Bos Instagram Ungkap Feed Estetik Tak Relevan Lagi
JAKARTA – Bukan hal baru bahwa konten berbasis kecerdasan buatan (AI) semakin merajalela di media sosial sepanjang 2025. Kehadiran konten AI yang masif ini dinilai ikut mengubah wajah Instagram. Tampilan feed yang dulu dikenal rapi, estetik, dan dipenuhi foto-foto menarik kini dianggap sudah tidak lagi relevan.
Pandangan tersebut disampaikan langsung oleh Head of Instagram, Adam Mosseri. Ia mengungkapkannya melalui rangkaian 20 slide pesan akhir tahun yang belum lama ini dibagikan lewat akun Instagram pribadinya.
Adam Mosseri mengatakan platform tersebut harus terus beradaptasi untuk menghadapi gelombang besar konten hasil AI. Ia juga memperingatkan bahwa maraknya penggunaan AI telah mengakhiri estetika Instagram yang selama ini terlihat serba rapi dan dipoles.
“Jika Anda tidak berusia di bawah 25 tahun dan menggunakan Instagram, kemungkinan besar Anda masih membayangkan aplikasi ini sebagai feed foto kotak yang rapi. Estetikanya tampak sempurna, penuh makeup, kulit mulus, fotografi dengan kontras tinggi, dan lanskap indah,” tulis Mosseri, dilansir dari Business Insider.
“Feed itu sudah mati. Orang-orang sebagian besar sudah berhenti berbagi momen pribadi di feed bertahun-tahun yang lalu,” ujar eksekutif Meta tersebut.
Ia menambahkan pengguna sekarang memberi tahu teman-teman mereka tentang kehidupan pribadi mereka melalui foto sepatu dan foto candid yang kurang menarik yang dibagikan melalui direct message (DM).
Kehadiran AI semakin mempercepat perubahan ini. Menurut Mosseri, tampilan visual yang terlalu sempurna kini mudah dibuat dan justru terasa membosankan untuk dikonsumsi. “Konten yang tampak menarik kini mudah diproduksi dan tidak lagi terasa istimewa. Orang ingin sesuatu yang terasa nyata,”
Ia juga menyinggung bagaimana feed media sosial mulai dipenuhi konten sintetis, dari gambar maupun video yang dihasilkan AI. Dengan hadirnya Midjourney dan Sora OpenAI, siapa pun dapat menciptakan visual realistis hanya dalam hitungan detik.
Menurut Adam Mosseri, situasi ini menuntut para kreator untuk beradaptasi. Ia mendorong creator meninggalkan feed yang terlalu terkurasi dan mulai merangkul estetika yang lebih natural dan tidak sempurna.
“Raw bukan lagi sekadar gaya visual, tapi bukti keaslian,” tulis Mosseri.
Dilansir dari The Nation, Mosseri mengatakan konten AI telah mengambil alih media sosial dalam jumlah besar, menciptakan dampak besar bagi fotografer dan kreator. Pada saat yang sama, ia menyarankan bahwa kejenuhan ini dapat mendorong tren tahun 2026 menuju konten yang terasa lebih otentik dan berakar pada kenyataan.
Dia menunjuk pada kemajuan pesat teknologi AI pada tahun 2025 yang diperkirakan akan semakin meningkat, membanjiri internet dengan materi sintetis dan mempersulit pengguna untuk membedakan mana yang asli dan mana yang palsu.
Mosseri mengatakan bahwa seiring kemajuan teknologi, platform media sosial akan semakin kesulitan membedakan konten buatan AI dari yang asli. Ia menambahkan, salah satu solusi yang bisa dipertimbangkan adalah kerja sama dengan perusahaan kamera untuk memberikan tanda tangan kriptografis pada foto sejak diambil, sebagai bukti bahwa gambar tersebut benar-benar nyata.
Mantan eksekutif Facebook tersebut menyatakan bahwa Instagram perlu memberi label yang jelas pada konten buatan AI, menghadirkan transparansi yang lebih besar mengenai siapa yang mengunggah konten di platform, serta membangun kontrol kreatif yang lebih baik agar kreator manusia tetap mampu bersaing dengan konten yang sepenuhnya dihasilkan oleh AI.
“Sepanjang sebagian besar hidup saya, saya bisa dengan aman berasumsi bahwa mayoritas foto atau video yang saya lihat merupakan rekaman yang cukup akurat dari peristiwa nyata. Namun, kondisi itu kini jelas sudah tidak lagi berlaku,” tulis Mosseri.
Meta saat ini tengah bergulat dengan dilema tersebut. Di satu sisi, perusahaan secara agresif mengintegrasikan AI ke dalam Instagram dan Facebook, termasuk melalui AI Studio yang memungkinkan pengguna menciptakan chatbot atau representasi digital diri mereka. Di sisi lain, label konten AI yang diterapkan Meta diakui masih belum sepenuhnya akurat.
Mosseri menekankan Instagram harus terus bertransformasi, mulai dari pelabelan konten AI yang lebih jelas, transparansi terkait pihak yang mengunggah konten, hingga menyediakan perangkat kreatif agar kreator manusia tetap mampu bersaing dengan karya yang dihasilkan AI.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Distika Safara Setianda pada 02 Jan 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 02 Jan 2026
