Kanker
Sabtu, 07 Februari 2026 11:47 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

SOLO (Soloaja.co) — Sebanyak 25 anak pejuang kanker berdiri dengan gagah mengenakan kostum cita-cita mereka di Ruang Sekar Jagad, RSUD Dr. Moewardi, Sabtu (7/2). Ada yang mengenakan seragam TNI, dokter, hingga kostum profesi lainnya.
Namun, hari itu mereka tidak sedang merayakan kelulusan sekolah, melainkan merayakan keberhasilan melewati masa pengobatan kemoterapi yang panjang dan melelahkan.
Gelaran tahunan bertajuk "Wisuda Survivor" yang diinisiasi oleh komunitas Childhood Cancer Care (3C) di bawah naungan Yayasan Tunas Sehat Indonesia (YTSI) ini menjadi simbol kemenangan bagi para penyintas. Dengan mata berkaca-kaca, para orang tua menyaksikan buah hati mereka menerima kalung medali dan vandel sebagai tanda apresiasi atas ketangguhan mereka melawan sakit.
Ketua Panitia, Umar Fahrudin, mengungkapkan bahwa wisuda ini merupakan bentuk dukungan moral yang krusial bagi psikologis anak.
"Pengobatan kanker memakan waktu enam bulan hingga dua tahun. Bagi mereka, rumah sakit sudah seperti sekolah. Maka, saat pengobatan selesai, mereka layak mendapatkan apresiasi layaknya wisudawan agar siap kembali ke masyarakat dengan rasa percaya diri," ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua KSM Anak RSUD Dr. Moewardi, dr. Septin Widiretnani, menjelaskan bahwa saat ini rumah sakit tersebut menangani sekitar 200 pasien anak, dengan kasus terbanyak adalah kanker darah dan kanker tulang.
Menurutnya, perjalanan medis yang panjang membutuhkan dukungan lingkungan yang nyaman dan suportif.
Selain aspek medis, keberadaan Rumah Singgah "Nenek Uti" yang dikelola YTSI menjadi tulang punggung bagi pasien luar kota. Sekretaris YTSI, dr. Suci Widhiati, menyebutkan rumah singgah tersebut saat ini menampung sekitar 45 anak secara gratis.
"Kami menyediakan fasilitas tempat tinggal dan kebutuhan pokok bagi keluarga pasien yang menjalani terapi jangka panjang agar mereka tidak terbebani biaya hidup selama di Solo," jelasnya.
Momentum haru memuncak saat Trias Febri, seorang alumni penyintas, memberikan motivasi kepada para fighter (pasien yang masih menjalani pengobatan). "Saya tidak bisa sampai di titik ini tanpa dukungan dokter dan relawan 3C. Teman-teman yang masih berjuang, jangan menyerah, kami selalu ada untuk kalian," tuturnya penuh semangat.
Wakil Walikota Surakarta, Astrid Widayani, yang hadir secara langsung mengapresiasi keberanian para pejuang cilik dan keteguhan para orang tua. Dalam sambutannya, ia menegaskan komitmen Pemerintah Kota Surakarta untuk terus menghadirkan lingkungan yang inklusif dan ramah bagi anak-anak dengan riwayat penyakit serius.
"Kalian adalah pejuang sejati. Wisuda ini bukan sekadar tanda selesainya pengobatan, melainkan awal bagi kalian untuk kembali bermimpi setinggi langit. Pengalaman ini akan menjadikan kalian pribadi yang kuat dan penuh empati," tegas Astrid.
Acara ini ditutup dengan tawa bahagia dan foto bersama, mengingatkan publik bahwa di balik bangsal rumah sakit, selalu ada harapan yang terus dipupuk oleh kepedulian bersama.
Bagikan