belanja online
Senin, 13 April 2026 20:24 WIB
Penulis:Redaksi Daerah
Editor:Redaksi Daerah

JAKARTA — Di tengah meningkatnya harga bahan makanan dan kebutuhan harian, banyak orang mulai beralih ke pola hidup lebih hemat, terutama saat berbelanja di supermarket. Salah satu cara yang sering dilakukan adalah memanfaatkan berbagai promo dan potongan harga.
Namun, harga murah tidak selalu berarti pilihan terbaik. Dalam beberapa situasi, diskon justru dimanfaatkan oleh peritel untuk menghabiskan stok produk yang mendekati tanggal kedaluwarsa atau memiliki masa simpan yang terbatas.
Mengacu pada laporan dari Eat This, Not That, potongan harga pada produk tertentu sering kali dilakukan untuk mengurangi limbah makanan sekaligus mempercepat perputaran stok, khususnya untuk barang musiman atau mudah rusak (perishable goods).
Karena itu, konsumen perlu lebih selektif agar tidak terjebak “hemat semu”—membeli murah tetapi berujung terbuang.
BACA JUGA: 11 Bahan Makanan yang Sebaiknya Tidak Disimpan di Kulkas
Produk segar yang sudah dipotong memiliki masa simpan jauh lebih singkat. Diskon besar biasanya menandakan produk tersebut harus segera dikonsumsi.
Jika tidak langsung dimakan di hari yang sama, risiko pembusukan meningkat dan justru berpotensi menjadi limbah.
Harga murah pada alpukat sering kali berarti tingkat kematangannya sudah sangat tinggi.
Jika tidak segera dikonsumsi, buah ini mudah berubah tekstur dan rasa. Namun, masih bisa dibeli jika memang akan langsung digunakan.
Selain faktor kesegaran, kualitas juga menjadi pertimbangan. Seafood hasil tangkapan liar umumnya memiliki kandungan lemak jenuh lebih rendah dibandingkan hasil budidaya.
Diskon pada produk ini bisa jadi indikasi kualitas yang mulai menurun, terutama jika tidak disimpan dalam rantai dingin yang optimal.
Produk bakery sering didiskon menjelang akhir masa jualnya. Selain potensi tidak segar, makanan ini juga tinggi gula dan kalori.
Artinya, meskipun lebih murah, nilai kesehatannya tetap rendah dan tidak berubah.
Telur memang termasuk bahan pokok yang relatif tahan lama. Namun, harga yang terlalu murah patut dicurigai, terutama jika mendekati tanggal kedaluwarsa.
Selalu periksa kondisi fisik dan tanggal produksi sebelum membeli.
Produk susu sangat sensitif terhadap waktu dan suhu penyimpanan. Diskon besar biasanya berkaitan dengan masa kedaluwarsa yang sudah dekat.
Pastikan tanggal konsumsi masih cukup panjang agar tidak terbuang sia-sia.
Seperti susu, yoghurt—termasuk Greek yoghurt—memiliki umur simpan terbatas. Harga promo sering kali berarti produk harus segera dikonsumsi.
Secara psikologis, diskon memicu perilaku impulsif. Konsumen cenderung membeli lebih banyak karena merasa “untung”, meskipun tidak benar-benar membutuhkan.
Fenomena ini dikenal sebagai overbuying, yang justru berkontribusi pada pemborosan rumah tangga.
Dalam konteks global, limbah makanan menjadi isu serius. Berbagai studi menunjukkan bahwa rumah tangga menyumbang porsi besar food waste, salah satunya akibat pembelian berlebih saat promo.
Agar tetap hemat tanpa terjebak, berikut strategi yang bisa diterapkan:
Diskon memang bisa menjadi peluang menghemat, tetapi hanya jika digunakan secara bijak. Tanpa perencanaan, harga murah justru berujung pada pemborosan.
Memahami strategi di balik promo supermarket membantu konsumen mengambil keputusan yang lebih rasional—tidak hanya hemat di kasir, tetapi juga efisien dalam jangka panjang.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Chrisna Chanis Cara pada 12 Apr 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 13 Apr 2026
Bagikan