Summer Course 2026, FT UNS Hidupkan Candi Prambanan Lewat Teknologi Digital

Jumat, 17 Juli 2026 12:28 WIB

Penulis:Kusumawati

Editor:Redaksi

1001903832.jpg
Internasional Summer Course 2026 FT UNS (Soloaja)

SOLO (Soloaja.co) — Fakultas Teknik (FT) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta sukses menggelar The 2nd International Summer Course 2026. Program akademik internasional bertema "Reviving Prambanan Temple: Heritage Conservation, Structural Revival, and Digital Cultural Futures" ini berlangsung sejak 29 Juni hingga 17 Juli 2026 melalui metode bauran (daring dan luring).

Ketua Panitia, Dr. Ir. Galuh Chrismaningwang, S.T., M.T., menjelaskan bahwa kegiatan luring dipusatkan di FT UNS dan kawasan Candi Prambanan. Forum multidisiplin ini mempertemukan bidang teknik, arsitektur, teknologi digital, pelestarian warisan budaya, hingga pengelolaan kawasan.

Program ini diikuti oleh 85 peserta dari 12 negara dan 19 institusi. Keterlibatan peserta internasional mencapai 78,8 persen (67 orang), melampaui target awal sebesar 25 persen. 

Peserta berasal dari Malaysia (42 orang), Indonesia (18), Taiwan (6), Thailand (6), Nigeria (4), Pakistan (3), serta utusan dari Australia, Kenya, Filipina, Tanzania, Timor-Leste, dan Turkmenistan.

Dekan FT UNS, Prof. Dr. Ir. Wahyudi Sutopo, S.T., M.Si., didampingi Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Ir. Feri Adriyanto, S.Pd., M.Si., Ph.D., IPU, ASEAN Eng., mengapresiasi inovasi yang dihasilkan para mahasiswa.

"Melalui program ini, FT UNS berkontribusi nyata dengan memanfaatkan teknologi terbaru untuk menjaga keberlangsungan dan melestarikan situs sejarah yang kita miliki," jelas Prof. Wahyudi.

Eksplorasi Kawasan Pemukiman Kuno dan Mitigasi Bencana

Selama fase daring (29 Juni–3 Juli) dan luring (13–17 Juli), para peserta dibekali materi kebencanaan, *Internet of Things* (IoT), *Building Information Modeling* (BIM), hingga teknologi *digital twin*. Lima kelompok peserta mempresentasikan hasil proyek akhir mereka yang berfokus pada teknologi mitigasi risiko kegempaan, pemasangan sensor pemantau, pemindaian 3D dengan *drone*, serta metode *3D printing* untuk restorasi candi.

Menariknya, studi kasus ini juga mengungkap bahwa kawasan Candi Prambanan tidak sekadar menjadi tempat ibadah pada masa lampau. Reruntuhan batu di sisi utara candi diidentifikasi sebagai bekas perkampungan kuno yang memiliki area pemukiman hingga pusat pendidikan.

Pihak pengelola candi melalui PT Taman Wisata Candi (TWC/Injourney) saat ini tengah merencanakan revitalisasi menyeluruh untuk mengembalikan rupa kawasan tersebut. Meski sejarah menyebut Candi Rara Jonggrang dibangun dalam semalam, upaya restorasi ilmiah ini membutuhkan waktu panjang, biaya besar, serta kolaborasi lintas sektor yang kini diinisiasi oleh akademisi FT UNS.