Deretan Bisnis Haji Isam, dari Tambang Batu Bara hingga Industri Kreatif

Redaksi Daerah - Selasa, 14 Juli 2026 16:33 WIB
Ungkap Gurita Bisnis Haji Isam: Batu Bara, Sawit, hingga Industri Kreatif

JAKARTA — Nama Andi Syamsuddin Arsyad, yang lebih dikenal sebagai Haji Isam, kembali menjadi perhatian publik usai menghadiri seremoni pencatatan saham perdana (IPO) PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dalam acara tersebut, Haji Isam tampak hadir bersama sejumlah tokoh, seperti Raffi Ahmad, Nagita Slavina, Axton Salim, Boy Thohir, dan Anindya Bakrie. Kehadirannya semakin menyita perhatian setelah Raffi mengungkapkan bahwa Haji Isam merupakan salah satu pemegang saham RANS sekaligus sosok yang menjadi mentor bisnisnya.

Meski kembali menjadi sorotan berkat momen IPO RANS, Haji Isam sejatinya telah lama dikenal sebagai salah satu pengusaha dengan kerajaan bisnis terbesar di Indonesia melalui Jhonlin Group.

BACA JUGA: Sosok Iman Zanatul Haeri, Guru yang Masuk 22 Tokoh Reset Indonesia

Berawal dari bisnis batu bara di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, Jhonlin Group berkembang menjadi konglomerasi yang terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir.

Grup ini tidak hanya menguasai penambangan batu bara, tetapi juga memiliki perkebunan kelapa sawit, pabrik biodiesel, industri gula, logistik, pelabuhan, pelayaran, transportasi udara, hingga mulai merambah investasi di sektor nikel dan perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Model bisnis tersebut membuat Jhonlin Group mampu mengendalikan hampir seluruh rantai pasok, mulai dari produksi, pengolahan, distribusi, hingga ekspor.

Baca juga : Siapa Penguasa Pasar Mi Instan Indonesia?

Gurita Bisnis Haji Isam

Haji Isam lahir di Bone, Sulawesi Selatan, pada 1 Januari 1977. Sebelum menjadi pengusaha besar, ia diketahui pernah bekerja sebagai tukang ojek, sopir angkutan kayu, hingga operator alat berat di Kalimantan Selatan.

Pengalamannya di lapangan mempertemukannya dengan pelaku usaha pertambangan yang kemudian membuka jalan bagi dirinya memahami bisnis batu bara.

Momentum penting datang pada 2003 ketika ia mendirikan PT Jhonlin Baratama, perusahaan yang kemudian menjadi fondasi utama Jhonlin Group.

Seiring meningkatnya permintaan batu bara dunia, bisnis tersebut berkembang pesat dan menjadi sumber utama akumulasi modal untuk ekspansi ke berbagai sektor lain.

Atas kontribusinya di bidang ekonomi, Haji Isam menerima Bintang Mahaputera Utama dari Presiden Prabowo Subianto pada Agustus 2025.

Batu Bara Menjadi Tulang Punggung Bisnis

Lini bisnis terbesar Jhonlin Group masih berasal dari sektor pertambangan batu bara. Perusahaan utama yang menjalankan bisnis tersebut adalah PT Jhonlin Baratama, yang beroperasi di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.

Perusahaan ini menjalankan kegiatan mulai dari eksplorasi, penambangan, pengolahan, hingga ekspor batu bara. Produksinya disebut mencapai ratusan ribu ton setiap bulan dan menjadi salah satu pemasok batu bara domestik maupun internasional.

Selain Jhonlin Baratama, terdapat PT Jhonlin Batu Mandiri yang bergerak pada kegiatan pertambangan sekaligus pengembangan proyek-proyek industri baru sebagai bagian dari diversifikasi grup.

Keunggulan utama bisnis tambang Jhonlin Group terletak pada integrasi operasional. Grup ini tidak hanya memiliki konsesi tambang, tetapi juga menguasai jalan hauling, stockpile, terminal batu bara, armada angkutan, hingga pelabuhan sendiri. Dengan demikian, biaya logistik dapat ditekan sekaligus meningkatkan efisiensi distribusi.

Menguasai Logistik, Pelabuhan, dan Pelayaran

Untuk mendukung bisnis tambang, Jhonlin Group membangun jaringan logistik yang terintegrasi melalui sejumlah anak usaha, di antaranya PT Jhonlin Marine Lines, PT Jhonlin Marine Trans, dan PT Dua Samudera Perkasa.

Unit bisnis ini menyediakan layanan marine terminal operator, stevedoring, freight forwarding, bongkar muat, pengangkutan batu bara menggunakan kapal tongkang, hingga pengelolaan jetty atau pelabuhan khusus.

Grup ini juga memiliki armada kapal tunda (tug boat) dan tongkang yang digunakan untuk mendukung distribusi batu bara dari lokasi tambang menuju pelabuhan ekspor. Dalam beberapa tahun terakhir, Jhonlin bahkan diketahui memperkuat armadanya dengan pemesanan kapal kargo curah berkapasitas besar untuk mendukung ekspansi bisnis logistik.

Keberadaan lini usaha logistik membuat Jhonlin Group tidak terlalu bergantung pada penyedia jasa pihak ketiga, sehingga mampu mengendalikan biaya operasional secara lebih efisien.

Baca juga : Rachmat Gobel Meninggal Dunia, Ini Gurita Bisnis Gobel Group

Memiliki Maskapai Sendiri

Ekspansi Jhonlin Group juga menjangkau sektor transportasi udara melalui PT Jhonlin Air Transport.

