Digital Detox: Kunci Remaja Pulihkan Hubungan Sosial

Kusumawati - Kamis, 15 Januari 2026 19:13 WIB
Sri Winanti, S.Psi. Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) – Sebuah potret menarik tertangkap dalam perjalanan kereta api rute Yogyakarta-Surakarta baru-baru ini. Empat penumpang remaja yang duduk berhadapan tampak tenggelam dalam gawai masing-masing.

Tidak ada tegur sapa maupun komunikasi ringan; mereka seolah berada di dunia sendiri. Fenomena ini menunjukkan bahwa kehadiran fisik di ruang publik tak lagi menjamin adanya kehadiran emosional antarindividu.

Kondisi tersebut menjadi sorotan Sri Winanti, S.Psi., Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Dalam tinjuannya, ia mengungkapkan bahwa remaja sebagai pengguna intens gawai cenderung menggeser pola relasi sosial dari interaksi langsung menuju virtual.

Padahal, penggunaan berlebihan berisiko menurunkan kualitas interaksi tatap muka, melemahkan komunikasi keluarga, hingga mengurangi kedalaman hubungan dengan teman sebaya.

Digital Detox dan Kendali Diri

Sebagai respons atas dampak negatif tersebut, konsep Digital Detox muncul sebagai upaya sadar untuk membatasi penggunaan perangkat digital demi memulihkan keseimbangan hidup. Sri Winanti menjelaskan bahwa keberhasilan detoks ini sangat bergantung pada kemampuan Self-Regulation (regulasi diri).

Merujuk penelitian Medina dan Mesra (2024), kesadaran remaja melakukan detoks digital mencerminkan kemampuan self-monitoring dan self-control. "Remaja yang mampu membatasi waktu layar menunjukkan peningkatan kualitas komunikasi nyata. Ini menandakan keberhasilan proses regulasi diri dalam mengalihkan perhatian dari stimulus digital ke relasi sosial yang autentik," paparnya.

Hal ini sejalan dengan pandangan Zimmerman (2000) mengenai pentingnya penetapan tujuan dan refleksi diri. Selain itu, perspektif Baumeister dan Vohs (2007) menyebutkan bahwa kontrol diri yang efektif (ego strength) berkontribusi pada hubungan interpersonal yang lebih sehat.

Detoks digital berfungsi sebagai mekanisme pengendalian impuls agar energi emosional individu dapat dialokasikan kembali pada interaksi sosial langsung.

Keseimbangan Dunia Digital dan Nyata

Kajian literatur terbaru (Setia et al., 2025 & Seekis et al., 2025) menegaskan bahwa strategi detoks—seperti penetapan zona bebas gawai—berkaitan erat dengan kemampuan evaluasi diri. Remaja yang regulasi dirinya baik cenderung mampu menyeimbangkan kebutuhan afiliasi sosial dengan kontrol terhadap eksposur digital, sehingga kesejahteraan psikologis mereka meningkat.

Sri Winanti menyimpulkan bahwa digital detox bukan sekadar soal menjauhkan gawai, melainkan proses sadar untuk mencapai keseimbangan hidup. "Remaja dengan regulasi diri yang baik dapat memanfaatkan teknologi secara adaptif tanpa harus mengorbankan kualitas hubungan sosial mereka," tulisnya.

Dukungan Komprehensif dan Berkelanjutan
Untuk memperkuat regulasi diri pada remaja, diperlukan sinergi dari berbagai pihak:
* Sekolah: Mengintegrasikan literasi digital dan penguatan karakter dalam layanan bimbingan konseling.
* Orang Tua: Menjadi teladan (role model) dalam penggunaan teknologi dan menciptakan waktu berkualitas tanpa gawai di rumah.

* Remaja: Membangun kesadaran personal melalui penetapan tujuan mandiri dan aktif dalam kegiatan fisik serta sosial.
* Pembuat Kebijakan: Mendukung program intervensi yang berorientasi pada penguatan regulasi diri di sekolah dan komunitas.

Dengan dukungan yang kuat, digital detox dapat menjadi solusi strategis dalam membentuk relasi sosial remaja yang lebih sehat, bermakna, dan berkelanjutan di era digital ini.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS