Masa Depan AI di Indonesia: Penggerak Ekonomi atau Tantangan Baru?

Kusumawati - Selasa, 11 Maret 2025 11:50 WIB
diskusi panel "Masa Depan AI: Mampukah Memperkuat Ekonomi Indonesia?" yang diselenggarakan oleh Forum Wartawan Teknologi (FORWAT) (istimewa )

JAKARTA (Soloaja.co) - Kecerdasan Artifisial (Artificial Intelligence/AI) semakin dipandang sebagai game-changer dalam dunia bisnis dan ekonomi global. Di Indonesia, adopsi AI menunjukkan tren positif, dengan lebih dari 80% bisnis telah mulai berinvestasi atau menggunakan AI dalam operasional mereka, meskipun hanya 13% yang berada pada tahap adopsi lanjutan (advanced).

Menurut laporan McKinsey Global Institute (2023), AI diprediksi akan menyumbang USD 13 triliun terhadap ekonomi dunia pada 2030, sementara laporan PwC memperkirakan dampaknya bisa mencapai USD 15,7 triliun. Bank Dunia menilai bahwa AI memiliki potensi besar untuk mengurangi kesenjangan digital dan mendorong inovasi di berbagai sektor, seperti pertanian, kesehatan, dan pendidikan.

Namun, bagaimana Indonesia dapat memanfaatkan AI untuk memperkuat ekonominya? Pertanyaan ini menjadi fokus utama dalam diskusi panel "Masa Depan AI: Mampukah Memperkuat Ekonomi Indonesia?" yang diselenggarakan oleh Forum Wartawan Teknologi (FORWAT) dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun ke-5 FORWAT.

Peran Kedaulatan AI dalam Ekonomi Digital Indonesia

Diskusi ini menghadirkan para ahli dari berbagai sektor, seperti:

  • Adrian Lesmono (Country Consumer Business Lead NVIDIA)
  • Sri Safitri (Sekjen Partnership Kolaborasi Riset & Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial/KORIKA)
  • Nailul Huda (Direktur Ekonomi Digital CELIOS)
  • Insaf Albert Tarigan (Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Kepresidenan)
  • Moderator: Ardhi Suryadi (Wakil Pemimpin Redaksi Detik)

Menurut Adrian Lesmono, AI yang cepat, aman, dan mandiri adalah fondasi kedaulatan digital Indonesia. "Kedaulatan AI bukan lagi sekadar wacana. Kontrol penuh atas data, efisiensi, dan akselerasi digital menjadi kunci utama dalam mewujudkan ekosistem AI yang berkelanjutan," ujarnya.

Sementara itu, Sri Safitri menyoroti berbagai tantangan dalam pengembangan AI di Indonesia, seperti keterbatasan sumber daya manusia (SDM), infrastruktur digital, pendanaan riset, serta regulasi yang belum matang. Menurutnya, penguatan Kolaborasi Riset & Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial (KORIKA) dapat menjadi solusi untuk menjembatani kesenjangan antara pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas dalam mengembangkan AI.

Di sisi lain, Nailul Huda menekankan bahwa AI telah menjadi tulang punggung transformasi ekonomi digital, terutama di sektor finansial. Dengan dukungan regulasi yang tepat, pemerintah dapat mendorong kolaborasi industri dan peningkatan keterampilan tenaga kerja agar AI dapat berkontribusi lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Perlunya Strategi Nasional AI

Insaf Albert Tarigan, Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Kepresidenan, menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan strategi nasional AI sebagai panduan bagi pemerintah dan sektor swasta dalam mengadopsi, mengembangkan, dan mengimplementasikan AI.

"Dengan kebijakan yang tepat, pemerintah bisa memaksimalkan kerja sama dengan mitra global untuk transfer teknologi, investasi, dan riset bersama. Hal ini akan mempercepat adopsi AI serta memperkuat kedaulatan teknologi Indonesia," jelasnya.

Saat ini, beberapa perusahaan telah mengambil langkah konkret dalam pengembangan AI. Misalnya, Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) telah mengadopsi AI untuk meningkatkan layanan pelanggan, kinerja jaringan, serta membangun ekosistem AI inklusif melalui pelatihan dan pengembangan talenta.

Di sektor e-commerce dan transportasi, GoTo menggunakan AI untuk memersonalisasi layanan dan memprediksi permintaan pelanggan, sementara Kata.ai mengembangkan AI dalam layanan interaksi pelanggan. Sementara itu, di sektor pemerintahan, AI mulai dimanfaatkan untuk otomatisasi layanan publik dan moderasi konten digital.

Membangun Ekosistem AI yang Berkelanjutan

Diskusi ini menjadi momentum penting untuk merumuskan rekomendasi kebijakan berbasis bukti, mempererat jejaring kolaborasi, serta mendorong pembangunan ekosistem AI nasional yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan regulasi yang matang, investasi strategis, serta peningkatan keterampilan tenaga kerja, AI berpotensi menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.

Editor: Redaksi
Tags AICELIOSKORIKA Bagikan

RELATED NEWS