Waspada Tanah Bergerak: Ahli Geografi UMS Tekankan Mitigasi

Minggu, 22 Februari 2026 18:02 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1001390676.jpg
Prof Kuswaji Pakar Geografi UMS (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) – Fenomena tanah bergerak yang melanda wilayah Semarang, Tegal, dan berbagai daerah lain di Indonesia kian meresahkan masyarakat. Sebagai negara dengan curah hujan tinggi dan topografi berlereng, Indonesia menyimpan risiko besar yang menuntut kesiapsiagaan ekstra serta pengelolaan wilayah yang berkelanjutan.

Guru Besar Bidang Ilmu Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Kuswaji Dwi Priyono, M.Si., menjelaskan bahwa fenomena ini umumnya mengintai kawasan pegunungan vulkanik tua yang telah mengalami pelapukan tinggi. Kondisi tersebut diperparah oleh karakteristik tanah lempung yang mudah mengembang dan retak saat terkena air.

Bahaya Laten "Rayapan" Tanah

Menurut Prof. Kuswaji, masyarakat sering kali tidak menyadari bahwa pergerakan tanah tidak selalu terjadi secara mendadak seperti longsor besar.

“Tanah bergerak itu sebenarnya bisa terjadi pelan-pelan. Dalam ilmu kami disebut rayapan, pergerakannya lambat tetapi terus berlangsung,” jelasnya saat diwawancarai, Sabtu (21/2).

Ia memperingatkan bahwa retakan kecil di lereng atau lahan pertanian adalah alarm awal. Ketika air hujan masuk ke retakan tersebut, lapisan tanah menjadi jenuh, mempercepat pergerakan, dan berpotensi merusak infrastruktur serta permukiman.

Alih Fungsi Lahan Jadi Pemicu

Selain faktor geologis, aktivitas manusia memegang peran krusial dalam meningkatkan risiko bencana. Alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian atau permukiman menyebabkan daya serap air berkurang.
* Infiltrasi Air: Air hujan masuk dalam jumlah besar ke zona bawah tanah.
* Lapisan Lempung: Air mempercepat pergerakan lapisan lempung yang licin.
* Kepadatan Penduduk: Pemanfaatan wilayah lereng yang seharusnya menjadi kawasan lindung kini justru padat hunian.

Strategi Mitigasi: Jangan Hanya Fokus Darurat

Prof. Kuswaji mengkritik pola penanganan bencana yang selama ini cenderung reaktif atau hanya fokus pada saat kejadian (tanggap darurat). Ia menegaskan pentingnya penguatan pada tahap pra-bencana.

"Mitigasi harus dilakukan terus-menerus melalui penguatan masyarakat dan pengurangan risiko secara sistematis," tegasnya. Beliau juga mendorong pemerintah dan akademisi untuk lebih aktif mengevaluasi tata ruang serta memberikan edukasi agar warga mampu mengenali tanda-tanda awal pergerakan tanah.

Tips Sederhana: "Ronda Alam"

Sebagai langkah preventif, Prof. Kuswaji memberikan imbauan praktis bagi warga yang tinggal di wilayah pegunungan:
* Pantau Retakan: Rutin memeriksa kondisi struktur lereng dan lahan.
* Tutup Celah: Jika ditemukan retakan tanah, segera tutup agar air hujan tidak masuk ke lapisan dalam.
* Kewaspadaan Kolektif: Membangun budaya "ronda kondisi alam" layaknya ronda keamanan malam.

Dengan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan warga, diharapkan masyarakat Indonesia dapat hidup berdampingan dengan risiko bencana melalui pengetahuan dan kewaspadaan yang tinggi.