Sukoharjo
Kamis, 10 September 2026 21:11 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

SUKOHARJO (Soloaja.co) — Suasana malam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di halaman Masjid Tombo Ati, Solo Baru, Sukoharjo, Kamis (10/09), berlangsung penuh kekhidmatan dan kehangatan budaya. Pengurus masjid bekerja sama dengan masyarakat setempat menggelar pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan menghadirkan lakon Bimo Suci yang dibawakan oleh Ki Dalang Anom Dwijo Kangko.
Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah pimpinan daerah dan tokoh masyarakat. Tampak hadir Gubernur Jawa Tengah yang diwakili oleh Pradana Agung Nugroho dari Kesbangpol Provinsi Jateng, Anggota DPRD Provinsi Jateng Sumarsono, Plt Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo, Dandim 0726/Sukoharjo Letkol Inf Reza Sahputra, Ketua DPRD Sukoharjo Nurjayanto, serta Ketua Forum Budaya Mataram (FBM) Dr. BRM Kusumo Putro, S.H., M.H.
Dalam sambutannya, Pradana Agung Nugroho menegaskan bahwa seni pertunjukan wayang kulit merupakan wujud nyata kearifan lokal yang diwariskan para wali dalam menyebarkan syiar Islam dengan pendekatan yang damai, sejuk, dan merangkul semua golongan.
"Melalui pendekatan budaya yang kreatif dan relevan, kita dapat memperkenalkan nilai-nilai keagamaan sekaligus menanamkan kecintaan terhadap budaya Nusantara kepada generasi penerus," ujar Pradana. Ia menambahkan bahwa lakon Bimo Suci serat akan pesan spiritual mendalam tentang pencarian jati diri, kebenaran sejati, kepatuhan murid kepada guru, serta penyerahan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pesan moral ini sejalan dengan ajaran Rasulullah SAW untuk senantiasa menyucikan hati dan memperbaiki akhlak.
Sementara itu, Plt Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo mengapresiasi metode dakwah berbasis kearifan lokal tersebut. "Dakwah tidak dilakukan dengan metode yang monoton, melainkan disesuaikan dengan adat dan kebiasaan masyarakat. Wayang adalah tontonan sekaligus tuntunan," tuturnya seraya berharap kehadiran Masjid Tombo Ati di pusat kota Solo Baru terus memberikan kontribusi besar bagi ketenteraman masyarakat.
Apresiasi senada disampaikan oleh Ketua Forum Budaya Mataram, Dr. BRM Kusumo Putro, S.H., M.H. Menurutnya, konsep dakwah melalui media tradisional seperti wayang kulit sangat efektif karena pesan-pesan kehidupan dan keagamaan yang disampaikan lebih mudah diserap dan dicerna oleh warga.
"Atas nama Forum Budaya Mataram mengapresiasi atas penyelenggaraan wayang kulit dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW ini, bahwa konsep dakwah dengan pertunjukan wayang kulit masih ditunggu masyarakat, buktinya acara ramai disaksikan warga, selain memberi hiburan juga upaya melestarikan budaya," Ungkap BRM Kusumo yang juga Ketua Umum Dewan Pemerhati dan Penyelamat Seni Budaya Indonesia (DPPSBI).
Sumarsono, anggota komisi A DPRD Provinsi Jateng ikut memberi apresiasi bahwa budaya salah satu pembentuk keluhuran budi pekerti dan salah satunya melalui pagelaran wayang kulit yang sarat filosofi apalagi bagi kita masyarakat Jawa.
"Dalam setiap pertunjukan wayang pasti memberikan nilai positif yang sarat dengan filosofi, apalagi dalam pagelaran wayang kulit kolaborasi banyak Seni mulai dari Seni musik, lakon, ukir, tatah singgung dan lainnya," Kata Sumarsono.
Lakon Bimo Suci (atau sering disebut Dewa Ruci) mengisahkan perjalanan spiritual Raden Werkudara (Bima) dalam mencari Tirta Perwitasari—air suci kehidupan—atas perintah gurunya, Resi Durna. Meskipun perintah tersebut sejatinya merupakan tipu daya yang membahayakan nyawanya, Bima melaksanakannya dengan penuh kepatuhan, keikhlasan, dan tekad yang bulat (mantob).
Dalam perjalanannya, Bima harus melewati berbagai rintangan berat, mulai dari bertarung melawan raksasa di Hutan Tikrabara hingga menyelami samudra luas. Di dasar samudra inilah Bima bertemu dengan Dewa Ruci, sosok dewa mungil yang menggambarkan hakikat sejati dari diri dan penciptanya.
Melalui petunjuk Dewa Ruci, Bima memahami hakikat Manunggaling Kawula Gusti—penghambaan total seorang hamba kepada Sang Pencipta serta pencapaian kesucian jiwa. Nilai-nilai kepatuhan, kejujuran, kerendahan hati, dan penyucian akhlak dalam lakon ini menjadi cermin spiritual yang sangat relevan dengan semangat meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW.
Bagikan