Deklarasi Pelestarian Batik di UNS, Astrid : Inovasi Batik Disentuh Teknologi AI

Kusumawati - Selasa, 27 Oktober 2026 12:31 WIB
KAFIB UNS bersama Wawalikota Surakarta Astrid Widayani Deklarasi Pelestarian Batik (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) — Pelestarian batik tidak cukup hanya dilakukan dengan sekadar mengenakan kain bermotif tradisional. Upaya menjaga warisan budaya tersebut perlu diikuti dengan inovasi, perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI), pemanfaatan teknologi, serta penguatan ekonomi para perajin lokal.

Semangat tersebut mengemuka dalam Deklarasi Pelestarian Batik yang dipimpin oleh Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Selasa (27/10/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Batik Nasional dan Sumpah Pemuda 2026 yang diselenggarakan oleh Keluarga Alumni Fakultas Ilmu Budaya (KAFIB) bersama sivitas akademika FIB UNS, serta didukung penuh oleh Keluarga Alumni (IKA) UNS dengan mengusung tema "Canting untuk Negeri: Pemuda Bergerak, Batik Berdetak".

Dalam sambutannya, Astrid menekankan pentingnya mengembangkan batik agar tetap relevan dengan perkembangan zaman melalui inovasi dan pemanfaatan teknologi modern.

"Tidak cukup hanya dengan kreasi, diferensiasi, atau teknik pemasaran. Batik juga sudah harus disatukan dengan semangat inovasi dan pemanfaatan teknologi, bahkan sampai menggunakan AI, sehingga warisan budaya yang diberikan kepada kita ini jangan hanya berhenti di selembar kain," ujar Astrid.

Ia mendorong generasi muda memanfaatkan teknologi digital untuk mendokumentasikan serta melindungi karya batik, seperti penggunaan kode batang (barcode) untuk mengakses informasi motif dan sejarahnya. Selain itu, pelestarian batik dinilai harus berdampak langsung pada kesejahteraan perajin melalui perluasan pasar.

Puncak kegiatan ditandai dengan pembacaan Deklarasi Pelestarian Batik bersemboyan "Pride of Batik: Wear Your Identity — Bangga Berbatik, Bangga Jadi Indonesia". Astrid memimpin langsung pembacaan lima komitmen yang mencakup pelestarian melalui pendidikan dan penelitian, dukungan inovasi perajin lokal, perlindungan HKI, penguatan ekonomi kreatif, serta pewarisan kecintaan batik kepada generasi penerus.

Direktur Direktorat Alumni dan Kewirausahaan Mahasiswa UNS, Prof. Dr. Dwi Prasetyani, S.E., M.Si., memberikan apresiasi tinggi atas pergerakan nyata ini. Senada, Ketua KAFIB UNS, Dr. Kandar, M.A.P., berharap pengembangan batik dapat terus menyesuaikan zaman tanpa meninggalkan nilai dasarnya.

Rangkaian acara dilanjutkan dengan gelar wicara bertajuk "Jejak Batik: Mengenal Akar untuk Batik Masa Depan". Ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan, Ir. Alfa Febela Priatmono, M.T., menegaskan pentingnya pemahaman proses batik dengan lilin panas agar masyarakat bisa membedakan batik asli dengan tekstil motif batik.

Dosen FSRD UNS, Apika Nurani Sulistiati, S.Sn., M.Sn., menyoroti pentingnya mengenalkan proses membatik sejak dini untuk menumbuhkan rasa memiliki (handarbeni). Sementara dari sudut pandang usaha, pengusaha senior Dr. dres. H. Joko Sutrisno, M.Pd., memotivasi pemuda agar memanfaatkan platform digital untuk memulai bisnis batik. Hal ini diperkuat oleh Founder Dinadi Fashion, Nina Sudiro Adriani, yang mendorong pendekatan narasi (storytelling) dan padu padan busana agar membatik menjadi gaya hidup modern.

Kegiatan yang diikuti sivitas akademika, mahasiswa, serta 50 pelajar dari 16 SMA/SMK se-Solo Raya ini juga dilengkapi dengan lokakarya membatik tradisional dan pameran karya.

Editor: Kusumawati

RELATED NEWS

‌‌‌
‌‌‌
‌‌‌