166 BEM PTMA Ikuti Silatnas di UMS Bahas Isu Bangsa

Kusumawati - Minggu, 01 November 2026 08:39 WIB
Walikota Surakarta membuka Silatnas BEM di UMS (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) - Sebanyak 166 Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) dari seluruh Indonesia mengikuti Silaturahmi Nasional (Silatnas) BEM PTMA Indonesia di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada 29–31 Oktober 2026.

Mengusung tema “Merawat Persyarikatan, Menjaga Indonesia: Kontribusi BEM PTMA untuk Indonesia Raya”, kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi mahasiswa untuk memperkuat peran dan kontribusi bagi persyarikatan serta bangsa.

Koordinator Presidium BEM PTMA Indonesia, Yogi Syahputra Alaydrus mengatakan Silatnas menjadi momentum untuk mempertemukan gagasan mahasiswa dari berbagai daerah sekaligus memperkuat kebersamaan dalam Persyarikatan Muhammadiyah.

“Silatnas ini adalah perayaan gagasan. Gagasan mahasiswa Muhammadiyah di setiap sudut Kota Solo dan UMS diharapkan membawa perubahan besar untuk bangsa dan persyarikatan,” ujar Yogi di Gedung Ahmad Syafii Maarif FEB UMS.

Ia berharap Silatnas dapat memperkuat BEM PTMA Indonesia sebagai aliansi mahasiswa yang solid dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat serta mengembangkan gagasan intelektual.

Wakil Rektor I UMS sekaligus Ketua Forum Silaturahmi Pimpinan Kemahasiswaan PTMA (FOSMA PTMA), Prof. Ihwan Susila, S.E., M.Si., Ph.D., menyampaikan lima peran strategis BEM PTMA, yakni sebagai kekuatan intelektual dan moral, penggerak konsolidasi mahasiswa, agen perubahan dan kontrol sosial, jembatan aspirasi mahasiswa, serta penggerak kolaborasi dan pengabdian.

Prof. Ihwan mencontohkan program Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPO) di UMS serta hibah Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) sebagai ruang nyata bagi mahasiswa.

“Mahasiswa dengan gerakan konsolidasi dan kolaborasinya diharapkan mampu memberikan kontribusi melalui kerja-kerja intelektual, pemberdayaan umat, dan pembaruan cara berpikir,” ungkap Prof. Ihwan.

Sementara itu, Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Bambang Setiaji, M.Si., menyoroti keterbatasan lapangan kerja yang layak dan ketimpangan penguasaan aset ekonomi sebagai persoalan mendasar generasi muda.

“Problem utama kita adalah lahirnya pengusaha-pengusaha yang usahanya bagus sehingga bisa memberikan tempat bekerja kepada rakyat Indonesia dan pemuda-pemuda yang menjadikan mereka bermartabat,” tutur Prof. Bambang.

Ia juga menyinggung kondisi pekerja sektor informal seperti pengemudi ojek online, serta mendorong mahasiswa ikut memikirkan reformasi ekonomi demi memperluas kesempatan usaha dan pemerataan lapangan kerja.

Hadir pula Wali Kota Surakarta, Respati Ahmad Ardianto, S.H., M.Kn., yang mengajak mahasiswa berkontribusi dalam mengatasi persoalan lingkungan, seperti sampah, pencemaran sungai, dan sisa makanan melalui penelitian berbasis inovasi. Respati juga menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam memberikan masukan terhadap kebijakan publik.

“Perlu kritik yang substantif, kritik-kritik yang mendasar. Itu diperlukan oleh pemerintah kota maupun pemerintah manapun,” kata Respati. Ia mengingatkan bahwa kebijakan yang baik harus berorientasi pada manfaat jangka panjang bagi generasi mendatang.

Editor: Kusumawati

RELATED NEWS

‌‌‌
‌‌‌
‌‌‌