Batik Balontang Kasmaran UNS Tampil di Sragen Batik Heritage 2026

Kusumawati - Senin, 19 Oktober 2026 14:54 WIB
Batik Balontang Kasmaran binaan UNS hadir di Sragen Batik Heritage 2026 (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) — Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta terus mendorong penguatan identitas budaya daerah melalui riset dan inovasi desain. Salah satunya diwujudkan melalui pengembangan motif Batik Balontang Kasmaran yang tampil dalam gelaran Sragen Batik Heritage 2026 di Kabupaten Sragen, Sabtu (3/10/2026).

Motif tersebut merupakan bagian dari hasil penelitian bertajuk Revitalisasi Desain Motif Batik Sragen Berbasis Kearifan Lokal. Penelitian ini melibatkan Program Studi Desain Mode Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) UNS, Sekolah Vokasi Tiga Serangkai University (TSU), serta Pemerintah Kabupaten Sragen melalui Dekranasda dan OPD terkait.

Tim peneliti dari Prodi Desain Mode FSRD UNS menggali potensi sejarah, budaya, dan lingkungan Sragen untuk memperkuat ciri khas Batik Sragen yang selama ini masih banyak dipengaruhi karakter batik Surakarta. Melalui pendekatan Research and Development (R&D), penelitian ini menelusuri berbagai sumber historis sebagai dasar penciptaan motif baru.

Salah satu sumber yang menjadi pijakan adalah Babad Giyanti. Manuskrip tersebut memuat kisah Pangeran Mangkubumi yang mengenakan kain bermotif Balontang Kasmaran dalam peristiwa pertempuran di tepi Bengawan Solo, wilayah yang kini berada di Kabupaten Sragen.

Kepala Bidang Pembinaan Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sragen, Johny Adhi Aryawan, menjelaskan bahwa catatan sejarah tersebut menjadi referensi penting dalam penelusuran asal-usul motif. Pangeran Mangkubumi dicatat mengenakan rompi Kutung Kencono dan kain batik motif Balontang Kasmaran.

Penelusuran tersebut juga menemukan keterkaitan istilah Balontang atau Plontang dengan jenis burung kecil endemik berbulu hitam-putih yang hidup berpasang-pasangan. Karakteristik ini dihubungkan dengan makna kasmaran yang menggambarkan perasaan cinta dan kesetiaan.

Tim peneliti menerjemahkan narasi sejarah tersebut ke dalam bahasa visual melalui proses stilisasi. Burung Balontang menjadi elemen utama, sedangkan kembang kates, tumbuhan adem-adem, dan isen-isen digunakan sebagai elemen pendukung pengembangan batik tulis.

Selain Balontang Kasmaran, penelitian ini menghasilkan sejumlah alternatif motif yang mengangkat kekayaan visual Sragen, seperti ikonografi Sangiran, bentang alam Bengawan Solo, budaya agraris Sukowati, serta flora lokal.

Dosen Prodi Desain Mode FSRD UNS sekaligus anggota tim peneliti, M. Rudianto, menyampaikan bahwa penelitian ini bertujuan menghubungkan pengetahuan sejarah dengan pengembangan desain kontemporer. Balontang Kasmaran menjadi contoh penafsiran sumber sejarah secara akademis menjadi desain yang memiliki nilai budaya dan relevan.

Tampilnya Batik Balontang Kasmaran dalam Sragen Batik Heritage 2026 menjadi sarana diseminasi hasil penelitian. Kolaborasi antara UNS, TSU, dan Pemkab Sragen ini diharapkan dapat memperkuat karakter Batik Sragen, memperluas inspirasi perajin, serta membuka peluang pengembangan ekonomi kreatif berbasis warisan budaya.

Editor: Redaksi

RELATED NEWS

‌‌‌
‌‌‌
‌‌‌