQT) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Ainur Rha’in, S.Th.I., M.Th.I., dalam kajian QS Al-Baqarah ayat 142-152.

Rha’in menjelaskan bahwa tahwil kiblat (perubahan kiblat) merupakan perintah langsung Allah untuk menjawab keraguan sekaligus menghalau cemoohan kaum Yahudi saat itu.

“Ayat ini menjadi deklarasi teologis tentang kedaulatan Allah atas ruang dan waktu. Semua arah adalah milik Allah dan dalam kendali-Nya,” paparnya, Rabu (25/2).

Umat Wasathan: Pilar Keseimbangan Peradaban

Dalam ulasannya mengenai ayat 143, Rha’in menyoroti istilah Ummatan Wasathan. Merujuk pada Tafsir At-Thobari, umat Islam diposisikan sebagai umat pilihan yang adil dan seimbang. Ia merinci lima prinsip wasathiyah (moderat) yang harus dipegang teguh:

* Adil: Tidak condong pada sikap ekstrem.
* Tawazun (Seimbang): Menyeimbangkan segala aspek kehidupan beragama.
* Tasamuh (Toleransi): Menghargai perbedaan internal umat Islam maupun antarumat beragama.
* Maslahat: Orientasi pada kebaikan universal.
* Khoiru Ummah: Menjadikan ilmu sebagai fondasi untuk menjadi umat terbaik.

“Umat Islam diproyeksikan menjadi pusat keseimbangan dan pembangunan peradaban yang memancarkan rahmat,” tuturnya.

Kiblat sebagai Simbol Ketaatan dan Persatuan

Menilik ayat 144-150, Rha’in menceritakan kerinduan Rasulullah SAW yang selalu menengadahkan wajah ke langit berharap perubahan kiblat ke Ka’bah agar memiliki identitas yang kuat dan tidak di bawah bayang-bayang tradisi lain. Meski Ahlul Kitab mengetahui kebenaran ini melalui kitab mereka, rasa dengki membuat mereka menolaknya.

Ia menekankan bahwa dalam konteks beragama saat ini, Al-Quran dan Hadits adalah "kiblat" utama yang tidak boleh digantikan oleh ideologi lain.

“Orang kapitalis mungkin berkiblat pada Adam Smith, atau sosialis pada Karl Marx. Namun umat Islam harus berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat) dengan berkiblat pada tuntunan Nabi Muhammad,” tegasnya.

Empat Visi Rasulullah dan Pilar Syukur

Di penghujung kajiannya pada ayat 151-152, Rha’in menguraikan empat visi utama diutusnya Rasulullah: menyampaikan wahyu, penyucian jiwa (tazkiyah), mengajarkan Al-Quran dan Hadits, serta memberikan pengetahuan baru.

Kajian ini ditutup dengan pesan penting mengenai hubungan hamba dengan Sang Pencipta yang dibangun atas dua pilar utama: Dzikir (mengingat Allah) dan Syukur.

“Ketika kita selalu mengingat Allah dan kehidupan dipenuhi rasa syukur, maka ketenangan dan kenikmatan akan meluncur deras pada kehidupan kita,” pungkas Rha’in.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS