Kamis, 01 Oktober 2026 11:34 WIB
Penulis:Redaksi Daerah
Editor:Redaksi Daerah

JAKARTA —Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada pembukaan perdagangan Kamis, 1 Oktober 2026. Rupiah dibuka pada level Rp17.908 per dolar AS, melemah 0,08% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di Rp17.894 per dolar AS.
Pelemahan rupiah berlangsung di tengah tren negatif yang juga melanda sejumlah mata uang Asia. Berdasarkan data hingga pukul 09.00 WIB, seluruh mata uang yang tercatat dalam pemantauan tersebut mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat.
Yen Jepang mencatat penurunan paling dalam dengan pelemahan sebesar 0,47%. Diikuti won Korea Selatan dan baht Thailand yang masing-masing terkoreksi 0,26%.
Dolar Singapura terkoreksi 0,16%, disusul peso Filipina yang turun 0,13% dan ringgit Malaysia melemah 0,10%. Sementara itu, dolar Hong Kong turun tipis 0,001%.
BACA JUGA: Peringkat 5 Besar Negara dengan Paspor Terkuat di Dunia, Malaysia Nomor 2!
Pergerakan rupiah pada awal perdagangan hari ini menunjukkan tekanan yang relatif luas di kawasan Asia. Kondisi tersebut mengindikasikan sentimen eksternal masih menjadi perhatian pelaku pasar valuta asing.
Ketika dolar AS menguat terhadap berbagai mata uang regional, kebutuhan terhadap dolar dapat meningkat dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Pelemahan rupiah juga perlu dilihat dalam konteks pergerakannya dalam beberapa hari terakhir. Pada Selasa 29 September 2026, rupiah sempat menembus level Rp18.000 per dolar AS sebelum kembali menguat pada perdagangan Rabu 30 September 2026.
Namun, pada awal Oktober, rupiah kembali bergerak melemah meski masih berada di bawah level Rp18.000.
Memasuki kuartal IV 2026, pasar masih mencermati arah kebijakan moneter Amerika Serikat serta perkembangan ekonomi global yang dapat memengaruhi arus modal.
Ekspektasi terhadap kebijakan The Federal Reserve menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi daya tarik aset berbasis dolar. Perubahan ekspektasi tersebut kemudian dapat tercermin pada pergerakan nilai tukar mata uang Asia.
Bagi Indonesia, pergerakan rupiah juga akan dipengaruhi oleh respons Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar, arus modal asing, kebutuhan valuta asing, serta kondisi pasar keuangan domestik.
Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya barang dan bahan baku yang berasal dari luar negeri jika berlangsung secara berkelanjutan. Dampaknya terhadap harga konsumen bergantung pada struktur biaya dan seberapa besar kenaikan biaya impor diteruskan oleh pelaku usaha.
Pergerakan rupiah juga dapat memengaruhi biaya perjalanan ke luar negeri, pembayaran pendidikan atau layanan dalam dolar, serta transaksi lain yang menggunakan mata uang asing.
Investor perlu mencermati arah dolar AS dan pergerakan mata uang Asia pada awal kuartal IV. Selain itu, perkembangan kebijakan The Fed, imbal hasil obligasi AS, serta arus modal global tetap menjadi faktor penting bagi pasar valuta asing.
Di dalam negeri, kebijakan stabilisasi Bank Indonesia dan kondisi fundamental ekonomi Indonesia akan menjadi faktor yang menentukan daya tahan rupiah terhadap tekanan eksternal.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Chrisna Chanis Cara pada 01 Oct 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 01 Okt 2026
Bagikan