UIN Raden Mas Said
Jumat, 13 Maret 2026 21:03 WIB
Penulis:Kusumawati
Editor:Redaksi

SOLO (Soloaja.co) – Perdebatan mengenai penentuan awal bulan Qomariyah melalui metode hisab (perhitungan) dan rukyatul hilal (pengamatan) kembali mengemuka menjelang akhir Ramadan 1447 Hijriah. Pakar Ilmu Falak dari UIN Raden Mas Said Surakarta, Dr. Muhammad Himmatur Riza, mengisyaratkan adanya potensi perbedaan hari Lebaran tahun ini di Indonesia.
Dalam keterangannya di Gedung Rektorat kampus Pucangan Kartasura, Kamis (12/3/2026), pria yang akrab disapa Riza ini menjelaskan bahwa posisi hilal pada saat matahari terbenam hari Kamis, 19 Maret 2026, menjadi titik krusial penentuan 1 Syawal.
Analisis Astronomis: Hilal Terlalu Rendah
Berdasarkan perhitungan astronomis, Riza memaparkan bahwa pada 19 Maret mendatang, matahari diperkirakan terbenam pukul 18.52 WIB. Pada momen tersebut, posisi hilal memang sudah berada di atas ufuk, namun dalam kondisi yang sangat tipis dan rendah.
"Ketinggian hilal diperkirakan hanya sekitar 1 derajat 35 menit 13 detik dengan elongasi 5 derajat 36 menit 45,02 detik. Secara teknis, hilal sudah ada, tapi kemungkinannya sangat kecil untuk bisa terlihat secara kasat mata maupun alat bantu," ungkap Riza.
Benturan dengan Kriteria MABIMS
Potensi perbedaan ini muncul karena Indonesia mengacu pada kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Standar visibilitas hilal (imkan rukyat) yang disepakati adalah:
* Ketinggian minimal: 3 derajat.
* Elongasi minimal: 6,4 derajat.
Dengan parameter tersebut, posisi hilal pada 19 Maret 2026 masih berada di bawah batas minimal. Terdapat selisih sekitar 1,41 derajat untuk ketinggian dan 0,78 derajat untuk elongasi dari standar yang ditetapkan.
Peluang Istikmal (Penggenapan)
Riza menilai selisih angka tersebut cukup signifikan dalam praktik rukyat di lapangan. Jika hilal gagal terlihat akibat posisinya yang terlalu rendah, maka ada kemungkinan besar bulan Ramadan tahun ini akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).
"Ilmu falak bukan hanya soal penentuan bulan baru, tapi juga akurasi waktu shalat dan arah kiblat. Untuk 1 Syawal nanti, masyarakat perlu bersiap dengan kemungkinan hasil pengamatan yang berbeda dengan penghitungan metode tertentu," pungkasnya.
Bagikan