Perusahaan ini menyediakan layanan charter pesawat dan helikopter yang digunakan untuk mendukung mobilitas operasional perusahaan, khususnya di wilayah pertambangan dan perkebunan.

Armada yang dimiliki antara lain pesawat Fokker dan helikopter yang melayani penerbangan korporasi maupun transportasi karyawan.

Sawit Menjadi Pilar Pertumbuhan Baru

Setelah batu bara, sektor agribisnis menjadi salah satu fokus utama ekspansi Jhonlin Group. Melalui PT Jhonlin Agro Mandiri, grup ini mengelola perkebunan kelapa sawit, pabrik kelapa sawit (CPO), pengolahan karet, hingga produksi wood pellet.

Sementara itu, PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) menjadi kendaraan bisnis yang telah melantai di Bursa Efek Indonesia. Perusahaan ini bergerak dalam pengelolaan perkebunan sawit, pengolahan crude palm oil (CPO), refinery, hingga produksi biodiesel.

Keberadaan JARR memperkuat posisi Jhonlin dalam industri hilirisasi sawit nasional sekaligus menjadi salah satu kontributor utama pendapatan grup dari sektor non-tambang.

Investasi Besar di Biodiesel

Jhonlin Group menjadi salah satu pelaku industri yang aktif mendukung program mandatori biodiesel pemerintah.

Melalui fasilitas produksi biodiesel yang dibangun oleh PT Jhonlin Agro Raya, perusahaan memproduksi bahan bakar berbasis minyak sawit yang digunakan untuk mendukung program pencampuran biodiesel nasional.

Pabrik biodiesel tersebut diresmikan Presiden Joko Widodo pada 2021 dan menjadi salah satu investasi strategis Jhonlin Group di sektor energi baru berbasis kelapa sawit.

Masuk ke Industri Gula

Diversifikasi bisnis juga dilakukan melalui pembangunan industri gula nasional. Melalui PT Prima Alam Gemilang, yang berada di bawah PT Jhonlin Batu Mandiri, grup mengembangkan perkebunan tebu dan pabrik gula di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara.

Proyek tersebut menjadi bagian dari program pemerintah untuk meningkatkan produksi gula nasional dan mengurangi ketergantungan impor. Kawasan ini mencakup ribuan hektare lahan tebu beserta fasilitas pengolahan gula kristal.

Mengembangkan Industri Kehutanan dan Biomassa

Selain sawit, Jhonlin Group juga mengembangkan bisnis kehutanan melalui produksi wood pellet dan biomassa.

Produk wood pellet dipasarkan sebagai sumber energi terbarukan yang digunakan untuk pembangkit listrik maupun kebutuhan industri di pasar ekspor. Lini usaha ini melengkapi diversifikasi grup menuju sektor energi rendah emisi.

Pengolahan Karet

Di sektor agribisnis, Jhonlin juga memiliki fasilitas pengolahan karet berupa crumb rubber dan pengolahan lateks. Produk tersebut menjadi bagian dari rantai bisnis perkebunan yang terintegrasi dengan pengelolaan lahan dan industri hilir.

Portofolio Emiten di Bursa

Selain memiliki perusahaan tertutup, Haji Isam juga memiliki sejumlah perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

Yang paling dikenal adalah PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) yang bergerak di sektor sawit dan biodiesel. Selain itu terdapat PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit dan menjadi salah satu aset publik terbesar dalam jaringan bisnisnya.

Melalui kepemilikan di perusahaan-perusahaan publik tersebut, nilai kekayaan Haji Isam meningkat signifikan seiring kenaikan kapitalisasi pasar emiten-emiten yang terafiliasi dengannya.

Bisnis Nikel

Ekspansi terbaru dilakukan melalui investasi pada sektor pertambangan nikel.

Pada Mei 2026, Haji Isam mengakuisisi sekitar 21,12% saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) senilai sekitar Rp936 miliar. Langkah tersebut dipandang sebagai pintu masuk Jhonlin Group ke industri mineral strategis, terutama nikel yang menjadi komoditas penting dalam ekosistem kendaraan listrik dan hilirisasi nasional.

Masuknya Haji Isam ke PACK juga disambut positif oleh pelaku pasar karena dinilai memperkuat prospek ekspansi perusahaan di sektor pertambangan.

Menjadi Investor RANS Entertainment

Nama Haji Isam kembali ramai diperbincangkan setelah hadir pada IPO PT Rans Entertainment Indonesia Tbk.

Dalam kesempatan tersebut, Raffi Ahmad mengungkapkan Haji Isam merupakan salah satu pemegang saham RANS dengan kepemilikan sekitar 1% sekaligus sosok yang banyak memberikan masukan dalam pengembangan bisnis perusahaan.

Kehadirannya pada seremoni IPO memperlihatkan bahwa ekspansi bisnis Haji Isam tidak lagi terbatas pada sektor sumber daya alam, tetapi juga mulai merambah industri kreatif, media, dan hiburan.

Model Bisnis Terintegrasi Menjadi Kunci

Keunggulan utama Jhonlin Group dibanding banyak perusahaan lain terletak pada model bisnis yang terintegrasi secara vertikal.

Pada sektor batu bara, grup menguasai hampir seluruh rantai nilai, mulai dari konsesi tambang, jalan hauling, stockpile, pelabuhan, armada pelayaran, hingga ekspor.

Di sektor agribisnis, Jhonlin mengelola perkebunan, pabrik CPO, refinery, biodiesel, pengolahan karet, wood pellet, hingga distribusi. Integrasi tersebut membuat perusahaan memiliki efisiensi operasional yang lebih tinggi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pihak ketiga.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 14 Jul 2026

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 14 Jul 2026

Editor: Redaksi Daerah

RELATED NEWS